Rabu, 16 Oktober 2019

MACAM-MACAM “SPESIES” MANUSIA PERFEKTIF IBNU TAIMIYYAH



Oleh : Misbahudin



Ibnu Taimiyyah dalam kitab siasah syariyyah,  beliau membagi empat jenis manusa kepada empat golongan manusia.

Pertama, orang yang selalu ingin lebih diatas manusia yang lain dan gemar berbuat kerusakan di muka bumi dengan bermaksiat kepada Allah. Mereka adalah raja-raja dan para penguasa  yang suka berbuat kerusakan, seperti Fir’aun dan bala tentaranya. Mereka adalah seburuk-buruknya mahluk.

Allah Berfirman,

¨bÎ) šcöqtãöÏù Ÿxtã Îû ÇÚöF{$# Ÿ@yèy_ur $ygn=÷dr& $YèuÏ© ß#ÏèôÒtGó¡o Zpxÿͬ!$sÛ öNåk÷]ÏiB ßxÎn/xムöNèduä!$oYö/r& ¾ÄÓ÷ÕtGó¡our öNèduä!$|¡ÏR 4 ¼çm¯RÎ) šc%x. z`ÏB tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÍÈ   

“ Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash : 4)

Muslim meriwatkan  dalam kitab shahihnya dari Ibnu Mas’ud ia berkata, RasuluLlah bersabda’

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Dari Abdullah bin Mas’ûd, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  [HR. Muslim, no. 2749]


Kedua, orang yang hanya ingin berbuat kerusakan tapi tidak menyombongkan diri. Contohnya, para pencuri dari kalangan para penjahat dan manusia-manusia rendahan.

Ketiga, orang yang ingin menyombongkan dirinya tapi tidak ingin berbuat kerusakan, seperti orang-orang yang punya kelebihan di bidang agama yang ingin merasa lebih tinggi di atas orang lain atau manusia yang memiliki lebihan-kelebihan dalam bidang yang lain yang tidak dimiliki orang kebanyakan.

Keempat, orang-orang yang kelak akan menjadi penduduk surga. Yakni mereka tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi, tidak pula ingin berbuat kerusakan, meskipun sebenarnya mereka punya kedudukan yang tinggi di atas orang lain.

Allah berfirman

çmø?yŠ$oYsù èps3Í´¯»n=yJø9$# uqèdur ÖNͬ!$s% Ìj?|ÁムÎû É>#tósÏJø9$# ¨br& ©!$# x8çŽÅe³u;ム4ÓzósuÎ/ $P%Ïd|ÁãB 7pyJÎ=s3Î/ z`ÏiB «!$# #YÍhyur #YqÝÁymur $wŠÎ;tRur z`ÏiB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÌÒÈ  
“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[193] (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS. Ali-Imran : 139)

Ÿxsù (#qãZÎgs? (#þqããôs?ur n<Î) ÉOù=¡¡9$# ÞOçFRr&ur tböqn=ôãF{$# ª!$#ur öNä3yètB `s9ur óOä.uŽÏItƒ öNä3n=»uHùår& ÇÌÎÈ  

“Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu “. (QS. Muhammad : 35)

tbqä9qà)tƒ ûÈõs9 !$oY÷èy_§ n<Î) ÏpoYƒÏyJø9$#  Æy_̍÷ãs9 tãF{$# $pk÷]ÏB ¤AsŒF{$# 4 ¬!ur äo¨Ïèø9$# ¾Ï&Î!qßtÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur £`Å3»s9ur šúüÉ)Ïÿ»oYßJø9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÑÈ  
“Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al-Munafiqun : 8)

Betapa banyak orang yang menginginkan kedudukan yang tinggi  tapi tidak bertambah selain mendapatkan kedudukan yang rendah. Betapa banyak pula orang yang diangkat derajatnya di tempat tertinggi padahal dia  ingin tidak meninggikan diri dan tidak mau berbuat kerusakan.

Mereka seperti itu karena keinginan mereka  menjadi tertinggi di atas orang lain adalah kedzaliman. Pada dasarnya manusia  itu satu jenis, ketika seorang ingin menjadi yang tertinggi di atas yang lain maka itu adalah kedzaliman.

Disamping itu, dzalim juga membuat orang lain membenci dan memusuhinya. Jika diantara mereka  ada yang berkepribadian lurus tentu  dia tidak akan rela menjadi tertindas. Jika diantara mereka  ada yang berkrepribadian  tidak lurus tentu ia igin berkuasa seperti dia. Walaupun disaat yang sama  dalam kaca mata logika agama  selalu ada orang yang derajatnya lebih tinggi  daripada yang lain sebagaimana sudah dijelaskan.

Ibarat tubuh yang tidak sempurna tanpa sebuah kepala.  Allah berfirman,

uqèdur Ï%©!$# öNà6n=yèy_ y#Í´¯»n=yz ÇÚöF{$# yìsùuur öNä3ŸÒ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_uyŠ öNä.uqè=ö7uŠÏj9 Îû !$tB ö/ä38s?#uä 3 ¨bÎ) y7­/u ßìƒÎŽ|  É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur Öqàÿtós9 7LìÏm§ ÇÊÏÎÈ  


“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. Al-An’am : 165)

óOèdr& tbqßJÅ¡ø)tƒ |MuH÷qu y7În/u 4 ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±ŠÏè¨B Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# 4 $uZ÷èsùuur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_uyŠ xÏ­GuÏj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wƒÌ÷ß 3 àMuH÷quur y7În/u ׎öyz $£JÏiB tbqãèyJøgs ÇÌËÈ  

“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Az-Zukhruf : 32).

# Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_  Bareng :
 Syekh  DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Pengasuh  An-Nahala Research Forum)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar