Oleh :
Misbahudin
Ibnu
Taimiyyah mengatakan bahwa Ketika para pemimpin
memerhatiakn dengan serius perbaikan agama rakyatnya, mereka semua pasti akan meraih kebaikan dunia dan akhirat.
Jika tidak, pasti akan terjadi ketimpangan dalam segala sektor kehidupan.
Sebagaimana
Firman Allah.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Niat Suci Seorang Pemimpin Sejati
Kunci
utamanya bagi seorang pemimpin adalah
memiliki niat yang baik terhadap rakyatnya. Memurnikan dan mengikhlaskan
hatinya demi tegaknya agama Allah dan
bertawakal kepadanya, sebab ikhlas dan tawakal adalah kunci utama baiknya para tokoh dan orang awam. Hal ini sebagaimana perintah
Allah kepada kita agar agar kita
mengucapkan salam shalat, “iyyakana’budu
waiyyak kanastain”. (hanya kepada
Allahlah kami menyembah dan hanya kepada Allahlah kami meminta pertolongan).
Ada yang
mengatakan, dua kalimat ini telah mencakup semua makna yang terkandung dalam
seluruh kitab yang diturunkan dari langit,
diriwatkan bahwa dalam salah satu peperangannya Nabi pernah berkata, “yamaliki
yaumid din, iyyakana’budu waiyyakantai’in” (wahai penguasa hari pembasalan, hanya kepadamu kami beribadah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan), tiba-tiba kepala-kepala musih
jatuh berterbangan dari leher-leher mereka.
(HR. Tabhrani).
Kedua hal
tersebut sudah Allah sebutkan di banyak
tempat dalam Al-Qur’an, seperti pada Firman Allah.
¬!ur Ü=øxî ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur Ïmøs9Î)ur ßìy_öã ãøBF{$# ¼ã&#ä. çnôç6ôã$$sù ö@2uqs?ur Ïmøn=tã 4
$tBur y7/u @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÊËÌÈ
“Dan
kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah
dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah
kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. Hud
:123)
øÎ)ur 3y$tR y7/u #ÓyqãB Èbr& ÏMø$# tPöqs)ø9$# tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÉÈ
“Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah
kaum yang zalim itu”. (QS. Asy-syura : 10)
Nabi ketika
menyembelih hewan kurbannya, mengucapkan
kalimat. “ Allahuma hadza minka wa
ilaika”, (ya Allah ini dari mu, dan
kuperuntuhkan untuk mu).
Taktik Dan
Strategi Seorang Pemimpin Agar Dimudahkan Segala Urusannya.
1. Sikap ikhlas
karena Allah dan bertawakal kepada_Nya,
melalui do’a dan usaha. Praktik utamanya terletak pada memelihara
pelaksanaan shalat lima waktu dengan sepenuh hati diiringi dengan gerakan fisik.
2. Berbuat baik
kepada seluruh manusia dengan cara
memberi manfaat atau beruba harta dengan
cara menunaikan zakat.
3. Bersabar
menghadapi sikap yang menyakitkan dari
orang lain dan pedihnya musibah.
Oleh karena
itu, seringkali Allah menggabungkan antara shalat dengan kesabaran, seperti dalam firman_Nya.
(#qãZÏètFó$#ur Îö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4
$pk¨XÎ)ur îouÎ7s3s9 wÎ) n?tã tûüÏèϱ»sø:$# ÇÍÎÈ
“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan
Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu'”. (QS. Al-baqarah : 45)
ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ÇnûtsÛ Í$pk¨]9$# $Zÿs9ãur z`ÏiB È@ø©9$# 4
¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõã ÏN$t«Íh¡¡9$# 4
y7Ï9ºs 3tø.Ï úïÌÏ.º©%#Ï9 ÇÊÊÍÈ ÷É9ô¹$#ur ¨bÎ*sù ©!$# w ßìÅÒã tô_r& tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÊÎÈ
“Dan
dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada
bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik
itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat. dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Hud : 114-115)
÷É9ô¹$$sù 4n?tã $tB tbqä9qà)t ôxÎm7yur ÏôJpt¿2 y7În/u @ö6s% Æíqè=èÛ Ä§ôJ¤±9$# @ö6s%ur $pkÍ5rãäî (
ô`ÏBur Ç!$tR#uä È@ø©9$# ôxÎm7|¡sù t$#tôÛr&ur Í$pk¨]9$# y7¯=yès9 4ÓyÌös? ÇÊÌÉÈ
“ Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka
katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan
sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan
pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang “, (QS. Thaha : 130)
÷É9ô¹$$sù 4n?tã $tB cqä9qà)t ôxÎm7yur ÏôJpt¿2 y7În/u @ö6s% Æíqè=èÛ Ä§ôJ¤±9$# @ö6s%ur É>rãäóø9$# ÇÌÒÈ
“ Maka
bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil
memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya) “. (QS. Qaf
: 39)
ôs)s9ur ÞOn=÷ètR y7¯Rr& ß,ÅÒt x8âô|¹ $yJÎ/ tbqä9qà)t ÇÒÐÈ ôxÎm7|¡sù ÏôJpt¿2 y7În/u `ä.ur z`ÏiB tûïÏÉf»¡¡9$# ÇÒÑÈ
“ Dan Kami
sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang
mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di
antara orang-orang yang bersujud (shalat), (QS. Al-Hijr : 97-98)
Hasil Sinergi
Shalat Dan Zakat bagi sebuah Negeri
Penyebutan shalat
bersama zakat dalam Al-Qur’an banyak sekali, dengan menegakan shalat, menunaikan
zakat, dan bersabar, keadaan pemimpin dan rakyat akan menjadi
baik, asalkan seseorang tahu sifat apa
saja yang terkandung di dalam tiga istilah universal tersebut.
Termasuk
dalam makna shalat adalah mengingat
Allah, berdoa kepadanya, membaca
kitab-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya,
dan bertawakal kepada-Nya.
Termasuk dalam makna zakat berbuat baik kepada sesame manusia dengan memberikan harta, dan berbagai manfaat, seperti membela orang
yang didzalimi, membantu orang yang berkesusahan, dan membantu menyelesaikan hajat orang yang
membutuhkan.
Seperti yang
diriwayatkan oleh shahihain
عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا
رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا
نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ
أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا
تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ
صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ،
وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ
بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ !
أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ :
«أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟
فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا»
Dari Abu
Dzar Radhiyallahu anhu bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi
dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa
seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah Allah telah
menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya
pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid
adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah
sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari
kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka
bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi
syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?”
Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan
syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian
pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh
pahala.” [HR. Muslim]
Termasuk di dalamnya adalah segala kebaikan, walaupun sekedar berwajah berseri, dan mengucapkan kata-kata baik.
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا
مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ
وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
“Janganlah
meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan
wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”
(HR. Abu Daud no. 4084)
dan juga dalam firman-firman Allah menegaskan hal yang sama, diantaranya terdapat dalam QS. Hud : 9-11, QS. Al-A’raf : 199, QS. Ali-Imran : 133-134, QS. Al-Fusilat : 34-36, QS. Asy-syura : 40.
Hasan
Al-Bashri berkata, “ Jika tiba hari
kiamat, seorang penyeru menyeru dari
tempat di antara dua perut arsy :
hendaklah berdiri orang yang telah ditetapkan
pahalanya di sisi Allah, tidak ada yang berdiri selain orang
yang gemar memberi maaf dan
berbuat baik”. (Al-Hilyah karya Abu
Nuaim, IX/204).
# Disarikan
Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_ Bareng :
Syekh
DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(WAKETUM PERSIS & Direktur An-Nahala Research Forum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar