Rabu, 21 Oktober 2020

ILMU-ILMU AL-QUR’AN

 

Oleh : Misbahudin

 

*Proses Lahirnya Ilmu-Ilmu Al-Qur’an*

 

Ketika para sahabat hidup bersama Rasulullah, maka hal-hal apapun dapat dengan mudah ditanyakan langsung kepada beliau, Ketika ada hal-hal yang mengganjal dalam hati mereka tentang suatu hal, tidak terkecuali mengenai ayat Al-Qur’an yang masih samar-samar bagi mereka. Seperti halnya Ketika turun surat Al-An’am ayat 82. “ Sesungguhnya  orang-orang yang beriman  mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kedzaliman” (QS. Al-An’am: 82).

 

Maka ayat tersebut membuat sesak dada para sahabat karena begitu berat terasa tuntutan dari Ayat tersebut, Maka Sahabatpun memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, _“Wahai Rasulullah, siapakah diantara kita yang tidak pernah mendzalimi diri mereka sendiri?”_,  Rasul pun menjawab, _“ kedzaliman disini bukanlah kedzaliman yang kalian maksud”_, tidakkah kau pernah mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh, “ “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman :13). Sesugguhnya yang dimaksud kedzaliman itu adalah kesyirikan.

 

Di lain waktu, terkadang Rasulullah langsung menjelaskan maksud dari sebuah ayat untuk memberikan pemahaman secara spesifik kepada para sahabatnya. Sebagaimana  hadits yang riwayatkan dari  imam muslim dan yang lainnya, bersumber dari ‘Uqbah Bin Amir.  Beliau menceritakan, bahwa pernah mendengar Rasulullah  berkata diatas mimbar, _“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi”_ (Al-Anfal:60), kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud  kekuatan disini adalah memanah.

 

Tetapi seiring berjalannya waktu, akses umat Islam untuk memahami Islam dan Al-Qur’an menjadi terbatas, sepeninggalan para mufasir dari kalangan sahabat, sehingga di zaman tabi’ib dari kalangan ahli hadits ada sebuah ikhitar  untuk penyusunan tafsir Al-Qur’an, dimana mereka masukannya dalam dalam sala satu bab kitab haditsnya, sebagai upaya agar umat Islam di jamannya mendapat pencerahan mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir.

 

Ketika qurun ketiga hijriah, lahirlah kitab tafsir secara tersendiri dan lengkap yang dipelopori oleh *Ibnu Jarir Ath-Thabari* (wafat tathun310 H).  Maka dalam penafsiran Al-Qur’an dikebutuhan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an untuk mengkontektualisasikan Al-Qur’an secara sempurna, utuh dan mendalam dalam kehidupan.

 

Ilmu-ilmu Al-Qur’an atau yang sering disebut ‘ulumul Qur’an sangat dibutuhkan oleh para mufasir, diantara ilmu-ilmu Al-Qur’an itu adalah ilmu tentang _asbabu nuzul_, ilmu tentang pengumpulan dan kodifikasi Al-Qur’an, ilmu tentang ayat-ayat _makiah_ dan _madaniah_, ilmu tentang _nasihk wal mansukh_, ilmu tentang ayat-ayat _muhkam_ dan ayat-ayat _mutasabih_, dan ilmu yang lainnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an.

 

*Menggeliatnya Ilmu-Ilmu Al-Qur’an*

 

Kebutuhan para ulama  dan thalabul ‘ilmi berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Mendorong  Sebagian ‘ulama  untuk membuat sebuah karya tulis berkaitan dengan ilmu-ilmu tersebut. Maka sekitar qurun ke tiga, empat hijrah  sampai era modern lahirkan karya-kara _phenomenal_  yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an, diantaranya adalah : 

 

*Karya Ulama Pada Abad Ketiga Hijrah*

 

1.      ‘Ali Ibnu Al-Madani, gurunya imam Bukhari  (wafat 234 H) mengarang tentang _”asbabu nuzul Al-Qur’an”_.

2.      Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam (wafat 224 H) mengarakan kitan tentang _”ilmu nasikh wal Mansukh”_ dan _” ilmu qiraat”_.

3.      Ibnu Qutaibah (wafat :276 H) Mengarang  kitab _musykil Al-Qur’an_.

 

 *Karya Ulama Pada Abad Ke Empat Hijrah*

 

1.      Muhammad Ibnu Khalaf Ibnu Marzaban (wafat 309 hijriyah) Mengarang  kitab _”Al-Jawi fi ‘ulumil Qur’an”_.

2.      Abu Bakar Muhammad Ibnu Qasim Al-Anbari (wafat 328 H) Menyusun kitab _”’ulumul Qur’an”_

3.      Abu Bakar As-Sijistani (wafat 330 H) Menyusun kitab _”Gharibil Qur’an”_.

4.      Muhammad Ibnu ‘Ali Al-Adfawi (wafat 388 H) Menyusun kitab _”Al-Istighna fi ‘ulum Al-Qur’an”_.

 

*Karya Ulama Pada Abad Ke Lima Sampai Ke Tujuh Hijriah*

 

1.      Abu Bakar Al-Baqilani (wafat 403 H) menulis kitab _”I’jazul Qur’an”_

2.      ‘Ali Ibnu Ibrahim ibnu Sa’id  Al-Hufi  (wafat 430 H) menulis kitab _”I’rabul Qur’an”_

3.      Al-Mawardi (wafat 450 H) menulis kitab _”Amtsalul Qur’an”_

4.      Al-‘Izzu Ibnu Abdu Salam  (wafat 660 H) menulis kitab _”majazil Qur’an”_

5.      ‘Alamudien Sakhawi (wafat 643 H) menulis kitab _”’ilmu qiraat”_

6.      Ibnu Qayyim (wafat 751 H) menulis kitab _”Aqsamul Qur’an”_.

 

*Ibrahim Ibnu Sa’id Penulis Kitab ‘Ulum Qur’an Terlengkap*

 

Syekh Muhammad ‘Abdul ‘Adhim Azarqani dalam kitabnya _”Manahi Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an”_  menceritakan bahwanya dia menemukan di perpustkan Darul Kutub Mesir  karya tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an secara lengkap, terdiri dari 30 jilid, dari 30 jilid didapati 15 jilid  yang tidak tersusun secara sistemastis dan berurutan.  Ditulis oleh  Ibrahim Ibnu Sa’id atau yang lebih popeler dengan sebutan “Al-Hufi”.

 

 Al-Hufi membahas ilmu-ilmu Al-Qur’an secara sistematis sesuai dengan judul secara sendiri-sendiri dalam setiap jilid.  Tentang tema umum dalam sebuah ayat. Beliau menuliskan _“ Pendapat mengenai Firman Allah ‘Aza wajala”_, kemudian disusul dengan penjesan dalam perfektif Nahwiyyah dan Bahasa, selanjutnya diungkapkan pendapat tentang makna dan tafsir, kemudian menguatkan pejelasannya dengan Riwayat hadits dan mengkontektualisasikannya dengan Ijtihad penalaran beliau.

 

Kemudian _“Qaul fi waqaf  wa tamam” _ didalamnya dijelaskan tentang tempat-tempat berhenti (waqaf) dan dimana tidak boleh berhenti. Dan untuk ilmu qira’ah, beliau membuat judul tersendiri _”Al-Qaul Fil Qiraat”_, dan terkadang beliau membicarakan tentang hukum yang diambil  dari ayat  ketika sebuah ayat dibahas.

 

 

Oleh karena itu, Al-Hufi  dengan metodologi penulis  karangan ilmiah seperti diatas, dinobatkan menjadi  pionir ulama yang menyusun ‘ulumul qur’an secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial mengenai salah satu ilmu saja.  Metodologi penyusunan ilmu-imu Al-Qur’an  Al-Hufi ini, mendorong  Ibnu Jauzi (wafat 597) untuk melakukan hal yang sama untuk membuat sebuah karya tulis dan memberikan judul _”Funun Al-Afnan Fi ‘Azaibil ‘Ulumul Qur’an”_.

 

Kemudian tampil dari generasi selanjutnya, Badrudien Az-Zarkasyi (wafat 794 H) Menyusun karya yang lengkap  dan sempurna yang diberi nama _“ Al-Burhan Fi ‘Ulumul Qur’an”_.  Kemudian,  Jalaludien As-Suyuti  (wafat 911 H) memberikan tambahan untuk kitab tersebut , kemudian  karyanya diberi nama _”Al-Itqan fi ‘ulumul Qur’an”_.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar