Rabu, 09 Desember 2020

Tauhid VS Kemusyrikan

 

Oleh : Misbahudin

 

 

Dalam hidup hal-hal yang saling berlawanan dan bertolak belakang pasti mengiri kehidupan manusia, cahaya dengan kegelapan. Keindahan dengan keburukan. Ketaatkan dengan kemaksiatan.

 

Maka hidup adalah pilihan ‘ life is choise’, hidup ada dalam pilihan kita, apakah akan menjadi para tentara Allah atau kah mau menjadi tentara setan. Ingin menjadi ahli tauhid ataukah menjadi ahli syirik.

 

Potensi baik dan buruk Allah sudah ditanamkan kedalam jiwa kita, tinggal eksekusinya ada ditangan kita. Apakah kita menjadi pribadi yang istiqomah yang merawat potensi ketaqwaan itu sehingga tumbuh kuat dan berbuah manisnya iman, sehingga potensi kefasikan dalam jiwanya terkubur di dasar jiwa yang paling dalam.

 

Ataupun sebaliknya, kita lebih memilih mengikuti kecendrungan kefasikan sehingga tumbuh kuat mengakar di dalam jiwa. Sehingga menghasilkan ucapan dan tindakan dari pribadi yang jauh dari cahaya iman, Jauh dari cahaya ketaqwaan, Jauh dari cahaya hidayah Allah.

 

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

 

”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan Fujur (kefasikan) dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 8-10).

 

 

Karena kasih sayang Allah, Dia menegaskan kembali dalam firman yang lain, agar jiwa tersadarkan dan benih-benih iman menggeliat dan tumbuh kuat  dengan perintah untuk mempersembahkan semua Ibadah hanya untuk Allah dan menjauhi kesyirikan, karena kesyririkan merupakan dosa yang besar yang Allah tidak akan mengampuninya.

 

 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ

 

Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukannya

(QS.An-Nisa :36)

 

Disini Allah menggunakan bentuk umum untuk semua macam ibadah. Dan larangan dari perbuatan syirik dengan menggunakan larangan umum, tidak mengkhususkan dengan salah satu jenis kesyirikan saja. Berarti kesyirikan yang bersifat sembunyi (khofi) dan syrik besar ( kabir).

 

Syekh Shoih Ibnu Fauzan Ibnu Abdullah Al-Fauzan dalam kitabnya  Mulakhos fi Syarah Kitab At-Tauhid” . Beliau memberikan beberapa point penting dari surat An-Nisa ayat 36 diatas :

 

1.      Wajibnya mentauhidkan Allah dalam segala jenis peribadahan.

 

2.      Larangan perbuatan musyrik yang merupakan larangan yang paling keras.

 

3.      Sesungguhnya menjauhi syirik merupakan  syarat dari diterimaanya sebuah ibadah. Karena Allah menghubungkan kewajiba ibadah dengan larangan kemusyrikan.

 

 

4.      Sesunguhny syirik adalah perbuatan yang diharamkan sedikit atau banyak. Kecil ataupu besar. Karena dalam ayat tersebut menggunakan lafadz “syaiaan” yang merupakan bentuk nakirah yang memiliki maksud kesyirikan secara luas.

 

5.     Sesungguhnya tidak boleh melakukan ibadah kepada Allah dengan bercampur kesyirikan. Seperti mengharapkan kebaikan dari penguasa, para nabi, orang sholeh dan berhala-berhala. Maka bentuk pengharapan, kecintaan dan rasa takut harus disandarkan hanya kepada Allah.

 

 

 ==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial

 

Minggu, 06 Desember 2020

KEMULIAN TAUHID DAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Oleh : Misbahudin

 

Sungguh mulia sikap berbakti kepada orang tua sehingga Allah menempatkan perintah berbuat baik kepada orang tua setelah perintah beribadah kepada Allah.

 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

 (Al-Israa : 23)

 

Sebuah kabar yang tegas bahwa Allah subhanahuwataala  memerintahkan dan mewashiatkaan dengan pelantara lisan-lisan utusannya, nabi dan rasul-Nya untuk memerintahkan umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan ibadah-ibadah kepada selainnya.

 

Sesunguhnya tauhid adalah salah satu ibadah yang agung dan kewajiban yang paling wajib, buktinya adalah Allah memulai ayat diatas dengan  panggilan untuk bertauhid, untuk mengesakan Allah.

 

Disisilain, Allah menggandengkan perintah untuk bertauhid dalam ibadah kepada-Nya dengan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini merupakan sebuah pertanda bahwa berbakti kepada orang tua adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan diamalkan setelah mengesakan Allah dalam segala bentuk  peribadatan manusia. 

 

Maka tidaklah heran, ketika seorang sahabat yang sangat antusias ingin berjihad di medan pertempuran. Tetapi ketika Rasulullah tahu bahwa sahabat tersebut mempunyai orang tua, maka Rasululah memerintahkannya untuk mengurusi orang tuanya yang telah masuk usia senja terlebih dulu.

 

Syekh Shoih Ibnu Fauzan Ibnu Abdullah Al-Fauzan dalam kitabnya  Mulakhos fi Syarah Kitab At-Tauhid” . Beliau memberikan beberapa point penting dari surat Al-Isra ayat 23 diatas :

 

Butiran-Butiran Hikmah

 

1.     Sesungguhnya bertauhid adalah yang pertaama kali diwajibkan kepada manusia dan jin.

 

2.     Dalam kalimat tauhid (la Ilaha Ilallah) terkandung penegasan peniadaan Tuhan (Annafi) dan selanjutnya penegasan kata “hanya Allah” (istbat). Meneguhkan hanya Allah lah Tuhan yang Haq untuk disembah.

 

3.     Mengagungkan hak orang tua untuk diberlakukan dengan lembut dan kewajiban birullalidain menempati hirakis kewajiban kedua setelah kewajiban untuk bertauhid.

 

4.     Wajib untuk berbakti kepada orang tua dengan berbagai kebaikan yang membahagiakan mereka berdua, karena dalam firman Allah diatas tidak dikhususkan dengan amal-amal yang khusus.

 

5.     Haramnya durhaka kepada kedua orang tua.

 

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial

 


Sabtu, 05 Desember 2020

DARI AQIDAH MENUJU HARAKAH

 

Oleh : Misbahudin

 

 *An-Nahala Institute, Oase Ditengah Kegersangan Jiwa*

 

An-nahala Institue adalah sebuah forum kajian para asatadiz muda yang diasuh dan dibina oleh tuan guru kami, KH. DR. Jeje Zaenuddin M, Ag (UJZ), sosok guru kehidupan yang setiap kajiannya memberikan sebuah sengatan-sengatan pemikiran yang membuat hati, jiwa dan pikiran merenung dalam sebuah “ektase” kenikmatan tafakur dan tadabur.

 

Setelah aktivitas dalam dunia pendidikan dan dakwahnya mencurahkan ilmu, fikiran dan energi. Maka para dai muda dan para pendidik perlu ada sebuah “recharger” atau pengisian jiwa dan hati dengan keilmuan baru, spirit hati yang lebih terpatri dan energi jiwa  yang yang lebih membara. Semua itu penting agar kita bisa _fresh_ Kembali dalam aktivitas dakwah  dan pendidikan kita. Tidak ubahnya seperti teko yang terus mengeluarkan isinya untuk dituangkan isinya secara terus menerus untuk dimanfaatkan dan dinikmati, maka perlu teko itu disi Kembali  agar bisa mengeluarkan kembali sesuatu yang bermanfaat dan menyegarkan.

 

Disela-sela kajian pekan kemarin, DR. Jeje Zaenuddin (UJZ) memberikan sebuah undangan dadakan  dengan tema : _*“ Membincang Proses dan Hasil Munas MUI dan MUI ke Depan”*_.  Di detik-detik terakhir pemaparan beliau ada sebuah nasihat yang penuh energi, nasihat menyengat  yang membuat tekad berkobar dan membara. Renungan dari Nasihat beliau menyeret jiwa dan fikiran untuk mencapai puncak “orgasme” renungan. Maka tumbah dan  menggeliatlah dari taman-taman jiwa itu sebuah bisikan, _*“Bergerak dan Berkontribusilah dengan apa yang kamu bisa lakukan untuk Islam, mumpung hayat masih dikandung badan”*_.

 

Diantara nasihat nasihat  beliau  itu adalah _*(1)  Konsep Aqidah harus ditasformasikan ke dalam sebuah harakah, (2) Jadilah pribadi yang bermanfaat, dan  (3) Hiduplah dalam  bagian dari jamaah kaum muslimien (4) Keikhlasan yang menguatkan.*_

 

*Dari Aqidah Menuju Harakah*

 

_Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugiankecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran_. (QS. Al-Ashr : 1-3).

 

Kaum muslimin hari ini mereka tidak miskin dengan konsep dan ajaran Islam.  apalagi para ustadz-ustdaz pasti lebih dalam keislaman mereka daripada orang awam, tetapi kenapa  Islam saat itu penuh dengan perpecahan, kemisikinan dan keterbelakangan. Umat Islam hanya menjadi  penonton  bahkan mejadi sebuah korban dari sebuah permainan dari kemajuan zaman.

 

Islam sangat kaya dengan konsep dan inspirasi yang dapat menggugah umatnya untuk terus belajar, meneliti dan melakukan percobaan-percobaan untuk kemajuan islam itu sendiri, wahyu pertama turun,  menuntut manusia untuk membaca.  membaca dalam arti yang sangat luas, membaca diri, membaca buku, membaca lingkungan, membaca phenomena yang terjadi dan membaca “sesuatu” yang tidak terlihat dari phenoma alam, sosial, politik dan lain sebagainya.

 

Sengatan motivasi dan inspirasi itu sudah ada didalam Islam, tetapi semua terkubur dalam kebiasaan yang tidak produktif umat Islam itu sendiri, sibuk  dengan hal-hal yang tidak prioritas, umatnya sudah terwarnai oleh tradisi dan budaya modern dalam hedonisme.  sehingga umat Islam pun semakin menjauh dari nilai-nilai ilahiyyah dalam kehidupannya yang berkemajuan.

 

Jikalau konsep aqidah dan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam Al-Qur’an dan as-sunnah diamalkan oleh umatnya, maka sudah pasti terbayang akan dibawa kemana umat Islam ini?,  tunduk patuh mengikuti dengan  benar-benar perintah Allah  dan menjauhi segala laranganya. Pasti mereka akan mencapai puncak peradaban dunia.

 

Prestasi-prestasi besar kaum Muslim di bidang kehidupan dan keilmuan di masa kejayaan Islam tidaklah terpisah dari dorongan besar  spirit   al-Quran dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah Kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini, misalnya, tergambar dari penyebutan kata “al-‘ilm” dan derivasinya yang mencapai 823 kali. Dan  membaca “iqra” dalam artian luas harus menjadi sebuah "life Style". 

 

Maka energi Al-Qur’an yang sudah dipahami,  harus ditrasformasikan dan diamalkan dalam kehidupan nyata, sehingga terciptanya sebuah kebiasaan diri, dan kebiasan  yang dilakukan oleh keluarga atau sekelompok orang tertentu akan menciptakan sebuah budaya dan budaya yang diterapkan dan dilakukan  secara global oleh umat Islam akan menjadi pemantik lahir, tumbuh dan tegaknya “peradaban langit” yang membumi.

 

*Menjadi Pribadi Yang bermanfaat*

 

Untuk apa kita hidup di dunia ini jika kita tidak memberikan sebuah kemanfaatan untuk sesama?, untuk apa sebuah kesuksesan secara duniawi tetapi kita tidak memberikan sebuah kontribusi untuk Islam?. Untuk Apa sebuah jabatan yang didapat jika jabatan itu tidak dipikul dengan penuh amanah dan kejujuran?, tidak memberikan manfaat untuk yang dipimpin?.

 

Semua mungkin akan terasa begitu sia-sia, semua terasa begitu tidak berharga, jika kita tidak memberikan manfaat untuk hidup dan kehidupan,  tidak perlu jadi orang nebat untuk memberi manfaat, kemanfaatan bisa dimulai dari apa yang bisa kita lakukan saat ini dari apa yang kita bisa dan mampu lakukan.  

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hr. Ath-Thabrani)

 

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Hakim)

 


* Hiduplah Dalam  Bagian Dari Jamaah Kaum Muslimien*

 

Dalam teori ilmu sosial di definiskan manusia adalah mahluk sosial atau Zon Politikon. Yaitu mahluk yang tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan bantuan yang lain dalam  menjalani hidup dan kehidupnnya. Teori semacam ini sudah lama ditancamkan di dalam jiwa, hati dan pikiran kaum muslimin oleh Rasulullah dalam kehidupan dan bermasyarakat Bersama pada saat itu.

 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِم

 Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Bahkan teori sosial modern tersebut yang berakar dari pemikiran dan sebuah istilah yang digunakan oleh Aristoteles untuk menyebut makhluk sosial.  Hal tersebut ruang lingkupnya hanya dalam tatanan urusan kehidupan saja.  Berbeda dengan konsep sosial dalam Islam yang tidak hanya berhenti dalam urusan perut atau dunia semata. Tetapi  nilai sosial tersebut menerobos ruang dan waktu, urusan dunia dan akhirat dalam  dibingkai dalam ikatan agung, sebuah ikatan ilahiah dalam ketaatan.

 


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam. (HR. Bukhari)

 

Dalam tatanan  kehidupan dunia saja, manusia membutuhkan yang lain, apalagi dalam sebuah misi suci dakwah,  pasti membutuhkan sebuah kolaborasi tim agar goal dakwah dapat tercapai,  karena dakwah bukan hanya retorika di mimbar  dan kajian belaka. Tetapi dakwah adalah untuk membangun peradaban manusia yang mengandung nilai-nilai langit.  Dan semua itu pasti membutuhkan yang namanya jama’ah.

 

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Dan beliau merekatkan jari-jemarinya”. (HR. Bukhari).

 

Jika gerak dakwah tidak saling bahu membahu, tidak saling melengkapi dan berkolaborasi maka tidaklah heran,  jika gerak kebatilan yang tertata dengan apik dan terorganisir  akan memenangan  pertarungan.  

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام

“Kebenaran yang tidak terorganisir (maka) kebatilan yang terorganisir akan mengalahkannya”.

 

*Keikhlasan Yang Menguatkan*


Suatu kebaikan jika dilakukan karena menginginkan pujian, maka amal kebaikan itu akan berat dilakukan jika tidak mendapat sambutan yang wah dari manusia. Jika kebaikan yang dilakukan karena keinginan mendapat timbal balik dari kebaikan itu, maka hati akan berkeluh kesah jika tidak ada timbalik baliknya.  Begitulah gambaran dari sebuah amal kebaikan jika disandarkan kepada sesuatu yang rapuh, maka semangat beramal dan berkaryapun akan menjadi bak pelapah kurma yang rapuh, hanya butuh sedikit tiupan angin untuk menjatuhkannya.

 

Sebaliknya, jika amal kebaikan itu dilakukan karena menginginkan pahala kebaikan dari Allah, maka keikhlasan itu memberik sebuah kekuatan, keteguhan dan keistiqomahan. Karena motivasi hatinya tidak tergantung kepada sesuatu yang diluar dirinya, tetapi motivasi hatinya tertancap kokoh dalam relung-relung jiwanya, sehingga apapun respon yang didapatkan dari luar dirinya, maka tidak akan mengganggu gerak langkahnya. Disepelakan dia akan tetap berjalan,  dicaci  maki, dia tetap akan mengayunkan Langkah kaki untuk mendapatkan ridha ilahi.

 

Tidak ada mitivasi tertinggi selain keikhlasan.  Karena ikhlas bak seperti medium yang mengconeksitaskan hatinya dengan sang pemilik hati, membukakan mata hatinya untuk hanya berorientasi kepada sang ilahi dan membutakan pandangan dari apapun yang dilakukan manusia, baik itu pujian yang menerbangkan jiwa ataupun cacian yang membuat hati terluka. Keikhlasan tidaklah semudah mengucapkannya. Tetapi Ketika hati tidak berusaha untuk  ikhlas maka segala amal kebaikan kitapun akan sia-sia belaka, karena ikhlas merupakan syarat utama diterimannya amalan oleh Allah.

 

Amal kebaikan yang luar biasa tanpa sebuah keikhlasan maka akan menyeret pelakukanya kepada neraka, sebagaimana dalam sebuah hadits diceritakan  tiga kelompok orang yang memberi sumbangsih dan kontribusi  besar untuk Islam.  mereka adalah sosok alim, mujahid dan dermawan.  Kisah pilu mereka di akhirat, Allah jebloskan mereka kedalam neraka karena ternyata pengorbanan dan segala amal kebaikannya ketika di dunia tidak ikhlas karena Allah, tetapi menginginkan pujian, sanjungan dan citra yang positif di tengah-tengah manusia.

 

Salah seorang ahli juhud mengatakan, Al Fudhail bin ‘Iyadh  berkata,

 

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ

“Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).


Kesadaran inilah yang membuat khalid bin walid tetap teguh berdiri, berkontribusi untuk Islam, walapun Ia sudah tidak lagi menjabat sebagai panglima besar Islam pada saat itu, karena sudah dilengserkan oleh Umar bin khattab demi menghindarkan kultur berlebihan kepada Khalid. Ketika ditanya oleh salah seorang sahabat, “kenapa engkau masih ikut berperang?, padahal  kamu sudah dilengserkan dari jabatanmu?, maka apa yang dikatakan oleh  Khalid?,  “aku berperang karena Allah,  bukan karena Umar Bin khattab”.

 

Keihklasan adalah sebuah modal yang besar dan berharga dalam misi dakwah, karena tidak bisa dipungkiri hilangnya keikhlasan karena terkubur ambisi pribadi, kedengkian hati, orientasi duniawi dan lain sebagainya, menjadikan hubungan antar muslim menjadi renggang atau bahkan bisa saling menyerang demi sesuatu yang dianggap benar oleh subjektivitas pribadi sehingga Islampun begitu rapuh karena mereka senantiasa rebut dan kisruh dengan sesama mereka sendiri.  Wallah ‘alam bishowwab.

Jumat, 04 Desember 2020

APA PENTINGNYA ALLAH MENANGKAT SEORANG RASUL

 

Oleh : Misbahudin

 

Manusia sudah diberikan akal dan hati sebagai alat untuk menncari dan menyingkap kebenaran,. Bukankah dengan hasil ekplorasi pemikiran dan intuisi hati  mereka, merka bisa membuktikan adanya pencipta alam semesta ini?. Lalu untuk apakah Tuhan mengutus Nabi dan Rasul-Nya dari kalangan manusia?.

 

jika manusia mengasah pikiran dan intuisinya tanpa bimbingan wahyu, Bisa saja  mereka bisa menyimpulkan bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan. Sebagai mana Nabi Ibrahim mengekporasi akal pikiran dan hatinya dengan memikirkan alam semesta.

 

Akhir selancar alam pikir dan hatinya memberikan sebuah kongklusi bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Begitu juga dikalangan sainstifis Barat diantaranya adalah Albert Einstein, dia mengatakan bahwa dunia ini seperti sebuah mesin besar dengan sebuah sistem pengaturan yang mengagumkan yang pasti ada penciptanya.

 

Tetapi pertanyaanya adalah, apakah ketika akal pemikiran menemukan sebuah kesimpulan bahwa tuhan itu ada sudah cukup?. Nah!, inilah batasan akal, akal hanya sampai pada sebuah kesimpulan itu. Apakah mengibadahi Tuhan semesta Alam cukup hanya dengan sebuah kesimpulan itu?.

 

Maka disinilah pentingnya wahyu, pentingnya Nabi dan Rasul untuk membimbing akal dan hati untuk menjadi hamba Allah seutuhnya, membimbing mereka bagaimana cara mengagungkan-Nya dengan benar melalui syariat-Nya.

 

Dengan bimbingan wahyu, akal bisa menemukan apa yang sebenarnya Allah suka melalui melalui perintahnya dan apa yang Allah benci melalui larangan-laranganNya. Maka dengan bimbingan wahyu manusia bisa tahu seutuhnya bagaimana beribdah dengan benar bukan hasil spekulasi akal semata yang terbatas.

Sebagaimana Allah menegaskan,

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

 

Dan Sungguh Kami Mengutus kepada setiap Umat untuk memerintahkan beribadah kepada Allah dan menjauhi Thoghut ( An-Nahal : 36)

 

Disini, Allah menegaskan pesan penting dari tujuan utama diutusnya rasul adalah untuk mengibadahi Allah dan menjauhi Thogut. Apakah Thoghut itu?, thogut dimabil dari kata thugyaan yaitu melampui batas. Setiap yang dibadahi selain Allah dan si penyembah ridho mengibadahinya maka itu adalah thoghut.

 

Setiap Umat dan setiap jaman akan hadir utusan-utusan untuk menyeru manusia agar akal dan hatinya  mengikuti fitrah keimanan mereka. yaitu untuk mentauhidkan Allah, dan memalingkan  mereka dari mengibadahi selain Allah.

 

Rasul dan Nabi akan senantiasa diutus  pada setiap umat dari sejak terjadi kemusyrikan di jaman Nabi Nuh sampai dengan jaman penutup para Nabi Muhammad saw. Seruan dakwah mereka adalah “kalaimatu sawa” . Setiap dan Rasul mendekrasikan seruan yang sama kepada manusia pada masanya untuk menancapkan akar-akar ketauhidan dalam jiwanya dan memancarkan cahaya Tauhid dalam praktik kehidupannya sehari-hari.

 

Dalam surat An-Nahal ayat 36 diatas, Syekh Shoih Ibnu Fauzan Ibnu Abdullah Al-Fauzan dalam kitabnya  “Mulakhos fi Syarah Kitab At-Tauhid” . Beliau menggali beberapa point penting yaitu :

 

1.     Sesunguhnya agama para Nabi dan Rasul adalah agama yang satu yaitu Islam, mengikhlaskan peribadahan hanya kepada Allah semata dan meninggalkan kesyirikan walaupun syariat merekaa berbeda.

 

2.     Sesungguhnya hikmah diturunkannya nabi dan rasul adalah untuk menyerukan umat manusia agar bertauhid dan meninggalkan kemusyrikan.

 

3.     Sesunguhnya risalah tauhid bersifat umum untuk setiap umat. Dan landasan dalilnya adalah surat An-nahal : 36.

 

4.     Memberikan sebuah penegasan keagungan tauhid dan bertauhid adalah kewajiban untuk setiap umat.

 

5.     Dalam ayat tersebut terkandung penaafikan Illah (tuhan) dan menetapkan Allah sebagi satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Maka ketauhidan dibangun atas dua pondasi tadi yaitu Nafyu dan Istbat. Jika hanya meniadakan Tuhan saja maka itu bukanlah tauhid, dan jika hanya menetapkan saja bahwa Allah adalah tuhan maka itu bukan tauhid. Maka tauhid yang seutuhnya adalah meniadakaan tuhan-tuhan dan meneteapkan hanya satu tuhan yaitu Allah (La iLaha Ilallah).

 

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial

Rabu, 02 Desember 2020

Memaknai Hidup

 

Oleh : Misbahudin

 

Apa sebenarnya tujuan dari penciptaan manusia?. Hal ini menjadi sebuah tema pembahasan para kaum pemikir Barat seperti Aristoteles diantaranya yang mendefinisakan hidup sebagai perjalanan mencari kebahagian. Dalam bukunya Ethika Nicomachea.

 

Tetapi pasti, hasil renungan manusia dari pemikiran semata akan sangat riskan dengan kesalahan dan kekeliruan karena keterbatasan akalnya itu sendiri untuk mencapai-hal-hal yang diluar jangkauannya. Lalu bagaimanakah tujuan hidup manusia menurut Al-Qur’an?.

 

Dalam surat Adz-dzariat dengan jelas Allah menegaskan,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“ Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah”  ( Ad-Dzariat : 56)

 

 

Ayat ini adalah ayat yang sangat mendasar dan pundamental yang dijadikan pegangan hidup menjadi konsep “Way Of Life” jalan hidup bagi mereka yang yakin bahwa Allah sudah memberikan penjelasan yang sangat jelas seperti jelasnya matari di siang bolong. Bahwa manusia diciptakan olenya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk beribadah kepada Allah.

 

 

Menurut Pakar Tafsir Ibnu Abas Radhilallhu “anhu, Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Liya’buduun” dalam ayat tersebut bermakna “ menghinakan diri kepada Allah dan mengagungkan-Nya”. Maka dari penjelasan tersebut. Kita bisa simpulkan bahwa ibadah cakupannya begitu amat luas. Bukan hanya shalat, shoum, zakat, haji. Tetapi lebih luas dari itu.

 

 

Oleh Karena itu, Syekh Islam Ibnu Taimiyyah mendefiniskan ibadah dengan segala  apa-apa yang Allah sukai dan ridhoi dari ucapan dan tindakan baik dhohir dan batin. Maka setia menit yang kita lalui, setiap hirup nafas kehidupan dan setiap langkah kaki semuanya bisa bernilai ibadaah. Bahkan diam kta dalam senyam sembari mengucapkan dzikir-dzkir untuk menyucikan dan mengagungkannya akan bernilai ibadah disisi Allah.

 

 

Ada beberapa point berharga yang disampaikan oleh Syekh Shoih ibnu Fauzan Ibnu Abdullah Al-Fauzan dalam kitabnya “ Mulakhos Fi syarah Kitab At-Tauhid” untuk membedah  konsep tujuan hidup manusia diciptakan ayat Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56.

1.     Kewajiban manusia untuk mengesakan Allah dalam ibadah mereka (jin dan manusia).

2.     Hikmah dari tujuan manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allah.

3.     Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Haq untuk diibdahi karena Dia-lah yang menciptakan semua mahluk dialam semesta ini.

4.     Tidak pantas sesuatu yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa memberi mashaalat dan menolak madhorat untuk disembah oleh manusia. Seperti patung-patung, kuburan orang sholeh, pohon kramat dan lain-lainya.

5.     Menjelaskan betapa kaya dan berkuasanya Allah yang menciptakan manusia dan segala hal di alam semesta ini. Hal ini seaharusnya menjadi sebuah renungan akan sangat butuhnya manusia kepada Allah. Bukan  kepada selainnya.

6.     Segala apa yang Allah ciptakan dan Apa Allah buat pasti ada hikmah besar dibalik itu semua.

 

Lalu apakah Ibadah akan menjadi sebuah beban bagi manusia dalam hidupnya?. Ibadah yang benar dan ikhlas pasti akan melahirkan jiwa-jiwa yang lapang dan tenang. Pernahkah kita ketika dirundung masalah lalu kita sholat dengan penuh kepasrahan, maka kita akan menikmaati setiap gerakan sholat itu dengan penuh kenikatan yang penuh kepasrahan. Maka, setelah selesai sholat kitapun mendapatkan butiran-butiran optisme dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana Rasulullah memrintahkan kepada bilal “ Wahai Bilal Istihatkanlah Kami dengan Sholat!”.

 

 

Ali Rodhilahu ‘Anhu ketika terkena busur panah dalam peperangan, ketika sahabat yang lain ingin mencabutnya, Lalu berkata, cabutlaah busur panah itu ketika aku sholat. Pertanyaannya adalah?. Bagaimana sholatnya Ali Rodhillahu Anhu sehingga rasa sakit itu tidak terasa ketika beribadah kepada Tuhannya?. Ini menjadi bukti bawah segala macam ibadah yang dilakukan manusia akan menenangkan jiwanya yang gelisah, melapangkan jiwanya yang sempit dan membakar kembali motivasi yang terkubur oleh keputus asaan.

Wallahu ‘Alam .

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial