Oleh :
Misbahudin
Al-Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah yang
kekal keberadaannya sampai hari akhir, untuk
menunjukan kepada dunia kebenaran Islam, mematri keimanan yang kokoh dalam
jiwa-jiwa pengikutnya dan membungkan mulut dan akal manusia yang menganggap
bahwa Al-Qur’an adalah produk Nabi Muhammad. Tidak ada satupun manusia dari jaman
Nabi Muhammad sampai dengan akhir jaman yang mampu menandingi Al-Qur’an.
_“Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”_. (Q.S.
Al-Baqarah [2]: 23).
Islam
adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, Ya'lu Walaa
Yu'la ‘Alahi. Kemajuan zaman dengan berbagai teknologi dan
pengetahuan yang terus berkembang tidak ada matinya, tidak menjadikan Al-Qur’an
“expired” untuk dijadikan nutrisi hidup dan kehidupan umat
Manusia. Kemajuan dan perkembangan zaman
tersebut malah menjadikan Al-Qur’an semakian jelas dan terang kebenarannya,
layaknya sengatan Mentari disiang hari.
“Sesungguhnya Kami-lah
yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur'an), dan sesungguhnya
Kami benar-benar akan menjaganya” [ QS. al-Hijr:9]
Allah menurukan Al-Qur’an kepada Nabi
Muhammad untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan zaman menuju kepada cahaya
zaman yang menyinari peradaban dunia, Allah memberikan petunjuk kebenaran
dengan Al-Qur’an . sehingga manusiapun mempunyai sebuah pegangan hidup yang
kuat untuk keselamatan dunia dan akhirat mereka.
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara.
Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Hakim).
Rasulullah menyampaikan Al-Qur’an kepada para sahabatnya yang merupakan orang
arab asli, mereka memahami Al-Qur’an dengan naluri kebahasaan mereka, dan jika mendaptakan
ketidak jelasan maksud dari Al-Qur’an
karena keterbatasan pengetahuan dan nalar mereka, mereka pun meminta pencerahan
kepada Rasulullah.
Ibnu Mas’ud
berkata, “ Ketika turun ayat,
sesungguhnya orang-orang yang
beriman mereka tidak mencampur adukan
keimanan mereka dengan kedzaliman” (QS. Al-An’am: 82), maka ayat tersebut
membuat sesak dada para sahabat karena begitu berat terasa tuntutan dari Ayat
tersebut, Maka Sahabatpun memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, _“Wahai
Rasulullah, siapakah diantara kita yang tidak pernah mendzalimi diri mereka
sendiri?”_, Rasul pun menjawab, _“
kedzaliman disini bukanlah kedzaliman yang kalian maksud”_, tidakkah kau
pernah mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh, “ “Sesungguhnya
kesyirikan adalah kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman :13). Sesugguhnya
yang dimaksud kedzaliman itu adalah kesyirikan.
Rasulullahpun terkadang memberikan tafsiran untuk hal-hal
yang dianggap asing atau tidak dipahami masudnya oleh para sahabat,
sebagaimana yang dinyatakan oleh imam
muslim dan yang lainnya yang bersumber dari ‘Uqbah Bin Amir.
Aku Pernah
mendengar Rasulullah berkata diatas
mimbar, _“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu
sanggupi”_ (Al-Anfal:60), ingatlah kekuatan disini adalah memanah.
*Antusiasme
Para Sahabat Menerima Al-Qur’an*
Para sahabat
begitu antusias menerima Al-Qur’an untuk dihafal, dipahami hukum-hukumnya dan
mengamalkannya, karena hal tersebut merubakan sebuah kemulian hidup bagi menurut
mereka. Mereka yakin kualitas kehidupan dan pembuka keberkahan hidup
adalah dilihat dari jauh tidaknya jiwa
mereka dengan Al-Qur’an. Sebagaimana
yang diceritakan oleh Anas Bin Malik, “ jika seseorang diantara kami telah
membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran maka sungguh dia menjadi begitu istimewa
di mata kami”.
Hal ini
diperkuat dengan hadits dari Abu Abdurhaman
As-sulami. Beliau bekata telah menceritakan kepada kami, orang-orang yang
membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti Utsman bin Affan, Abdullah Bin mas’ud
dan yang lainnya, sesungguhnya mereka jika belajar Al-Qur’an dari Nabi _shallahu
‘alahi wasalam_ sepuluh ayat, maka kami tidak akan melajutkannya sehingga mereka dapat memahami secara sempurna
maksud ayat tersebut dan sudah
mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Mereka berkata, _“Kami mempelajari
ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya secara bersamaan”_.
Penjagaan
terhadap kemurnian Al-Qur’an sudah dilaksankan di zaman Rasululah, Rasulullah tidak mengijinkan para sahabat
untuk tidak mencatat selain dari
catatan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan tercampurnnya Al-Qur’an dengan
hadits Rasulullah. Sebagaimana yang
dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim, bahwanya Nabi Bersabda, _“ Janganlah
kalian menulis sesuatu yang datang
dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an Maka hendaklah dia
menghapusnya. dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta
atas (nama) ku dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari
neraka.”_
Tetapi
sesudah itu, Rasulullah
mengijinkan para sahabatnya untuk
menuliskan hadits yang mempunyai hubungan erat dengan penjelasan ayat
Al-Qur’an dengan periwayatan secara
talaqi di jaman Rasulullah dan di jaman
kekhalifahan Abu Bakar dan Umar untuk mengokohkan pemahaman umat terhadap
Al-Qur’an.
*Al-Qur’an Pada Masa Kekhalifahan*
Ketika di jaman kekhalifahan Abu Bakar, terjadi
tragedy berdarah di peperangan Yamamah
yang menggugurkan 70 orang sahabat yang hafidz Qur’an. Hal ini mengiris
hati Umar Bin Khattab sehingga Umar
pun mengusulkan kepada Abu Bakar agar
segera mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang pernah ditulis pada masa
Rasulullah SAW.
Abu bakar merasa berat hati dengan usulan
Umar ini, karena hal ini belum pernah
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. tetapi akhirnya Umar Behasil meyakinkannya demi
kemaslahan yang lebih besar. Maka dibentuklah
sebuah tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas
tersebut.
Sumber utama penulisan tersebut adalah hafalan
sahabat dan catatan tulisan Al-Qur’an yang dituliskan di hadapan Nabi. Untuk menguatkan keaslian ayat-ayat Al-Qur’an
tersebut, maka dihadirkanlah dua orang saksi yang adil.
Zain Bin Tsabit dan Tim mengalami kesulitan
pada saat penulisan surat At-Taubah ayat 128, banyak sahabat yang menghafal
ayat tersebut, tetapi malangnya, tidak ditemukan tulisan ayat tersebut, dan
kegalaun Zaid pun siran seketika Ketika naskah ayat tersebut ditemukan ditangan
Abu Khuzaimah Al-Anshari.
Mushaf Al-Qur’an pun selesai dirampungkan
oleh Zaid, lalu disimpanlah oleh Abu
Bakar sampai akhir hayatnya. Setelah itu berpindah tangan kepada Umar bin Khattab. Sepeninggal
Umar, Mushaf di ambil oleh hafsah binti Umar.
Ketika jaman kekhalifahan Ustman munculah
dorongan-dorongan dari sebuah realitas jaman yang menuntut Al-Qur’an dibukukan
secara padu menjadi satu mushaf, karena
di jaman itu telah terjadi perselisian-perselihan bacaan sehingga tidak sedikit
memicu perseteruan antara kamu muslimin.
Maka Al-Qur’an pun dibukukan menjadi satu
muashaf dan dinamailah “mushaf Imam” dan
maushaf tersebut dikirimkan ke
propinsi-propinsi dibawah kekhalifan Ustman untuk menjadi panduan dan standar
Bacaan Al-Qur’an yang benar. Dan mushaf
itu popular dengan sebutan “mushaf
Utsman”, dan hal ini menjadi awal
lahirnya ilmu Rasam Al-Qur’an.
Ketika jaman Ali Bin Abi Thalib Al-Qur’an dikuatkanlah
Keberadaannya dalam rangka menjaga kaum muslimin dari kesalahan Ketika membaca Al-Qur’an.
Maka Beliau memerintahkan Abu Aswad Ad-Da’ali untuk Menyusun qaidah nahwiyah
sebagai Langkah prefentif untuk menjadi
standar baku cara pengucapan yang tepat untuk Al-Qur’an. Maka peristiwa ini menjadi momentum awal
lahirnya ilmu I’rabul Qur’an.
Kecintaan Sahabat terhadap Al-Qur’an
melahirkan tradisi dan budaya estapeta keilmuan. Mereka senantiasa nyampaikan makna-makna dan tasfir Al-Qur’an kepada
generasi selanjutnya sesuai dengan kadar kemampuan pemahaman mereka dan
berdasarkan lama tidaknya mereka hidup Bersama Rasulullah, tradisi ini terus
berlanjut kepada generasi selanjutnya
dari kalangan tabi’in dan tabiut tabiin.
============================================================
🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam
🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123
📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel
📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar