Rabu, 16 Oktober 2019

PEMIMPIN YANG SHALEH MELAHIRKAN RAKYAT YANG SHALEH



Oleh : Misbahudin

Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa Ketika para pemimpin  memerhatiakn dengan serius perbaikan agama rakyatnya, mereka semua  pasti akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Jika tidak, pasti akan terjadi ketimpangan dalam segala sektor kehidupan.

Sebagaimana Firman Allah.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Niat Suci Seorang Pemimpin Sejati

Kunci utamanya bagi seorang pemimpin adalah  memiliki niat yang baik terhadap rakyatnya. Memurnikan dan mengikhlaskan hatinya demi tegaknya agama Allah  dan bertawakal kepadanya, sebab ikhlas dan tawakal adalah  kunci utama baiknya para tokoh  dan orang awam. Hal ini sebagaimana perintah Allah kepada kita agar  agar kita mengucapkan  salam shalat, “iyyakana’budu waiyyak kanastain”.  (hanya kepada Allahlah kami menyembah dan hanya kepada Allahlah kami meminta pertolongan).


Ada yang mengatakan, dua kalimat ini telah mencakup semua makna yang terkandung dalam seluruh kitab yang diturunkan  dari langit, diriwatkan bahwa dalam salah satu peperangannya Nabi pernah berkata, “yamaliki yaumid din, iyyakana’budu waiyyakantai’in” (wahai penguasa  hari pembasalan, hanya kepadamu  kami beribadah  dan hanya kepadamu kami memohon  pertolongan), tiba-tiba kepala-kepala musih jatuh berterbangan dari leher-leher mereka.  (HR. Tabhrani).

Kedua hal tersebut sudah Allah sebutkan  di banyak tempat dalam Al-Qur’an, seperti pada Firman Allah.

¬!ur Ü=øxî ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur Ïmøs9Î)ur ßìy_öãƒ ãøBF{$# ¼ã&#ä. çnôç6ôã$$sù ö@ž2uqs?ur Ïmøn=tã 4 $tBur y7/u @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÊËÌÈ  
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud :123)

øŒÎ)ur 3yŠ$tR y7/u #ÓyqãB Èbr& ÏMø$# tPöqs)ø9$# tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÉÈ  
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu”. (QS. Asy-syura : 10)

Nabi ketika menyembelih hewan  kurbannya, mengucapkan kalimat. “ Allahuma hadza  minka wa ilaika”, (ya Allah ini dari mu,  dan kuperuntuhkan untuk mu).

Taktik Dan Strategi Seorang Pemimpin Agar Dimudahkan Segala Urusannya.

1.     Sikap ikhlas karena Allah dan bertawakal kepada_Nya,  melalui do’a dan usaha. Praktik utamanya terletak pada memelihara pelaksanaan shalat lima waktu dengan sepenuh hati diiringi dengan  gerakan fisik.


2.     Berbuat baik kepada seluruh manusia  dengan cara memberi manfaat atau beruba harta  dengan cara  menunaikan zakat.

3.     Bersabar menghadapi sikap yang menyakitkan  dari orang lain dan pedihnya musibah.

Oleh karena itu, seringkali Allah menggabungkan antara shalat  dengan kesabaran, seperti dalam firman_Nya.
(#qãZŠÏètFó$#ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 $pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9 žwÎ) n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$# ÇÍÎÈ  
“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'”. (QS. Al-baqarah : 45)

ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ÇnûtsÛ Í$pk¨]9$# $Zÿs9ãur z`ÏiB È@øŠ©9$# 4 ¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõムÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ 3tø.ÏŒ šúï̍Ï.º©%#Ï9 ÇÊÊÍÈ   ÷ŽÉ9ô¹$#ur ¨bÎ*sù ©!$# Ÿw ßìÅÒムtô_r& tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÊÎÈ  

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Hud : 114-115)

÷ŽÉ9ô¹$$sù 4n?tã $tB tbqä9qà)tƒ ôxÎm7yur ÏôJpt¿2 y7În/u Ÿ@ö6s% Æíqè=èÛ Ä§ôJ¤±9$# Ÿ@ö6s%ur $pkÍ5rãäî ( ô`ÏBur Ç!$tR#uä È@ø©9$# ôxÎm7|¡sù t$#tôÛr&ur Í$pk¨]9$# y7¯=yès9 4ÓyÌös? ÇÊÌÉÈ  
“ Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang “, (QS. Thaha : 130)

÷ŽÉ9ô¹$$sù 4n?tã $tB šcqä9qà)tƒ ôxÎm7yur ÏôJpt¿2 y7În/u Ÿ@ö6s% Æíqè=èÛ Ä§ôJ¤±9$# Ÿ@ö6s%ur É>rãäóø9$# ÇÌÒÈ  

“ Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya) “. (QS. Qaf :  39)

ôs)s9ur ÞOn=÷ètR y7¯Rr& ß,ŠÅÒtƒ x8âô|¹ $yJÎ/ tbqä9qà)tƒ ÇÒÐÈ   ôxÎm7|¡sù ÏôJpt¿2 y7În/u `ä.ur z`ÏiB tûïÏÉf»¡¡9$# ÇÒÑÈ  

“ Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), (QS. Al-Hijr : 97-98)

Hasil Sinergi Shalat Dan Zakat bagi sebuah Negeri

Penyebutan  shalat  bersama zakat dalam Al-Qur’an banyak sekali,  dengan menegakan shalat, menunaikan zakat,  dan bersabar,  keadaan pemimpin dan rakyat akan menjadi baik,  asalkan seseorang tahu sifat apa saja yang terkandung di dalam tiga istilah universal tersebut.

Termasuk dalam makna shalat  adalah mengingat Allah, berdoa kepadanya,  membaca kitab-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya,  dan bertawakal kepada-Nya.  Termasuk dalam makna zakat berbuat baik kepada sesame manusia  dengan memberikan harta,  dan berbagai manfaat, seperti membela orang yang didzalimi, membantu orang yang berkesusahan,  dan membantu menyelesaikan hajat orang yang membutuhkan.

Seperti yang diriwayatkan oleh shahihain
عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ، وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا :  يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : «أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا»

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” [HR. Muslim]

Termasuk di dalamnya adalah segala kebaikan, walaupun sekedar  berwajah berseri,  dan mengucapkan kata-kata baik.

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084)

dan juga dalam firman-firman Allah  menegaskan hal  yang sama, diantaranya terdapat dalam  QS. Hud : 9-11, QS. Al-A’raf : 199, QS. Ali-Imran : 133-134, QS. Al-Fusilat :  34-36,  QS. Asy-syura : 40.

Hasan Al-Bashri  berkata, “ Jika tiba hari kiamat, seorang penyeru  menyeru dari tempat  di antara dua perut arsy : hendaklah berdiri orang yang telah ditetapkan  pahalanya di sisi Allah, tidak ada yang berdiri  selain orang  yang gemar  memberi maaf dan berbuat baik”.  (Al-Hilyah karya Abu Nuaim, IX/204).

# Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_  Bareng :
 Syekh  DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Direktur  An-Nahala Research Forum)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar