Oleh : Misbahudin
*Proses Lahirnya Ilmu-Ilmu Al-Qur’an*
Ketika para sahabat hidup bersama Rasulullah,
maka hal-hal apapun dapat dengan mudah ditanyakan langsung kepada beliau, Ketika
ada hal-hal yang mengganjal dalam hati mereka tentang suatu hal, tidak
terkecuali mengenai ayat Al-Qur’an yang masih samar-samar bagi mereka. Seperti
halnya Ketika turun surat Al-An’am ayat 82. “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka
dengan kedzaliman” (QS. Al-An’am: 82).
Maka ayat tersebut membuat sesak dada para
sahabat karena begitu berat terasa tuntutan dari Ayat tersebut, Maka Sahabatpun
memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, _“Wahai Rasulullah,
siapakah diantara kita yang tidak pernah mendzalimi diri mereka sendiri?”_, Rasul pun menjawab, _“ kedzaliman disini
bukanlah kedzaliman yang kalian maksud”_, tidakkah kau pernah mendengar
ucapan seorang hamba yang shaleh, “ “Sesungguhnya kesyirikan adalah
kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman :13). Sesugguhnya yang dimaksud
kedzaliman itu adalah kesyirikan.
Di lain waktu, terkadang Rasulullah langsung
menjelaskan maksud dari sebuah ayat untuk memberikan pemahaman secara spesifik
kepada para sahabatnya. Sebagaimana hadits
yang riwayatkan dari imam muslim dan
yang lainnya, bersumber dari ‘Uqbah Bin Amir. Beliau menceritakan, bahwa pernah mendengar
Rasulullah berkata diatas mimbar, _“Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi”_
(Al-Anfal:60), kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud kekuatan disini adalah memanah.
Tetapi seiring berjalannya waktu, akses umat Islam
untuk memahami Islam dan Al-Qur’an menjadi terbatas, sepeninggalan para mufasir
dari kalangan sahabat, sehingga di zaman tabi’ib dari kalangan ahli hadits ada
sebuah ikhitar untuk penyusunan tafsir
Al-Qur’an, dimana mereka masukannya dalam dalam sala satu bab kitab haditsnya,
sebagai upaya agar umat Islam di jamannya mendapat pencerahan mengenai
ayat-ayat Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir.
Ketika qurun ketiga hijriah, lahirlah kitab
tafsir secara tersendiri dan lengkap yang dipelopori oleh *Ibnu Jarir
Ath-Thabari* (wafat tathun310 H). Maka
dalam penafsiran Al-Qur’an dikebutuhan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
Al-Qur’an untuk mengkontektualisasikan Al-Qur’an secara sempurna, utuh dan
mendalam dalam kehidupan.
Ilmu-ilmu Al-Qur’an atau yang sering disebut ‘ulumul
Qur’an sangat dibutuhkan oleh para mufasir, diantara ilmu-ilmu Al-Qur’an itu adalah
ilmu tentang _asbabu nuzul_, ilmu tentang pengumpulan dan kodifikasi
Al-Qur’an, ilmu tentang ayat-ayat _makiah_ dan _madaniah_, ilmu
tentang _nasihk wal mansukh_, ilmu tentang ayat-ayat _muhkam_ dan
ayat-ayat _mutasabih_, dan ilmu yang lainnya yang berkaitan dengan
Al-Qur’an.
*Menggeliatnya Ilmu-Ilmu Al-Qur’an*
Kebutuhan para ulama dan thalabul ‘ilmi berkaitan dengan ilmu-ilmu
Al-Qur’an. Mendorong Sebagian ‘ulama untuk membuat sebuah karya tulis berkaitan dengan
ilmu-ilmu tersebut. Maka sekitar qurun ke tiga, empat hijrah sampai era modern lahirkan karya-kara _phenomenal_
yang berkaitan dengan ilmu-ilmu
Al-Qur’an, diantaranya adalah :
*Karya Ulama Pada Abad Ketiga Hijrah*
1. ‘Ali Ibnu
Al-Madani, gurunya imam Bukhari (wafat
234 H) mengarang tentang _”asbabu nuzul Al-Qur’an”_.
2. Abu ‘Ubaid
Al-Qasim Ibnu Salam (wafat 224 H) mengarakan kitan tentang _”ilmu nasikh wal
Mansukh”_ dan _” ilmu qiraat”_.
3. Ibnu
Qutaibah (wafat :276 H) Mengarang kitab _musykil
Al-Qur’an_.
*Karya
Ulama Pada Abad Ke Empat Hijrah*
1. Muhammad Ibnu
Khalaf Ibnu Marzaban (wafat 309 hijriyah) Mengarang kitab _”Al-Jawi fi ‘ulumil Qur’an”_.
2. Abu Bakar
Muhammad Ibnu Qasim Al-Anbari (wafat 328 H) Menyusun kitab _”’ulumul Qur’an”_
3. Abu Bakar As-Sijistani
(wafat 330 H) Menyusun kitab _”Gharibil Qur’an”_.
4. Muhammad
Ibnu ‘Ali Al-Adfawi (wafat 388 H) Menyusun kitab _”Al-Istighna fi ‘ulum
Al-Qur’an”_.
*Karya Ulama Pada Abad Ke Lima Sampai Ke
Tujuh Hijriah*
1. Abu Bakar
Al-Baqilani (wafat 403 H) menulis kitab _”I’jazul Qur’an”_
2. ‘Ali Ibnu
Ibrahim ibnu Sa’id Al-Hufi (wafat 430 H) menulis kitab _”I’rabul
Qur’an”_
3. Al-Mawardi
(wafat 450 H) menulis kitab _”Amtsalul Qur’an”_
4. Al-‘Izzu
Ibnu Abdu Salam (wafat 660 H) menulis
kitab _”majazil Qur’an”_
5. ‘Alamudien Sakhawi
(wafat 643 H) menulis kitab _”’ilmu qiraat”_
6. Ibnu Qayyim
(wafat 751 H) menulis kitab _”Aqsamul Qur’an”_.
*Ibrahim Ibnu Sa’id Penulis Kitab ‘Ulum
Qur’an Terlengkap*
Syekh Muhammad ‘Abdul ‘Adhim Azarqani dalam
kitabnya _”Manahi Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an”_ menceritakan bahwanya dia menemukan di
perpustkan Darul Kutub Mesir karya
tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an secara lengkap, terdiri dari 30 jilid, dari 30
jilid didapati 15 jilid yang tidak
tersusun secara sistemastis dan berurutan.
Ditulis oleh Ibrahim Ibnu Sa’id
atau yang lebih popeler dengan sebutan “Al-Hufi”.
Al-Hufi membahas ilmu-ilmu Al-Qur’an secara
sistematis sesuai dengan judul secara sendiri-sendiri dalam setiap jilid. Tentang tema umum dalam sebuah ayat. Beliau
menuliskan _“ Pendapat mengenai Firman Allah ‘Aza wajala”_, kemudian
disusul dengan penjesan dalam perfektif Nahwiyyah dan Bahasa, selanjutnya
diungkapkan pendapat tentang makna dan tafsir, kemudian menguatkan pejelasannya
dengan Riwayat hadits dan mengkontektualisasikannya dengan Ijtihad penalaran
beliau.
Kemudian _“Qaul fi waqaf wa tamam” _ didalamnya dijelaskan tentang
tempat-tempat berhenti (waqaf) dan dimana tidak boleh berhenti. Dan untuk ilmu
qira’ah, beliau membuat judul tersendiri _”Al-Qaul Fil Qiraat”_, dan
terkadang beliau membicarakan tentang hukum yang diambil dari ayat
ketika sebuah ayat dibahas.
Oleh karena itu, Al-Hufi dengan metodologi penulis karangan ilmiah seperti diatas, dinobatkan
menjadi pionir ulama yang menyusun
‘ulumul qur’an secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial mengenai salah satu
ilmu saja. Metodologi penyusunan
ilmu-imu Al-Qur’an Al-Hufi ini,
mendorong Ibnu Jauzi (wafat 597) untuk
melakukan hal yang sama untuk membuat sebuah karya tulis dan memberikan judul _”Funun
Al-Afnan Fi ‘Azaibil ‘Ulumul Qur’an”_.
Kemudian tampil dari generasi selanjutnya,
Badrudien Az-Zarkasyi (wafat 794 H) Menyusun karya yang lengkap dan sempurna yang diberi nama _“ Al-Burhan
Fi ‘Ulumul Qur’an”_. Kemudian, Jalaludien As-Suyuti (wafat 911 H) memberikan tambahan untuk kitab
tersebut , kemudian karyanya diberi nama
_”Al-Itqan fi ‘ulumul Qur’an”_.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar