Jumat, 05 Februari 2021

NAMA, SIFAT DAN ENERGI AL-QUR’AN

 

Oleh : Misbahudin

 

 

*Energi Al-Qur’an*

 

Al-Qur’an adalah  wahyu Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai cahaya petunjuk dan sumber reverensi kebenaran. Jika kita mengamati Islam itu sendiri di zaman sekarang ini, mungkin kita akan agak sedikit mengerutkan dahi, kenapa umat Islam yang memiliki kitab suci yang terjaga keasliannya dan secara otomatias agama Islam itu menjadi agama yang sempurna terhindar dari penyimpangan, perubahan  dan pengrusakan subtansi ajarannya.

 

Tetapi kenapa para pemeluk agama Islam itu tidak mencerminkan sosok pribadi-pribadi yang secara universal menggambarkan sebuah karakter, keilmuan dan kemajuan dari sebuah agama yang luhur. Secara konsensus umat Islam tertinggal dalam berbagai bidang kehidupan,  tidak terkecuali dalam hal kemajuan zaman. Umat Islam hanya menjadi penikmat dan penonton dari sebuah design kehidupan yang dibuat oleh orang lain. Dimana enerrhii”  inspirasi Islam itu?. Dimana semangat  perubahan itu?, dimana  sebuah rule model dari visualisasi Al-Qur’an itu sendiri?.

 

Tentu yang salah bukanlah Islam, yang salah bukanlah Al-Qur’an dan  as-sunnah. Tetapi yang salah adalah umat Islam itu sendiri dalam mentasformasikan dua pusaka Rasulullah tersebut yang tidak kaffah. Maka kita pun  akan dapat sesuatu yang sangat berbeda ketika kita menilai Islam sebagai subtansi ajaran dengan ketika kita menilai Islam hanya dari sudut pandang pemeluk Islam itu sendiri. Karena para pemeluk Islam tidak menggambarkan Islam secara utuh, cuma mungkin hanya sebuah pragment-pragment kecil dari Islam.

 

Bobot kualitas trasformasi keislaman yang berbeda  tentu akan menghasilkan pribadi-pribadi muslim yang berebda. Kita akan mendapati bagaimana karakteristik  dan atsmorfir progresifitas kehidupan yang berbeda ketika kita menengok umat Islam yang berada dalam puncak peradaban dengan karakteristik dan progresifitas  para pemeluk Islam dimasa ketertinggalan dalam berbagai dimensi kehidupan seperti sekarang ini.

 

Menurut Amir Sakib Arsalan, salah satu penyebab umat Islam itu mundur dan terbelakang, adalah karena umat Islam itu sendiri sudah jauh dan meningalkan nilai dan spirit dalam kandungan pusaka yang Rasulullah tinggalkan yaitu Al-Qur’an dan as-sunnah. Maka penting perbaikan dan perubahan peta pergerakan umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an, menggali mutiara terpendamnya dan menjadikan sebagai lentera kehidupan yang menyinari setiap ayunan langkah dan desahan nafas kehidupan. 


*Nama-Nama Al-Qur’an*

 

Ada beberapa nama lain dari Al-Qur’an yang kita dapati di dalam Al-Qur’an itu sendiri, yaitu nama Al-Qur’an itu sendiri, Al-kitab, Al-Furqan, Adz-Dzkir dan At-Tanzil.

 

1.      Al-Qur’an

 

 

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

 

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al-Isra :9)

 

 

2.      Al-Kitab

 

لَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ كِتَٰبًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

 

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?. (QS. Al-Anbiya : 10)

 

 

3.      Al-Fur’qan

 

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

 

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqan : 1)

 

 

4.      Adz-Dzkir

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr:9)

 

 

5.      At-Tanzil

 

وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, (QS. Asy-Syu’ara: 192)

 

 

*Sifat-Sifat Al-Qur’an*

 

 

Al-Qur’an selain memiliki nama-nama sebutan lain, Al-Qur’an juga memiliki sifat dan karakteristik dari essensi Al-Qur’an itu sendiri.  sebuah sifat dan karakteristik yang menggambarkan sifat-sifat indah nan agung. diantara  sifat dan karakteristik Al-Qur’an itu adalah  An-nur (cahaya), Al-Huda (petunjuk kebenaran), Syifa (obat), Rahmat, Mau’idzah (sebuah pelajaran), Mubarak (keberkahan), dan lainnya.

 

 

1.      An-Nur

 

يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَكُمۡ بُرۡهَانٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَاَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكُمۡ نُوۡرًا مُّبِيۡنًا‏

 

Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an). (QS. An-Nisa : 174).

 

 

2.      Huda, Syifa, Rahmat dan Mauidhah

 

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُمۡ مَّوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوۡرِۙ وَهُدًى وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ

 

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Yunus:57).

 

 

3.      Mubarak

 

 

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (92)

 

 

Dan ini (Al-Qur'an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan mereka selalu memelihara shalatnya. (QS. Al-An’am : 92).

 

 

4.      Mubien

 

 

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15)

 

Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan. (QS. Al-Maidah : 15)ز

 

 

5.      Busyra

 

قُلۡ مَنۡ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِيۡلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلۡبِكَ بِاِذۡنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَهُدًى وَّبُشۡرٰى لِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ‏

 

 

Katakanlah (Muhammad), "Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman." (QS. Al-Baqarah : 97)

 

 

6.      ‘Aziz

 

اِنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بِالذِّكۡرِ لَمَّا جَآءَهُمۡ‌ۚ وَاِنَّهٗ لَـكِتٰبٌ عَزِيۡزٌۙ‏

 

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an ketika (Al-Qur'an) itu disampaikan kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya (Al-Qur'an) itu adalah Kitab yang mulia, (QS. Fushilat: 41)ز

 

 

7.      Majid

 

بَلۡ هُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِيۡدٌ

Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, (QS. Al-Buruj: 21)ز

 

 

8.      Basyir Dan Nadzir

 

كِتٰبٌ فُصِّلَتۡ اٰيٰتُه قُرۡاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوۡمٍ يَّعۡلَمُوۡنَۙ-بَشِيۡرًا وَّنَذِيۡرًا‌ ۚ فَاَعۡرَضَ اَكۡثَرُهُمۡ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُوۡنَ

 

 

Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan. (QS. Al-Fushilat: 3-4).

 

 

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

 

Kamis, 04 Februari 2021

AL-QUR’AN LENTARA KEHIDUPAN

 

Oleh : Misbahudin

 


*Al-Qur’an Dan Fitrah Manusia*

 

Diantara tanda karunia dan kasih sayang Allah atas umat manusia, Dia tidak meninggalkan manusia begitu saja dalam  mengarungi  kehidupannya tanpa arahan dan bimbingan dari-Nya. Manusia tidak dibiarkan hidup hanya berdasarkan akal, insting dan  “sinyal” fitrah semata dalam mencari hakikat sebenanarnya dan memaknai kehidupannya.

 

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

 

Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)



Fitrah keimanan sebagai petunjuk hati yang berbisik lembut dan membing jiwa manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi adakalnya fitrah keimanan jika tidak bersambut dengan wahyu, bisa menjadi salah sasaran atau salah penyaluran sehingga manusiapun terperosok kedalam jurang kekeliruan dan kesesatan.

 

Maka penting fitrah itu bersenyawa dengan wahyu. Agar fitrah itu bisa terpimpin dengan benar dan manusiapun bisa menjalani kehidupan di jalan yang benar sesuai dengan apa yang Tuhan semesta alam inginkan.

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

 

_”Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”_. ( H.R. Malik)


Bayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa bimingan wahyu?, manusia pasti hidup dalam kekacauan dan kekeringan jiwa, jika ada yang menempuh jalan spiritual alami tanpa bimbingan ilahi, maka akan melahirkan manusia yang tidak seimbang dalam menjalani kehidupannya. Ada mereka memutuskan dari kehidupan dunia, menyepi sendiri dan “bertapa” tidak menikah, sedikit makan dan lain sebagainya dalam usaha mereka mencari pemaknaan hidup.

 

Sebagaimana ada tiga orang sahabat yang berkunjung ke rumah Nabi dan menanyakan hal ikhwal ibadah nabi, mereka berambisi untuk melakukan yang terbaik tetapi tanpa bimbingan wahyu.

 

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

 

“Ada tiga orang yang pernah datang ke rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka diberitahu, tanggapan mereka seakan-akan menganggap apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa-biasa saja.

 

Mereka berkata, “Di mana kita dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal dosa beliau yang lalu dan akan datang telah diampuni.” Salah satu dari mereka lantas berkata, “Adapun saya, saya akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata, “Saya akan berpuasa terus menerus, tanpa ada hari untuk tidak puasa.”


Yang lain berkata pula, “Saya akan meninggalkan wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Kaliankah yang berkata demikian dan demikian. Demi Allah, aku sendiri yang paling takut pada Allah dan paling bertakwa pada-Nya. Aku sendiri tetap puasa namun ada waktu untuk istirahat tidak berpuasa. Aku sendiri mengerjakan shalat malam dan ada waktu untuk tidur. Aku sendiri menikahi wanita. Siapa yang membenci ajaranku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401)



Maka penting hati untuk merenungi wahyu ilahi, pendengaran mendengarkan nasihat kebenaran, dan mata untuk melihat tanda-tanda bukti kebaran. Karena jika semua itu tidak dilakukan, maka fitrah keimanan itu akan terkubur kedalam dasar jiwa yang gelap.  Dan mata hatipun akan buta untuk menemukan dan melaksanakan kebanaran.  Ketika mata hati manusia buta, maka mereka akan berelovusi menjadi tak ubahnya hewan liar. 

 

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 

 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al-Araf : 179)

 

Manusia dalam perkembangan  pemikiran dan kemajuan teknologi,  akan senantiasa  membutuhkan wahyu untuk  tempat berpijak dan menjadikannya sebagai lenteran kebenaran untuk mencari solusi dari setiap permasalah  dan tantangan yang dihadapi pada setiap kurun zaman. Wahyu yang berkolaborasi dengan fitrah manusia dan kemajuan zaman akan melahirkan sebuah peradaban ilahiyah dan menjadikan tempat dimana mereka tinggal menjadi sebuah negeri yang subur Makmur dan penuh dengan ampunan Allah, _“badatun thayyibun warobul ghafur”_.

 

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

 

Rabu, 03 Februari 2021

AKAR KATA AL-QUR’AN

 

Menelusuri akar kata Al-Qur’ab terdapat dua pendapat, ada yang mengakatakn bahwa Al-Qur’an adalah isim yang mustaq, sebuah kata yang mempunyai akar katanya. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kata jadian yang tidak memiliki  akar katanya.

 

*Al-Qur’an berakar kata dari kata Qara’a*

 

Pendapat ini mengatakan bahwa Al-Qur’an berasal dari kata _Qara’a-yaqrau-Qur’anan wa Qiraatan_. Qara’a memiliki arti  mengumpulan  _(aljam’u)_ dan menghimpun _(adz-dzamu)_.  Maka kata   Al-Qur’an dan Qiraah  memiliki arti penghimpunan huruf, kata dan kalimat satu yang tersusun rapih  dalam sebuah rangkaikan kalimat  tersusun rapih.  

 

Pendapat ini berlandaskan firman Allah.

 

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18)

 

_Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya, Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu._  (QS. Al-Qiyamah : 17-18)

 

Dalam ayat diatas terdapat  kata “Qur’anah”,   maksdunya adalah _Qiraatuhu_ (bacaannya).   Oleh karena itu dapat disimpulkan Al-Qur’an adalah isim Masdar dengan wazan _(fu’lanun)_. Sama dengan isim Masdar dari kata _(ghafara)_ yaitu _”Ghufranun”_, dan kata syakara menjadi _“syukranun”_.

 

Selanjutnya,  kata “Al-Qur’an” dikhususkan  kepada kitab  yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad, hal ini sudah masyhur di kalangan masyarata dari generasi ke generasi. Dan juga kata Al-Qur’an juga dipakai sebagai manifestasi  dari lafadz-lafadz  dan ayat-ayat secara keseluruhan di dalam Al-Qur’an.  Maka ketika  kita membaca sebagian ayat Al-Qur’an.  maka  dibolehkan menyebut ayat tersebut dengan Al-Qur’an. “dia sedang  membaca Al-Qur’an).

 

*Al-Qur’an Sebagai Kata Jamid (Asli)*

 

Pendapat yang kedua, Berbeda dengan pendapat pertama, pendapat kedua mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalimat _jamid_ (kata yang berdiri sendiri) tidak memiliki arta kata.  sebagaimaka kata­ _ “hajarun”_ (batu) itu adalah kata yang jamid (asli) tidak ada akar katanya. Sudah baku menjadi kalimat jadi.

 

Ada pendapat juga yang mengatakan bahwa Al-Qur’an pada asalnya tidak berhamjah “quran”  karena dianggap berakar kata dari _“qarana”_, _Qarana syain bisyain_ yaitu menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.  Dan ada yang mengatakan Al-Qur’an itu berakar kata dari _“Qara’in”_ ( saling berpasangan), mereka beralasan ayat Al-Qur’an, satu dengan yang lainnya  saling menyerupai .

Pendapat kedua, ketiga  ini adalah pendapat yang lemah _(marjuh)_ sedangkan pendapat pertama yang mengatakan bahwa Al-Qur’an berasal dari kata _“Qara’a-yaqrau-Qur’anan wa qiraatan”_ adalah pendapat yang paling kuat _(Ar-Rajih)_.

 

*Pengertian Al-Qur’an Yang Mu’tabar*

 

Jika melihat pengertian Al-Qur’an secara istilah, maka kita dapati pendapat ‘Ulama yang  mecoba mendefiniskan Al-Qur’an  agar mencapai hakikat Al-Qur’an itu sendiri dan membedakannya   dengan kitab yang lainnya.  Diantaranya adalah Dr. Manna’ Al-Qaththan dalam kitabnya Mabahits fi Ulum Al-Quran, beliau memberikan definisi bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah (perkataan allah) yang turun kepada Nabi Muhammad SAW dimana membacanya menjadi ritual ibadah.

 

كلام الله المنزل على محمد ص  المتعبد بتلاوته

 

 

Berbicara masalah Al-Kalam, maka  cakupannya begitu luas baik Al-Qur’an atau pun kitab-kitab sebelum Al-Qur’an seperti Taurat, Zabur, Injil atau bahkan kalam Allah secara luas yang mencakup ilmu_Nya yang begitu luas tidak terhingga dan tidak terukur.

 

 

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109) قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)

 

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi : 109--110.

 

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (26) وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (27)

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (Ilmu-Nya dan Hikmat-Nya) . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman : 26-27)

 

Maka Al-Kalam dalam kontek Al-Qur’an mempunyai arti sesuatu yang mencakup semua perkataan, dan kalam ini disandarkan kepada Allah, maka secara otomatis kalam ini mengecualikan  dari  kalam atau perkataan manusia dan jin dan malaikat. 

 

 

Dan kata “munazalun” (diturunkan)  mengecualikan kalam Allah  yang khusus untuk dirinya sendiri  selain kalam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.  Karena kalam Allah mencakup ilmu yang begitu luas, akala manusia secerdas apapun  tidak akan mampu untuk mencapai dan mengkonsepsinya ilmu Allah yang begitu luas, hal ini tergambar dalam firman Allah

 

 

Sedangkan kalimat selanjutnya, pembataskan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, hal ini mengecualikan kalam Allah yang diturunkan kepada  nabi dan rasul sebelumnya, yaitu taurat, injil, jabur dan lain sebagainya.

 

 

Dianggap ibadah membacanya, “muta’abbadun bitilawatihi”  mengecualikan  dari pembacaan-pemcaan hadits Nabawi dan hadist qudsi. Karena Al-Qur’an Allah turunkan dengan ma’na dan redaksi lafadznya. Dianggap ibadah  Ketika membacanya  mengandung makna  perintah untuk membacanya di dalam shalat dan selain di dalam shalat dianggap sebagai ibadah.

By : Misbahudin

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel