Senin, 12 Oktober 2020

Pengagungan Para Sahabat Terhadap Al-Qur’an

Oleh : Misbahudin

 

Al-Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah yang kekal keberadaannya sampai hari akhir, untuk  menunjukan kepada dunia kebenaran Islam, mematri keimanan yang kokoh dalam jiwa-jiwa pengikutnya dan membungkan mulut dan akal manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an adalah produk Nabi Muhammad. Tidak ada satupun manusia dari jaman Nabi Muhammad sampai dengan akhir jaman yang mampu menandingi Al-Qur’an.

 

_“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”_. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 23).


 Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya,  Ya'lu Walaa Yu'la ‘Alahi. Kemajuan zaman dengan berbagai teknologi dan pengetahuan yang terus berkembang tidak ada matinya, tidak menjadikan Al-Qur’an  “expired”  untuk dijadikan nutrisi hidup dan kehidupan umat Manusia.  Kemajuan dan perkembangan zaman tersebut malah menjadikan Al-Qur’an semakian jelas dan terang kebenarannya, layaknya sengatan Mentari disiang hari.

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya” [ QS. al-Hijr:9]

 

Allah menurukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengeluarkan umat manusia  dari kegelapan zaman menuju kepada cahaya zaman yang menyinari peradaban dunia, Allah memberikan petunjuk kebenaran dengan Al-Qur’an . sehingga manusiapun mempunyai sebuah pegangan hidup yang kuat untuk keselamatan dunia dan akhirat mereka.

 

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Hakim).


Rasulullah menyampaikan Al-Qur’an kepada para sahabatnya yang merupakan orang arab asli, mereka memahami Al-Qur’an dengan naluri kebahasaan mereka, dan jika mendaptakan ketidak jelasan  maksud dari Al-Qur’an karena keterbatasan pengetahuan dan nalar mereka, mereka pun meminta pencerahan kepada Rasulullah.

 

Ibnu Mas’ud  berkata, “ Ketika turun ayat,  sesungguhnya  orang-orang yang beriman  mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kedzaliman” (QS. Al-An’am: 82), maka ayat tersebut membuat sesak dada para sahabat karena begitu berat terasa tuntutan dari Ayat tersebut, Maka Sahabatpun memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, _“Wahai Rasulullah, siapakah diantara kita yang tidak pernah mendzalimi diri mereka sendiri?”_,  Rasul pun menjawab, _“ kedzaliman disini bukanlah kedzaliman yang kalian maksud”_, tidakkah kau pernah mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh, “ “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman :13). Sesugguhnya yang dimaksud kedzaliman itu adalah kesyirikan.

 

Rasulullahpun  terkadang memberikan tafsiran untuk hal-hal yang dianggap asing atau tidak dipahami masudnya oleh para sahabat, sebagaimana  yang dinyatakan oleh imam muslim dan yang lainnya yang bersumber dari ‘Uqbah Bin Amir.

 

Aku Pernah mendengar Rasulullah  berkata diatas mimbar, _“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi”_ (Al-Anfal:60), ingatlah kekuatan disini adalah memanah.

 

*Antusiasme Para Sahabat Menerima Al-Qur’an*

 

Para sahabat begitu antusias menerima Al-Qur’an untuk dihafal, dipahami hukum-hukumnya dan mengamalkannya, karena hal tersebut merubakan sebuah kemulian hidup bagi menurut mereka. Mereka yakin kualitas kehidupan dan pembuka keberkahan hidup adalah  dilihat dari jauh tidaknya jiwa mereka dengan Al-Qur’an.  Sebagaimana yang diceritakan oleh Anas Bin Malik, “ jika seseorang diantara kami telah membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran maka sungguh dia menjadi begitu istimewa di mata kami”.  

 

Hal ini diperkuat  dengan hadits dari Abu Abdurhaman As-sulami. Beliau bekata telah menceritakan kepada kami, orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti Utsman bin Affan, Abdullah Bin mas’ud dan yang lainnya, sesungguhnya mereka jika belajar Al-Qur’an dari Nabi _shallahu ‘alahi wasalam_ sepuluh ayat, maka kami tidak akan melajutkannya  sehingga mereka dapat memahami secara sempurna maksud ayat tersebut  dan sudah mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Mereka berkata, _“Kami mempelajari ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya secara bersamaan”_.

 

Penjagaan terhadap kemurnian Al-Qur’an sudah dilaksankan di zaman Rasululah, Rasulullah  tidak mengijinkan  para sahabat  untuk tidak mencatat  selain dari catatan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan tercampurnnya Al-Qur’an dengan hadits Rasulullah.  Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim, bahwanya Nabi Bersabda, _“ Janganlah kalian  menulis sesuatu yang datang dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an Maka hendaklah dia menghapusnya. dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka.”_


Tetapi  sesudah itu,  Rasulullah mengijinkan para sahabatnya  untuk menuliskan hadits  yang mempunyai  hubungan erat dengan penjelasan ayat Al-Qur’an  dengan periwayatan secara talaqi di jaman Rasulullah  dan di jaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar untuk mengokohkan pemahaman umat terhadap Al-Qur’an.

 

*Al-Qur’an Pada Masa Kekhalifahan*

 

Ketika di jaman kekhalifahan Abu Bakar, terjadi tragedy berdarah  di peperangan Yamamah yang menggugurkan 70 orang sahabat yang hafidz Qur’an. Hal ini mengiris hati  Umar Bin Khattab sehingga Umar pun  mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang pernah ditulis pada masa Rasulullah SAW.

 

Abu bakar merasa berat hati dengan usulan Umar ini, karena hal ini  belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. tetapi akhirnya Umar Behasil meyakinkannya demi kemaslahan yang lebih besar. Maka  dibentuklah sebuah tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas tersebut.

 

Sumber utama penulisan tersebut adalah hafalan sahabat dan catatan tulisan Al-Qur’an yang dituliskan di hadapan Nabi.  Untuk menguatkan keaslian ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, maka dihadirkanlah dua orang saksi yang adil.


Zain Bin Tsabit dan Tim mengalami kesulitan pada saat penulisan surat At-Taubah ayat 128, banyak sahabat yang menghafal ayat tersebut, tetapi malangnya, tidak ditemukan tulisan ayat tersebut, dan kegalaun Zaid pun siran seketika Ketika naskah ayat tersebut ditemukan ditangan Abu Khuzaimah Al-Anshari.

 

Mushaf Al-Qur’an pun selesai dirampungkan oleh Zaid, lalu disimpanlah  oleh Abu Bakar sampai akhir hayatnya. Setelah itu berpindah  tangan kepada Umar bin Khattab. Sepeninggal Umar, Mushaf di ambil oleh hafsah binti Umar.

 

Ketika jaman kekhalifahan Ustman munculah dorongan-dorongan dari sebuah realitas jaman yang menuntut Al-Qur’an dibukukan secara padu menjadi satu mushaf,  karena di jaman itu telah terjadi perselisian-perselihan bacaan sehingga tidak sedikit memicu perseteruan antara kamu muslimin.

 

Maka Al-Qur’an pun dibukukan menjadi satu muashaf dan dinamailah  “mushaf Imam” dan maushaf tersebut  dikirimkan ke propinsi-propinsi dibawah kekhalifan Ustman untuk menjadi panduan dan standar Bacaan Al-Qur’an yang benar.  Dan mushaf itu popular dengan  sebutan “mushaf Utsman”, dan hal ini menjadi awal  lahirnya ilmu Rasam Al-Qur’an.

 

Ketika jaman Ali Bin Abi Thalib Al-Qur’an dikuatkanlah Keberadaannya dalam rangka menjaga kaum muslimin dari kesalahan Ketika membaca Al-Qur’an. Maka Beliau memerintahkan Abu Aswad Ad-Da’ali untuk Menyusun qaidah nahwiyah  sebagai Langkah prefentif untuk menjadi standar baku cara pengucapan yang tepat untuk Al-Qur’an.  Maka peristiwa ini menjadi momentum awal lahirnya ilmu I’rabul Qur’an.

 

Kecintaan Sahabat terhadap Al-Qur’an melahirkan tradisi dan budaya estapeta keilmuan. Mereka senantiasa nyampaikan  makna-makna dan tasfir Al-Qur’an kepada generasi selanjutnya sesuai dengan kadar kemampuan pemahaman mereka dan berdasarkan lama tidaknya mereka hidup Bersama Rasulullah, tradisi ini terus berlanjut kepada generasi selanjutnya  dari kalangan tabi’in dan tabiut tabiin.

 

============================================================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial


Tidak ada komentar:

Posting Komentar