Sabtu, 17 Oktober 2020

. *GETARAN HATI SANG PENCINTA ILAHI*

 

Oleh : Misbahudin

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) keimanannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal”. (Qs. Al-Anfal).

 

*Merefleksi Hati  dari Sebuah Definisi*

 

Getaran hati  yang dirasakan oleh para pencinta Ilahi, Allah ungkapan dengan menggunakan kata _“ Wajila-Yujalu-Wajalan”_ yang berarti,  bergetar, takut. Getaran hati tersebut lahir dari sebuah rasa pengangungan dan pemujaan dan segala rasa yang menggambarkan kondisi hati yang benar-benar “terhipnotis” dengan sesuatu yang dikagumi.

 

Itulah salah satu tanda dari ciri para pencinta sang ilahi yang sejati, hati yang benar-benar ada dalam ketaqwaan sebenar-benarnya taqwa  sebagaimana perintah-Nya.

 

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102)

 

Gambaran gemetarnya hati para pencinta sejati adalah Ketika disebut nama Allah “gemetar” hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an maka bertambahkan keimanan mereka dari keimanan yang sudah ada, karena kejernihan hati mereka, sehingga fitrah keimanan yang ada dalam relung-relung jiwa mereka menjadi bak koneksi internet yang sedang dalam kondisi kuat untuk mengirim dan menerima apapun.

 

Begitu juga hati para Pecinta Ilahi, hati mereka senantiasa terkoneksi kepada fitrah ketauihidan mereka, maka tidak heran Ketika disebut nama Allah dan dibacakan ayat-ayat cinta dari-Nya. Maka  hati orang yang beriman pun semakin kuat keimananya, sehingga menghasilkan sebuah kepasrahan diri, ketawakalan diri dan  sebuah harapan yang hanya digantungkan kepada yang dicintainya. Hati mereka  tidak merasa gentar dan takut keculai kepada-Nya.


Tentunya, Gemetar hati orang yang beriman ini, merupakan sebuah akumulasi dari sebuah  gejolak rasa, sebuah rasa yang tidak cukup dijelaskan dengan untaikan kata-kata, karena rasa adalah sebuah “sensasi” yang harus dirasakan oleh idra yang terdalam dalam diri manusia yaitu hati, hati harus bergerak kepada kondisi dimana hati ini bisa merasakan “getaran”  Ketika mendengar nama Allah, maka barulah paham dengan pemahan yang kaafah apa yang dimaksud dengan “getaran”  hati tersebut.   sama halnya dengan rasa manis, sekuat dan secanggih apapun kita menyusn untaian kata-kata dalam sebuah diksi untuk menjelaskan rasa manis, maka akan Nampak sia-sia begitu saja, kecuali, jika kita langsung menjulurkan lidah kita ke gelas berisi teh manis sambil ditemani si manis, barulah kita paham nikmatnya teh manis ditemani dengan si manis.

 

*Mencari Jalur “Getaran” Hati Para Pecinta Sejati*

 

Dalam hadits kedua dalam hadits arbain Imam An-Nawai, yang dikenal dengan hadits Jibril, disana Rasulullah secara tidak langsung  menjelaskan tentang Tingkatan-Tingkatan  hati manusia dalam kualitas  ketaatan mereka kepada Allah.

 

*Tingkatan pertama,  Islam,* Tingkatan kualitas manusia seperti ini, baru hanya sebatas cangkangnya saja, baru sebatas  kemasan saja,  tingkatan  hamba Allah yang paling bawah, karena baru sebatas melaksanakan hal-hal yang sifatnya jasadiah atau amalan-amalan dhahir, sebagai mana Sabda Rasulullah Ketika ditanya oleh Jibril “Akhirni Ani Islam”. Maka Rasulullah menjawab dengan lima hal, Syahadat, Shalat, puasa, zakat dan menunaikan haji.

 

Definisi diatas baru sebatas amaliah lahiriah, yang tatarannya baru “cangkang”nya saja  (eksoteris) belum masuk ke ranah esoteris manusia yang paling dalam yaitu yang berkaitang dengan keyakinan hati atau _af’alul qulub_.  Tingkatan yang lebih dalam yaitu keimanan.  Dimana Rasulullah memberikan sebuah diksi keimanan lebih megakar kedalam sanubaru manusia yang paling dalam. Sebuah relung-relung jiwa yang tak kasat mata.

 

*Tingkatan kedua, Iman*. Dalam hadits Jibril, digambarkan, setelah Rasulullah menjawab hakikat Islam, Jibril bertanya lagi tentang konsep Iman, “Akhibirni ‘anil Iman”. Rasulullah menjawab, “ Iman Adalah engaku beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, Rasul-Rasulnya, hari akhir dan iman kepada Takdir yang baik dan buruk”.

 

 Definis yang dilontarkan kepada Rasulullah ini berkaitan erat dengan keyakinan hati sebuah _af’aul qulub_ yang sifatnya lebih dalam dan lebih privasi tidak bisa manusia menilai kualitas keimanan seseorang dalam ranah ini, manusia hanya bisa menilai dari ranah yang bisa diekplorasi oleh indra mata saja.

 

Hal ini diperkuat dengan Firman Allah, yang menceritakan datangnya arab badui kepada Rasulullah, dan mendeklrasikan dirinya sudah beriman, tetapi Rasulullah meluruskan penyataanya, “ katakanlah aku sudah berislam”.

 

_Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"_. (QS. Al-Hujurat : 14).

 

Dari hadits Jibril dan firman Allah diatas,  dapat disimpulkan bahwa  keimanan adalah sebuah taraf tertinggi  dari pada keislaman. 

 

*Tingkatan Ketiga,  Ihsan*

 

Ihsan dalam hadits Jibril merupakan sebuah “tingkatan” tertinggi dalam kualitas dirinya di mata Allah,  Rasulullah menggambarkan konsep Ihsan dalam sebuah diksi, _“Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihatnya, jika kamu tidak mampu melihatnya, maka yakinlah bahwa dia melihatmu”_

 

Sebuah penjelasan yang begitu singkat  tetapi begitu padat, bagaimana point pertama ditekankan tentang “beribadahlah seolah-olah engkau melihatnya”,  kata-kata berikutnya memberikan sebuah alternatif pilihan, seperti memberikan peluang kepada hamba-hambanya yang beriman ingin masuk pada golongan para pencinta sejati, tetapi mereka tidak sanggup masuk ke “tingkatan” itu dengan ungkapan kata-kata,  _*“jika kamu tidak dapat melihatnya, Maka yakinilah bahwa diri melihatmu”*_.  

 

Tingkatan ihsan adalah kondisi dimana seorang hamba Allah begitu dekat dan merapat “disisinya”. Apa yang dicintai Allah akan secara otomatis menjadi kecintannya,  dan begitu juga sebaliknya, apa yang dibenci oleh Allah akan menjadi sesuatu yang dia benci. ,  sebagaimana yang digambarkan dalam sabda Rasululah

 

_“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.”_ (HR. Bukhari)



Maka mereka yang sudah masuk “tingkatan” Ihsan mereka pasti adalah orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang beriman, mereka pasti adalah orang yang Islam, dan sebaliknya setiap yang Islam belum tentu mereka beriman, dan orang yang beriman belum tentu mereka mencapai “timgkatan” Ihsan.

 

“Tingkatan” Ihsan ini adalah tingkatan yang tertinggi yang bisa dicapai manusia dalam proses mujahadah “Rod To God”. Maka tidaklah heran bagaimana kualitas keimanan itu menghasilkan pribadi-pribadi yang luar biasa, bagaimana para sahabat Rasulullah digambarkan sebagai orag-orang yang Ketika malam tiba mereka seperti halnya rahib-rahib yang beribadah dengan penuh kekhusuan dan keikhlasan,  jiwa mereka “berektase” dalam dalam lautan dzkir sehingga menjadikan jiwa-jiwa mereka bergetar dan tercucurlah air mata tanpa mereka sadari sebuah jiwa yang benar-benar ingin menjadi kekasih Allah, senantiasa beristigfar karena kelalaian atau ibadah yang mereka anggap belum maksimal.

 

Tetapi, Ketika siang datang menyapa, mereka berubah menjadi pribadi-pribadi yang menggetarkan musuh-musuh Allah, hati yang lembut di malam hati itu berubah menjadi hati-hati yang kuat dan kokoh, siap melawan apapun yang menjadi musuh-musuh Allah, sebuah getaran hati dari sebuah cinta yang sejati yang siap mengorbankan apapun yang mereka miliki termasuk jiwa mereka.

 

Wallahu ‘alam  

 


==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial


Senin, 12 Oktober 2020

Pengagungan Para Sahabat Terhadap Al-Qur’an

Oleh : Misbahudin

 

Al-Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah yang kekal keberadaannya sampai hari akhir, untuk  menunjukan kepada dunia kebenaran Islam, mematri keimanan yang kokoh dalam jiwa-jiwa pengikutnya dan membungkan mulut dan akal manusia yang menganggap bahwa Al-Qur’an adalah produk Nabi Muhammad. Tidak ada satupun manusia dari jaman Nabi Muhammad sampai dengan akhir jaman yang mampu menandingi Al-Qur’an.

 

_“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”_. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 23).


 Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya,  Ya'lu Walaa Yu'la ‘Alahi. Kemajuan zaman dengan berbagai teknologi dan pengetahuan yang terus berkembang tidak ada matinya, tidak menjadikan Al-Qur’an  “expired”  untuk dijadikan nutrisi hidup dan kehidupan umat Manusia.  Kemajuan dan perkembangan zaman tersebut malah menjadikan Al-Qur’an semakian jelas dan terang kebenarannya, layaknya sengatan Mentari disiang hari.

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya” [ QS. al-Hijr:9]

 

Allah menurukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengeluarkan umat manusia  dari kegelapan zaman menuju kepada cahaya zaman yang menyinari peradaban dunia, Allah memberikan petunjuk kebenaran dengan Al-Qur’an . sehingga manusiapun mempunyai sebuah pegangan hidup yang kuat untuk keselamatan dunia dan akhirat mereka.

 

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Hakim).


Rasulullah menyampaikan Al-Qur’an kepada para sahabatnya yang merupakan orang arab asli, mereka memahami Al-Qur’an dengan naluri kebahasaan mereka, dan jika mendaptakan ketidak jelasan  maksud dari Al-Qur’an karena keterbatasan pengetahuan dan nalar mereka, mereka pun meminta pencerahan kepada Rasulullah.

 

Ibnu Mas’ud  berkata, “ Ketika turun ayat,  sesungguhnya  orang-orang yang beriman  mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kedzaliman” (QS. Al-An’am: 82), maka ayat tersebut membuat sesak dada para sahabat karena begitu berat terasa tuntutan dari Ayat tersebut, Maka Sahabatpun memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, _“Wahai Rasulullah, siapakah diantara kita yang tidak pernah mendzalimi diri mereka sendiri?”_,  Rasul pun menjawab, _“ kedzaliman disini bukanlah kedzaliman yang kalian maksud”_, tidakkah kau pernah mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh, “ “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman :13). Sesugguhnya yang dimaksud kedzaliman itu adalah kesyirikan.

 

Rasulullahpun  terkadang memberikan tafsiran untuk hal-hal yang dianggap asing atau tidak dipahami masudnya oleh para sahabat, sebagaimana  yang dinyatakan oleh imam muslim dan yang lainnya yang bersumber dari ‘Uqbah Bin Amir.

 

Aku Pernah mendengar Rasulullah  berkata diatas mimbar, _“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi”_ (Al-Anfal:60), ingatlah kekuatan disini adalah memanah.

 

*Antusiasme Para Sahabat Menerima Al-Qur’an*

 

Para sahabat begitu antusias menerima Al-Qur’an untuk dihafal, dipahami hukum-hukumnya dan mengamalkannya, karena hal tersebut merubakan sebuah kemulian hidup bagi menurut mereka. Mereka yakin kualitas kehidupan dan pembuka keberkahan hidup adalah  dilihat dari jauh tidaknya jiwa mereka dengan Al-Qur’an.  Sebagaimana yang diceritakan oleh Anas Bin Malik, “ jika seseorang diantara kami telah membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran maka sungguh dia menjadi begitu istimewa di mata kami”.  

 

Hal ini diperkuat  dengan hadits dari Abu Abdurhaman As-sulami. Beliau bekata telah menceritakan kepada kami, orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti Utsman bin Affan, Abdullah Bin mas’ud dan yang lainnya, sesungguhnya mereka jika belajar Al-Qur’an dari Nabi _shallahu ‘alahi wasalam_ sepuluh ayat, maka kami tidak akan melajutkannya  sehingga mereka dapat memahami secara sempurna maksud ayat tersebut  dan sudah mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Mereka berkata, _“Kami mempelajari ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya secara bersamaan”_.

 

Penjagaan terhadap kemurnian Al-Qur’an sudah dilaksankan di zaman Rasululah, Rasulullah  tidak mengijinkan  para sahabat  untuk tidak mencatat  selain dari catatan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan tercampurnnya Al-Qur’an dengan hadits Rasulullah.  Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim, bahwanya Nabi Bersabda, _“ Janganlah kalian  menulis sesuatu yang datang dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an Maka hendaklah dia menghapusnya. dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka.”_


Tetapi  sesudah itu,  Rasulullah mengijinkan para sahabatnya  untuk menuliskan hadits  yang mempunyai  hubungan erat dengan penjelasan ayat Al-Qur’an  dengan periwayatan secara talaqi di jaman Rasulullah  dan di jaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar untuk mengokohkan pemahaman umat terhadap Al-Qur’an.

 

*Al-Qur’an Pada Masa Kekhalifahan*

 

Ketika di jaman kekhalifahan Abu Bakar, terjadi tragedy berdarah  di peperangan Yamamah yang menggugurkan 70 orang sahabat yang hafidz Qur’an. Hal ini mengiris hati  Umar Bin Khattab sehingga Umar pun  mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang pernah ditulis pada masa Rasulullah SAW.

 

Abu bakar merasa berat hati dengan usulan Umar ini, karena hal ini  belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. tetapi akhirnya Umar Behasil meyakinkannya demi kemaslahan yang lebih besar. Maka  dibentuklah sebuah tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas tersebut.

 

Sumber utama penulisan tersebut adalah hafalan sahabat dan catatan tulisan Al-Qur’an yang dituliskan di hadapan Nabi.  Untuk menguatkan keaslian ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, maka dihadirkanlah dua orang saksi yang adil.


Zain Bin Tsabit dan Tim mengalami kesulitan pada saat penulisan surat At-Taubah ayat 128, banyak sahabat yang menghafal ayat tersebut, tetapi malangnya, tidak ditemukan tulisan ayat tersebut, dan kegalaun Zaid pun siran seketika Ketika naskah ayat tersebut ditemukan ditangan Abu Khuzaimah Al-Anshari.

 

Mushaf Al-Qur’an pun selesai dirampungkan oleh Zaid, lalu disimpanlah  oleh Abu Bakar sampai akhir hayatnya. Setelah itu berpindah  tangan kepada Umar bin Khattab. Sepeninggal Umar, Mushaf di ambil oleh hafsah binti Umar.

 

Ketika jaman kekhalifahan Ustman munculah dorongan-dorongan dari sebuah realitas jaman yang menuntut Al-Qur’an dibukukan secara padu menjadi satu mushaf,  karena di jaman itu telah terjadi perselisian-perselihan bacaan sehingga tidak sedikit memicu perseteruan antara kamu muslimin.

 

Maka Al-Qur’an pun dibukukan menjadi satu muashaf dan dinamailah  “mushaf Imam” dan maushaf tersebut  dikirimkan ke propinsi-propinsi dibawah kekhalifan Ustman untuk menjadi panduan dan standar Bacaan Al-Qur’an yang benar.  Dan mushaf itu popular dengan  sebutan “mushaf Utsman”, dan hal ini menjadi awal  lahirnya ilmu Rasam Al-Qur’an.

 

Ketika jaman Ali Bin Abi Thalib Al-Qur’an dikuatkanlah Keberadaannya dalam rangka menjaga kaum muslimin dari kesalahan Ketika membaca Al-Qur’an. Maka Beliau memerintahkan Abu Aswad Ad-Da’ali untuk Menyusun qaidah nahwiyah  sebagai Langkah prefentif untuk menjadi standar baku cara pengucapan yang tepat untuk Al-Qur’an.  Maka peristiwa ini menjadi momentum awal lahirnya ilmu I’rabul Qur’an.

 

Kecintaan Sahabat terhadap Al-Qur’an melahirkan tradisi dan budaya estapeta keilmuan. Mereka senantiasa nyampaikan  makna-makna dan tasfir Al-Qur’an kepada generasi selanjutnya sesuai dengan kadar kemampuan pemahaman mereka dan berdasarkan lama tidaknya mereka hidup Bersama Rasulullah, tradisi ini terus berlanjut kepada generasi selanjutnya  dari kalangan tabi’in dan tabiut tabiin.

 

============================================================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

📷 IG : http://bit.ly/misbahudinofficial


Rabu, 16 Oktober 2019

TUJUAN UTAMAN KEKUASAAN DAN KEKAYAAN



Oleh : Misbahudin

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menegaskan bahwa Islam mengarahkan kekuasaan dan kekayaan di jalan Allah. Jika tujuan dalam berkuasa dan meraih harta kekayaan  adalah mendekatkan diri kepada Allah dan menginfakan di jalan Allah, niscaya hal itu dapat menjadikan baik agama dan dunianya.

Jika kekuasaan politik dipisahkan dari agama atau agama dipisahkan dari kekuasaan, kondisi manusia pasti akan rusak, hidup dan kehidupan akan semraut  tak beraturan, hanya hawa nafsu yang menjadikan rujukan untuk bertindak dan membuat kebijakan.

Orang yag patuh kepada Allah berbeda dengan orang yang bermaksiat kepada_Nya melalui niat dan amal shalih. Sebagaimana disebut dalam sabda RasuluLLah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Tatkala banyak penguasa yang ketika berkuasa terlalu  mengejar kekayaan dan pangkat, niscaya mereka pun semakin jauh dari iman serta agama yang hakiki dan sempurna. Ada juga diantara para penguasa  yang lebih mengutamakan  agama tapi mengabaikan sarana penyempurnanya  dari urusan-urusan dunia.

Sebaliknya, ada yang merasa dirinya tergantung kepada sarana tersebut lalu dia menempuhnya  dan mengabaikan pertimbangan agama, karena menurutnya agama bertolak belakang  dengan sarana tersebut. Ia menganggap agama yang difungsikan pada posisi-posisi memberi kasih sayang dan kerendahan, tidak pada tempat-tempat ketinggian dan kemuliaan.

Begitulah kondisi pengikut dua agama  (yahudi dan Nasrani). Ketika mereka sudah tidak mampu menjalankan agama secara sempurna  dan berkeluh kesah menghadapi ujian yang datang ketika menegakan agama, ajaran mereka  dianggap lemah dan rendah oleh orang yang meyakini bahwa kemaslahatan manusia tidak akan dicapai melalui agama.

Inilah dua jalan sama-sama rusak, jalan kaum yang menisbatkan  diri kepada agama tapi tidak menjalankannya secara sempurna  melalui perantara kekuasaan, jihad, dan kekayaan yang menjadi kebutuhan  dan jalan orang-orang yang menjalankan kekuasaan, kekayaan dan peperangan bukan untuk tujuan menegakan agama. Keduanya adalah jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang  yang sesat.

Jalan pertama ditempuh oleh kaum nasrani dan jalan yang kedua ditempuh oleh kaum-kaum yahudi. Sementara jalan yang lurus  adalah jalan orang yang Allah beri rahmat  dan nikmat dari kalangan para Nabi, oarng-orang sidiq, para syuhada dan orang-orang yang shalih.

Itulah jalan yang ditempuh RasuluLLah, para khalifah ar-rasyidin, para sahabat RasuluLLah dan  siapa saja yang meniti jalan mereka, jalan orang yang bersegera  menuju Islam  dari kalangan muhajirin dan ashar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah.

Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah keberuntungan yang  besar.

Ÿw tbqç7è%ötƒ Îû ?`ÏB÷sãB ~wÎ) Ÿwur Zp¨BÏŒ 4 šÍ´¯»s9'ré&ur ãNèd šcrßtG÷èßJø9$# ÇÊÉÈ  
 “Mereka tidak memelihara (hubungan) Kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. At-taubah : 10)

Mengangkat Pemimpin Shalih Lebih Baik Daripada Orang Kafir

Kewajiban bagi seorang muslim adalah berusaha dengan maksimal sesuai dengan kemampuan yang dia miliki, siapa saja yang mengemban  suatu tugas kepemimpinan dengan niat menaati Allah, menjalankannya sesuia dengan ajaran Islam, memenuhi maslahat kaum muslimin serta melarang hal-hal yang haram kepada mereka sesuai dengan kemampaunnya, niscaya tidak akan disalahkan dalam hal-hal yang ia tidak mampu.

Bagaimanapun mengangkat pemimpin  dari kalangan orang-orang yang shalih itu lebih baik bagi umat Islam  daripada mengakat pemimpin dari kalangan orang-orang kafir.

Siapa saja yang tidak mampu menegakan agama Islam melalui  kekuasaan  dan jihad, lalu ia melakukan  apa yang ia sanggupi  seperti memberikan kesetiaan  hati dan doa  terhadap  umat Islam , mencintai kebaikan  dan menjalankan  kebaikan  yang ia mampu, niscaya ia tidak akan di bebani menjalankan apa yang ia tidak mampu.

Agama Tegak Dengan Tegaknya Al-Qur’an

Sesungguhnya agama itu hanya tegak dengan Al-Qur’an pemberi petunjuk dan besi sebagai pembela, sebagaimana disebutkan oleh Allah.

Oleh karena itu, kita harus berusaha maksimal  untuk mendahulukan Al-Qur’an secara ikhlas karena Allah dan mengharapkan pahala disisi-nya , seraya memohon pertolongan darinya dalam menjalankan tugas tersebut.

Dunia pada hakikatnya adalah berfungis  sebagai pelayan agama , sebagimana perkataan Muadz Bin Jabal, “ wahai anak adam, engkau membutuhkan bagianmu  dari dunia, tetapi bagian akhiratmu lebih membutuhkannya. Jika kamu lebih mengutamakan sebagian duniamu maka bagian akhiratmu akan luput, sedangkan bagian duniamu juga dalam keadaan mengkhwatirkan. “

Dasar ucapan  Muadz ini adalah riwayat tirmidzi dari Nabi Muhammad ShalaLLahu ‘Alahi wasalam.

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”

Dan Firman Allah Subhanahu Wata’ala

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ   !$tB ߃Íé& Nåk÷]ÏB `ÏiB 5-øÍh !$tBur ߃Íé& br& ÈbqßJÏèôÜムÇÎÐÈ   ¨bÎ) ©!$# uqèd ä-#¨§9$# rèŒ Ío§qà)ø9$# ßûüÏGyJø9$# ÇÎÑÈ  

“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-dzariayat : 56-58).

# Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_  Bareng :
 Syekh  DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Direktur  An-Nahala Research Forum)