Sabtu, 17 Oktober 2020

*PARA PENGGAWA AL-QUR’AN DALAM PUTARAN ZAMAN*

 

Oleh : Misbahudin

 

 

*Janji Kebahagiaan Bagi Mereka Para Penggawa Al-Qur’an*

 

Bayangkan jika terpilih menjadi salah satu penggawa Al-Qur’an, atau kita diberikan pasangan dan keturunan yang menjadi penggawa Al-Qur’an, pasti ada sebuah rasa kebahagiaan dan kepuasaan hati tiada tara, sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan hitungan materi.

 

Sebuah “sensasi” kebahagiaan yang menerobos dimensi dunia yang fana ini menuju sebuah janji yang hakiki di akhirat kelak.  bagi mereka yang senantia mengistiqomahkan diri bercengkraman dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an pun  tidak akan membiarkannya begitu saja di akhirat kelak, Al-Qur’an akan menjadi penolongnya disaat istri, anak-anak dan saudara tidak bisa memberikan pertolongan sedikitpun.

 

“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804].

 

Para Penggawa Al-Qur’an bukan saja mereka para hafidz Qur’an, tetapi juga mereka yang senanttiasa membaca, mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena tujuan akhir dari Al-Qur’an diturunkan, bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk digali Mutiara yang terpendam didalamnya, sehingga dapat menyinari relung-relung jiwanya dan memberikan petunjuk untuk  hidup dan kehidupan dirinya dan orang lain.  Allah pun memberikan janji kebahagiaan bagi mereka  dan bagi orang tua yang memiki anak yang shaleh yang tidak bisa hatinya lepas dari Al-Qur’an.

 

_“Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak di hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Maka Kedua orang tuanya bertanya: ’Mengapa kami diberi pakian kemuliaan seperti ini?’ Dijawab: ’Karena anak kalian berdua belajar dan menghafal Al Qur’an.”. ’ (Mustadrak Al Hakim 1/568. Dihasankan Al Albani dlm As Shahihah no.2914).

 

*Para Penggawa Mufasir  Al-Qur’an Di Kalangan Para Sahabat*

 

Para penggawa Al-Qur’an akan senantiasa ada akan senantiasa  hadir dalam setiap episode putaran zaman,  dari semenjak Al-Qur’an diturunkan,  para penggawa itu  senantiasa hadir, berlomba-lomba  untuk berusaha menjadi manusia pilihan Allah yang berusaha menyinari  hatinya dengan cahaya firman-Nya dan berusaha agar cahaya itu dapat  menyinari dan mewarnai kehidupan.

 

Adapun Para penggawa mufasir  Al-Qur’an yang masyhur  dari kalangan para sahabat  adalah *khulafah Ar-rasyidin : Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin kaab, Zaid bin tsabit, Abu Musa Al- Asyari, Abdullah bnu Zubair*.

 

Abdullah Ibnu Abbas adalah sosok sahabat Rasulullah yang paling banyak riwayat yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an, dilanjutkan Abdullah ibnu mas’ud dan Ubay bin ka’ab. Apa yang diriwayatkan dari mereka tidaklah mencakup tafsir Al-Qur’an secara menyeluruh dan utuh, melainkan hanya Sebagian makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan tafsir ayat Al-Qur’an yang masih samar,  dan ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global).

 

*Para Penggawa Mufasir  Al-Qur’an dari Kalangan Tabi’in*

 

Generasi setelah sahabat, yaitu generasi Tab’in mereka tidak mau kalah dalam berlomba-lomba menjadi hamba pilihan Allah untuk menjadi para penggawa Al-Qur’an agar Al-Qur’an bisa dipahami dan ditafsirkan dalam kontektualisasi jaman yang dihadapi  dengan bimbingan tafsiran dari para pendahulnya.  Tabi’in  menimba dan mempelajari tafsir Al-Qur’an itu   dari generasi sahabat dan merekapun melakukan sebuah  ijtihad untuk memahami Sebagian ayat Al-Qur’an sesuai dengan  kontek jaman mereka.  

 

Para penggawa Al-Qur’an dari kalangan tabi’in mereka adalah murid-murid emas dari para mufasir dari kalangan sahabat. Kita dalam membuat gambaran genologi ilmu tafsir sebagai berikut.  

 

*Pertama*, Murid-murid Ibnu Abbas di Mekah seperti : *Sa’id Ibnu Zubair, Mujahid, ‘Ikrimah Mantan Budak Ibnu Abbas, Thawus Ibnu Kiisan Al Yamani, ‘Atha Ibnu Abi Robah*.

 

*Kedua*, Murid-murid Ubay bin ka’ab di Madinah  adalah *Zaid Bin Aslam, Abu ‘Aliyah, Muhammad ibnu Ka’ab Al-Quradhi*.

 

*Ketiga*, Murid-murid dari Abdullah Ibnu Mas’ud di irak adalah *‘alqomah ibnu Qais, Maruq, Aswad Ibnu Yajid, ‘Amir Asy-sya’bi,  Hasan Al-Basri, dan Qatadah ibnu di’amah as-sadusi*.

 

Ibnu Taimiyyah mengomentari genologi para penggawa Al-Qur’an dengan sebuah diksi dalam kitabnya _Muqodimmah Ibnu Taimiyyah fi ushuli tafsir_, *“Dalam bidang keilmuan yang berkaitan dengan ilmu tafsir, mereka yang paling tahu tentang ilmu tersebut adalah ahli makah, karena mereka adalah murid-murid Ibnu Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha Ibnu Abi Rabah, ‘iqrimah maula ibnu abbas, dan murid  ibnu abbas yang lainnya seperti thawus, Abi Sya’tsa, sa’id ibnu Zubair.  Demikian juga  penduduk kufah  dari murid ibnu mas’ud, mereka mempunyai kelebihan dan keistimewaan dari pada yang lainnya, dan ulama tafsir dari penduduk Madinah adalah Zaid bin aslam, dan malik dan anaknya Abdurrahman  yang mereka belajar darinya dan Abdullah ibnu wahhab. Muqoadimmah ibnu Taimiyyah  fi ushul at tafsir”*.

 

Adapun luang lingkup  dari apa yang diriwayatkan dari mereka mencakup ilmu fafsir, ilmu gharibul Qur’an, ilmu asbabu nuzul, ilmu maki wal madani, ilmu nasikh wal Mansukh,  semua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an itu tetap bersandar kepada Riwayat secara talaqi (face to face).

 

*Perkembangan dan Munculnya Literasi Keilmuan Al-Qur’an*

 

Embrio kemunculan dan perkembangan literasi yang berkaitan dengan keilmuan Al-Qur’an dimulai  pada abad ke dua  hijriyah. Dalam perkembangn keilamuan Al-Qur’an ini dapat kita  bagi menjadi dua periode, yaitu

 

Periode pertama, diawali dengan  pembukuan hadits dengan bab yang bermacam-macam dan itu diantaranya ada bab berkaitan  dengan  tafsir Al-Qur’an  yang bersumber dari Rasulullah sendiri , penjelasan Para sahabat, dan Tabiin.

 

Diantara mereka yang terkenal adalah Yazid Ibnu Harun As-sulami (wafat 117 H), Syu’bah Ibnu Hajaj ( wafat 160 H),  Waki’ Ibnu Jarrah (wafat 197 H),  Sufyan Ibnu Uyainah ( wafat 198 H), ‘Abdu Razaq Ibnu Hammam  (wafat 211 H), mereka semua adalah para ahli hadits,   mereka mentafsirkan Al-Qur’an dengan  memasukannya  menjadi salah satu bab dari kitab hadits mereka. Dan  tafsir mereka tidak ada yang sampai kepada kita kecuali tulisan tafsir  Abdu Rozaq Ibnu Hamam.

 

Periode kedua, pada periode ini  Sebagian ulama memainkan peran  penyambung estafeta keilmuan atau genologi keilmuan al-Qur’an dengan sebuah terobosan Menyusun kitab  tafsir secara sempurna, sistematis, dan pembahsan yang tertib ayat demi ayat.  Hal ini  diprakarsai oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).

 

Demikianlah perkembangan awal  tafsir Al-Qur’an  bermula dengan metode  talaqi, kemudian masuk ke periode Tadwin atau pembukuan kitab tafsir yang dimulai oleh para ahli hadits yang memasukan tafsir dalam salah satu bab kita hadits, kemudian perkembangan selanjutnya tafsir Al-Qur’an dibukuan secara tersendiri dan mandiri, maka  lahirlah tafsir bin ma’tsur (tafsir  berdasarkan Riwayat) dan kemudian lahirlah tafsir biro’yi.

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial



Tidak ada komentar:

Posting Komentar