MENURUT IBNU TAIMIYYAH
Oleh :
Misbahudin
Ibnu Taimiyyah dalam ungkapan terakhir dalam
bukunya siasah syariyyah menegaskan bahwa, urusan kepmimpinan umat manusia itu termasuk sbeuah kewajiban
yang terbesar dalam Islam. Bahkan urusan
agama dan dunia tidak akan tegak tanpanya.
Kemaslahatan manusia tidak akan sempurna
tanpa adanya jamaah kaum muslimin, yang
saling bersinergi dan saling mengisi, dan jamaah kaum muslimin tidak akan maksimal keberadaannya dalam hidup dan
kehidupan tanpa pengangkatan seorang pemimpin. Sampai-sampai Nabi bersabda, “
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا
أَحَدَكُمْ.
“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian,
maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609).
Jika kalian keluar dalam bepergian maka hendaklah angkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Dalam urusan yang sederhana, dalam hal ini perjalan safar harus diangkat amiru safar, lalu bagaimana dengan urusan yag lebih besar dari itu semua, yaitu urusan tata kelola kehidupan masyarakat dan tegaknya agama di tengah-tengah umat manusia.
Nabi mewajibkan mengangkat pemimpin dalam
komunitas kecil sifatnya dan incidental sebagai isyarat wajibnya mengangkat pemimpin pada semua jenis perkumpulan. Disisi lain,
Allah mewajibkan amar makruf nahi munkar, sedang itu tidak mungkin terlaksana
dengan baik tanpa adanya kekuatan dan imarah (kepemimpinan).
Begitu juga dengan kewajiban-kewajiban yang
lain. Seperti jihad, penegakan keadilan, penyelangaraan haji, pelaksaan ibadah
jum’at dan hari raya, pembelaan orang
yang terdalimi, dan penegakan hukum hudud, semuanya tidak mungkin berjalan
tanpa sempurna tanpa kekuatan dan
imarah.
Oleh karena itu disbeutkan dalam sebuah
riwayat, dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim :
السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ
أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ
“Penguasa itu naungan Allah l di muka bumi.
Barangsiapa memuliakannya, Allah l pun memuliakannya. Barangsiapa
menghinakannya, Allah l akan menghinakannya pula.”
Berdo’a untuk Pemimpin
Para ulama salaf seperti Fudhail bin iyadh,
Ahmad bin hambal, dan yang lainnya mengatakan , “Jika kami tahu satu do’a
yang dikabulkan, tentu kami akan gunakan untuk mendoakan pemerintah,”.
Dalam Hadits yang lain dijelaskan bahwa
medoakan pemimpin termasuk hal yang diridhoi oleh Allah.
إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ
ثَلَاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا،
وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا، وَأَنْ
تُنَاصِحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ،
وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ.
Sesungguhnya Allâh meridhai kalian dalam tiga
perkara dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian
beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,
berpegang teguh pada tali Allâh dan tidak bercerai berai dan memberi nasehat
kepada ulil amri (pemimpin) yang mengurus urusan kalian. Dan Allâh membenci
kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak bicara (menyampaikan perkataan tanpa
mengetahui kebenarannya), menyia-nyiakan harta (berlebihan, boros), dan banyak
bertanya. (HR.
Muslim)
Dan ternyata subtansi dari agama Ilsam itu
adalah nasihat, nasihat kebaikan untuk taat kepada Allah, Kitab-Nya, Rasulnya dan nasihat yang ditujukan kepada para
pemimpin kaum muslimin.
عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus
ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”.
Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat
itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan
rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Menjadikan Politik Sebagai Bagian Dari Agama
Islam mengatur segala hal dalam setiap sendi
kehidupan, termasuk hal-hal yang dianggap kecil dama keseharian manusia, tetapi
Islam mengaturnya. Dan pasti hal-hal yang lebih besar dari itu Islam
mengaturnya, tidak terkecuali masalah berpolitik yang harus menjadi bagian dari
agama, karena agama tidak akan tegak seutuhnya jika umat Islam menarik diri
dari politik. Karena bejikan-kebijkan
yang bernuansa syariah lahir dari para pemimpin mulsim yang shaleh. Dan jika
kaum muslimin tidak ada yang peduli dengan itu, lalu bagaimana dengan nasib
kehidupan dan agama kaum muslimin dalam sebuah waliyah tersebut?.
Ibnu taimiyyah menegaskan bahwa seyogyanya
imarah itu kita jadikan sebagai bagian
dari agama dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena pendekatan
diri kepada Allah melaluinya asalkan sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya
itu termasuk ibadah yang palin mulia.
Yang membuat kekuasaan itu rusak tidak lain adalah karena banyak oarng yang
ingin mengejar ambisi jabatan dan menumpuka harta darinya, padahal ka’aab bin malik meriwatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda,
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ
وَسَلَّمَ : مَا
ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ
الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia
berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua
serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih
merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan
yang sangat merusak agamanya.” (HR. Tirmidzi).
Dalam kontek hadist diatas Nabi mengabarkan
bahwa mabisi seseorang terhadap harta dan kekuasaan dapat merusak agamanya
bahkan lebih dahsyat daya rusaknya daripada dua serigala lapar yang dilepas di tempat perternakan kambin.
Allah telah memberitakan keadaan orang yang
kelak menerima buku catatan amalnya dengan tangan kiri pada hari akhir, kelak
dia berkata,
!$tB 4Óo_øîr& ÓÍh_tã 2÷muÏ9$tB ÇËÑÈ y7n=yd ÓÍh_tã ÷muÏZ»sÜù=ß ÇËÒÈ çnräè{ çnq=äósù ÇÌÉÈ
“ Hartaku
sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. telah hilang kekuasaanku
daripadaku. (Allah berfirman): "Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya
ke lehernya”. (QS.
Al-Haqqah : 28-29)
Pemimpin Yang Terkutuk
Contoh pemimpin yang terkutuk adalah adalah
Fir’aun karena kekuasaan menjadikannya sombong dan dzalim kepada masyarakatnya
dan penyebab terkutuknya fir’aun adalah karena dia inkar kepada perintah Allah.
Dan manusia kaya dan sukses secara duniawai tetapi terlaknat
adalah Qarun karena dengan kekayaan melupakan dirinya dari hakikat dirinya
sendiri yang tidak mungkin berhasil
tanpa bantuan Allah.
* öNs9urr& (#rçÅ¡o Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàYusù y#øx. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# (#qçR%x. `ÏB óOÎgÏ=ö7s% 4
(#qçR%x. öNèd £x©r& öNåk÷]ÏB Zo§qè% #Y$rO#uäur Îû ÇÚöF{$# ãNèdxs{r'sù ª!$# öNÍkÍ5qçRäÎ/ $tBur tb%x. Nßgs9 z`ÏiB «!$# `ÏB 5-#ur ÇËÊÈ
“Dan Apakah
mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa
kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. mereka itu adalah lebih hebat
kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka
bumi[1319], Maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan mereka
tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. (QS. Al-MU’min : 21)
y7ù=Ï? â#¤$!$# äotÅzFy$# $ygè=yèøgwU tûïÏ%©#Ï9 w tbrßÌã #vqè=ãæ Îû ÇÚöF{$# wur #Y$|¡sù 4
èpt7É)»yèø9$#ur tûüÉ)FßJù=Ï9 ÇÑÌÈ
“Negeri
akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri
dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi
orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qashash : 83).
# Disarikan
Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_ Bareng :
Syekh
DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Direktur An-Nahala Research Forum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar