Oleh :
Misbahudin
*Janji Kebahagiaan Bagi Mereka Para Penggawa
Al-Qur’an*
Bayangkan jika terpilih menjadi salah satu
penggawa Al-Qur’an, atau kita diberikan pasangan dan keturunan yang menjadi penggawa
Al-Qur’an, pasti ada sebuah rasa kebahagiaan dan kepuasaan hati tiada tara,
sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan hitungan materi.
Sebuah “sensasi” kebahagiaan yang menerobos
dimensi dunia yang fana ini menuju sebuah janji yang hakiki di akhirat kelak. bagi mereka yang senantia mengistiqomahkan
diri bercengkraman dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an pun tidak akan membiarkannya begitu saja di
akhirat kelak, Al-Qur’an akan menjadi penolongnya disaat istri, anak-anak dan saudara
tidak bisa memberikan pertolongan sedikitpun.
“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia
(Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi
orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804].
Para Penggawa Al-Qur’an bukan saja mereka
para hafidz Qur’an, tetapi juga mereka yang senanttiasa membaca, mempelajari
dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena tujuan akhir dari
Al-Qur’an diturunkan, bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk digali Mutiara
yang terpendam didalamnya, sehingga dapat menyinari relung-relung jiwanya dan memberikan
petunjuk untuk hidup dan kehidupan dirinya
dan orang lain. Allah pun memberikan janji
kebahagiaan bagi mereka dan bagi orang
tua yang memiki anak yang shaleh yang tidak bisa hatinya lepas dari Al-Qur’an.
_“Barangsiapa yang membaca Al Qur’an,
mempelajarinya dan mengamalkannya kelak di hari kiamat dikenakan mahkota dari
cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang
tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tidak bisa
dinilai dengan dunia. Maka Kedua orang tuanya bertanya: ’Mengapa kami
diberi pakian kemuliaan seperti ini?’ Dijawab: ’Karena anak kalian berdua
belajar dan menghafal Al Qur’an.”. ’ (Mustadrak Al Hakim 1/568. Dihasankan Al
Albani dlm As Shahihah no.2914).
*Para Penggawa Mufasir Al-Qur’an Di Kalangan Para Sahabat*
Para penggawa Al-Qur’an akan senantiasa ada akan
senantiasa hadir dalam setiap episode
putaran zaman, dari semenjak Al-Qur’an
diturunkan, para penggawa itu senantiasa hadir, berlomba-lomba untuk berusaha menjadi manusia pilihan Allah
yang berusaha menyinari hatinya dengan
cahaya firman-Nya dan berusaha agar cahaya itu dapat menyinari dan mewarnai kehidupan.
Adapun Para penggawa mufasir Al-Qur’an yang masyhur dari kalangan para sahabat adalah *khulafah Ar-rasyidin : Abu Bakar,
Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu
Abbas, Ubay bin kaab, Zaid bin tsabit, Abu Musa Al- Asyari, Abdullah bnu Zubair*.
Abdullah Ibnu Abbas adalah sosok sahabat
Rasulullah yang paling banyak riwayat yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an, dilanjutkan
Abdullah ibnu mas’ud dan Ubay bin ka’ab. Apa yang diriwayatkan dari mereka
tidaklah mencakup tafsir Al-Qur’an secara menyeluruh dan utuh, melainkan hanya Sebagian
makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan tafsir ayat Al-Qur’an yang masih
samar, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang
masih mujmal (global).
*Para Penggawa Mufasir Al-Qur’an dari Kalangan Tabi’in*
Generasi setelah sahabat, yaitu generasi
Tab’in mereka tidak mau kalah dalam berlomba-lomba menjadi hamba pilihan Allah
untuk menjadi para penggawa Al-Qur’an agar Al-Qur’an bisa dipahami dan
ditafsirkan dalam kontektualisasi jaman yang dihadapi dengan bimbingan tafsiran dari para
pendahulnya. Tabi’in menimba dan mempelajari tafsir Al-Qur’an itu dari generasi sahabat dan merekapun melakukan
sebuah ijtihad untuk memahami Sebagian
ayat Al-Qur’an sesuai dengan kontek
jaman mereka.
Para penggawa Al-Qur’an dari kalangan tabi’in
mereka adalah murid-murid emas dari para mufasir dari kalangan sahabat. Kita
dalam membuat gambaran genologi ilmu tafsir sebagai berikut.
*Pertama*, Murid-murid Ibnu Abbas di Mekah
seperti : *Sa’id Ibnu Zubair, Mujahid, ‘Ikrimah Mantan Budak Ibnu Abbas,
Thawus Ibnu Kiisan Al Yamani, ‘Atha Ibnu Abi Robah*.
*Kedua*, Murid-murid Ubay bin ka’ab di
Madinah adalah *Zaid Bin Aslam, Abu
‘Aliyah, Muhammad ibnu Ka’ab Al-Quradhi*.
*Ketiga*, Murid-murid dari Abdullah Ibnu Mas’ud
di irak adalah *‘alqomah ibnu Qais, Maruq, Aswad Ibnu Yajid, ‘Amir
Asy-sya’bi, Hasan Al-Basri, dan Qatadah
ibnu di’amah as-sadusi*.
Ibnu Taimiyyah mengomentari genologi para
penggawa Al-Qur’an dengan sebuah diksi dalam kitabnya _Muqodimmah Ibnu Taimiyyah
fi ushuli tafsir_, *“Dalam bidang keilmuan yang berkaitan dengan ilmu
tafsir, mereka yang paling tahu tentang ilmu tersebut adalah ahli makah, karena
mereka adalah murid-murid Ibnu Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha Ibnu Abi Rabah,
‘iqrimah maula ibnu abbas, dan murid
ibnu abbas yang lainnya seperti thawus, Abi Sya’tsa, sa’id ibnu
Zubair. Demikian juga penduduk kufah dari murid ibnu mas’ud, mereka mempunyai
kelebihan dan keistimewaan dari pada yang lainnya, dan ulama tafsir dari
penduduk Madinah adalah Zaid bin aslam, dan malik dan anaknya Abdurrahman yang mereka belajar darinya dan Abdullah ibnu
wahhab. Muqoadimmah ibnu Taimiyyah fi
ushul at tafsir”*.
Adapun luang lingkup dari apa yang diriwayatkan dari mereka
mencakup ilmu fafsir, ilmu gharibul Qur’an, ilmu asbabu nuzul, ilmu maki wal
madani, ilmu nasikh wal Mansukh, semua
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an itu tetap bersandar kepada Riwayat
secara talaqi (face to face).
*Perkembangan dan Munculnya Literasi Keilmuan
Al-Qur’an*
Embrio kemunculan dan perkembangan literasi
yang berkaitan dengan keilmuan Al-Qur’an dimulai pada abad ke dua hijriyah. Dalam perkembangn keilamuan
Al-Qur’an ini dapat kita bagi menjadi
dua periode, yaitu
Periode pertama, diawali
dengan pembukuan hadits dengan bab yang
bermacam-macam dan itu diantaranya ada bab berkaitan dengan
tafsir Al-Qur’an yang bersumber
dari Rasulullah sendiri , penjelasan Para sahabat, dan Tabiin.
Diantara mereka yang terkenal adalah Yazid
Ibnu Harun As-sulami (wafat 117 H), Syu’bah Ibnu Hajaj ( wafat 160 H), Waki’ Ibnu Jarrah (wafat 197 H), Sufyan Ibnu Uyainah ( wafat 198 H), ‘Abdu
Razaq Ibnu Hammam (wafat 211 H), mereka
semua adalah para ahli hadits, mereka mentafsirkan
Al-Qur’an dengan memasukannya menjadi salah satu bab dari kitab hadits
mereka. Dan tafsir mereka tidak ada yang
sampai kepada kita kecuali tulisan tafsir
Abdu Rozaq Ibnu Hamam.
Periode kedua, pada
periode ini Sebagian ulama memainkan
peran penyambung estafeta keilmuan atau
genologi keilmuan al-Qur’an dengan sebuah terobosan Menyusun kitab tafsir secara sempurna, sistematis, dan
pembahsan yang tertib ayat demi ayat.
Hal ini diprakarsai oleh Ibnu
Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).
Demikianlah perkembangan awal tafsir Al-Qur’an bermula dengan metode talaqi, kemudian masuk ke periode Tadwin atau pembukuan kitab tafsir yang dimulai oleh para ahli hadits yang memasukan tafsir dalam salah satu bab kita hadits, kemudian perkembangan selanjutnya tafsir Al-Qur’an dibukuan secara tersendiri dan mandiri, maka lahirlah tafsir bin ma’tsur (tafsir berdasarkan Riwayat) dan kemudian lahirlah tafsir biro’yi.
🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam
🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123
📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel
📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar