Rabu, 16 Oktober 2019

SEBUAH REFLEKSI KEPEMIMPINAN ISLAM


 MENURUT IBNU TAIMIYYAH

Oleh : Misbahudin

Ibnu Taimiyyah dalam ungkapan terakhir dalam bukunya siasah syariyyah menegaskan bahwa, urusan kepmimpinan  umat manusia itu termasuk sbeuah kewajiban yang terbesar dalam Islam. Bahkan urusan  agama dan dunia tidak akan tegak tanpanya.

Kemaslahatan manusia tidak akan sempurna tanpa adanya  jamaah kaum muslimin, yang saling bersinergi dan saling mengisi, dan jamaah kaum muslimin tidak akan  maksimal keberadaannya dalam hidup dan kehidupan tanpa pengangkatan seorang pemimpin. Sampai-sampai Nabi bersabda, “

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609).


Jika kalian keluar dalam bepergian maka hendaklah angkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Dalam urusan yang sederhana, dalam hal ini perjalan safar harus diangkat amiru safar, lalu bagaimana dengan urusan yag lebih besar dari itu semua, yaitu urusan tata kelola kehidupan masyarakat dan tegaknya agama di tengah-tengah umat manusia.

Nabi mewajibkan mengangkat pemimpin dalam komunitas kecil sifatnya dan incidental sebagai isyarat  wajibnya mengangkat pemimpin  pada semua jenis perkumpulan. Disisi lain, Allah mewajibkan amar makruf nahi munkar, sedang itu tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa adanya kekuatan dan imarah (kepemimpinan).

Begitu juga dengan kewajiban-kewajiban yang lain. Seperti jihad, penegakan keadilan, penyelangaraan haji, pelaksaan ibadah jum’at  dan hari raya, pembelaan orang yang terdalimi, dan penegakan hukum hudud, semuanya tidak mungkin berjalan tanpa  sempurna tanpa kekuatan dan imarah.

Oleh karena itu disbeutkan dalam sebuah riwayat, dalam As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ

“Penguasa itu naungan Allah l di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah l pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah l akan menghinakannya pula.”

Berdo’a untuk Pemimpin

Para ulama salaf seperti Fudhail bin iyadh, Ahmad bin hambal, dan yang lainnya mengatakan , “Jika kami tahu satu do’a yang dikabulkan, tentu kami akan gunakan untuk mendoakan pemerintah,”.

Dalam Hadits yang lain dijelaskan bahwa medoakan pemimpin termasuk hal yang diridhoi oleh Allah.


إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا، وَأَنْ تُنَاصِحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ.



Sesungguhnya Allâh meridhai kalian dalam tiga perkara dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada tali Allâh dan tidak bercerai berai dan memberi nasehat kepada ulil amri (pemimpin) yang mengurus urusan kalian. Dan Allâh membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak bicara (menyampaikan perkataan tanpa mengetahui kebenarannya), menyia-nyiakan harta (berlebihan, boros), dan banyak bertanya. (HR. Muslim)

Dan ternyata subtansi dari agama Ilsam itu adalah nasihat, nasihat kebaikan untuk taat kepada Allah,  Kitab-Nya, Rasulnya  dan nasihat yang ditujukan kepada para pemimpin kaum muslimin.

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Menjadikan Politik Sebagai Bagian Dari Agama

Islam mengatur segala hal dalam setiap sendi kehidupan, termasuk hal-hal yang dianggap kecil dama keseharian manusia, tetapi Islam mengaturnya. Dan pasti hal-hal yang lebih besar dari itu Islam mengaturnya, tidak terkecuali masalah berpolitik yang harus menjadi bagian dari agama, karena agama tidak akan tegak seutuhnya jika umat Islam menarik diri dari politik.  Karena bejikan-kebijkan yang bernuansa syariah lahir dari para pemimpin mulsim yang shaleh. Dan jika kaum muslimin tidak ada yang peduli dengan itu, lalu bagaimana dengan nasib kehidupan dan agama kaum muslimin dalam sebuah waliyah tersebut?.

Ibnu taimiyyah menegaskan bahwa seyogyanya imarah itu kita jadikan  sebagai bagian dari agama dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena pendekatan diri kepada Allah melaluinya asalkan sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya itu termasuk ibadah yang palin mulia.

Yang membuat kekuasaan itu rusak  tidak lain adalah karena banyak oarng yang ingin mengejar ambisi jabatan dan menumpuka harta  darinya, padahal ka’aab bin malik  meriwatkan dari Nabi bahwa beliau  bersabda,

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR. Tirmidzi).

Dalam kontek hadist diatas Nabi mengabarkan bahwa mabisi seseorang terhadap harta dan kekuasaan dapat merusak agamanya bahkan lebih dahsyat  daya rusaknya  daripada dua serigala  lapar yang dilepas di tempat perternakan  kambin.

Allah telah memberitakan keadaan orang yang kelak menerima buku catatan amalnya dengan tangan kiri pada hari akhir, kelak dia berkata,

!$tB 4Óo_øîr& ÓÍh_tã 2÷muÏ9$tB ÇËÑÈ   y7n=yd ÓÍh_tã ÷muŠÏZ»sÜù=ß ÇËÒÈ   çnräè{ çnq=äósù ÇÌÉÈ  

“ Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. telah hilang kekuasaanku daripadaku. (Allah berfirman): "Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. (QS. Al-Haqqah : 28-29)

Pemimpin Yang Terkutuk

Contoh pemimpin yang terkutuk adalah adalah Fir’aun karena kekuasaan menjadikannya sombong dan dzalim kepada masyarakatnya dan penyebab terkutuknya fir’aun adalah karena dia inkar kepada perintah Allah.

Dan manusia kaya dan sukses secara duniawai tetapi terlaknat adalah Qarun karena dengan kekayaan melupakan dirinya dari hakikat dirinya sendiri yang tidak mungkin  berhasil tanpa  bantuan Allah.

* öNs9urr& (#r玍šo Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàYusù y#øx. tb%x. èpt7É)»tã tûïÏ%©!$# (#qçR%x. `ÏB óOÎgÏ=ö7s% 4 (#qçR%x. öNèd £x©r& öNåk÷]ÏB Zo§qè% #Y$rO#uäur Îû ÇÚöF{$# ãNèdxs{r'sù ª!$# öNÍkÍ5qçRäÎ/ $tBur tb%x. Nßgs9 z`ÏiB «!$# `ÏB 5-#ur ÇËÊÈ  

“Dan Apakah mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi[1319], Maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. (QS. Al-MU’min : 21)


y7ù=Ï? â#¤$!$# äotÅzFy$# $ygè=yèøgwU tûïÏ%©#Ï9 Ÿw tbr߃̍ム#vqè=ãæ Îû ÇÚöF{$# Ÿwur #YŠ$|¡sù 4 èpt7É)»yèø9$#ur tûüÉ)­FßJù=Ï9 ÇÑÌÈ  

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qashash : 83).

# Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_  Bareng :
 Syekh  DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Direktur  An-Nahala Research Forum)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar