MEMBONGKAR
SYUBHAT PARA PEMBANGKANG (1)
Oleh : Misbahudin
قَالَ مَا مَنَعَكَ
اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ
نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
“(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu
tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku
lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau
ciptakan dari tanah.” (QS. Al-Araf : 12)
Logika Kesombongan
Para pembangkang kebenaran tempoe dulu dan zaman modern ini. mereka mempunyai sebuah
titik persamaan, yaitu semangat
mereka untuk menyebarkan dan menumbuh
suburkan syubhat-syubhat atau keragu-raguan
dalam hati orang yang beriman agar keimanan
mereka layu dan memudar. Usaha keras
mereka itu lahir karena kerasnya hati
mereka dan kesombongan yang sudah menyengkram hati dan fikiran mereka.
فِي
قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا
كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)
“Dalam hati
mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat
azab yang pedih, karena mereka berdusta”.
(QS. Al-Baqarah : 10)
Melontarkann sebuah syubhat pemikiran bisa menjadi sebuah keistimewaan bagi
mereka, karena sudah mampu melontarkan sebuah wacana pemikiran yang membuat keimanan
seseorang bergoyang, mereka akan
senantiasa mendapatkan inspirasi dari keilmuan
yang mereka perdalam yang dibakar dengan jiwa yang pongah dan sombong,
sebagaimana iblis berlogika kepada Allah, bahwa tidak pantas dirinya bersujud
kepada Adam, karena secara dzat Iblis lebih
lebih tinggi kelasnya dari pada adam yang diciptakan dari tanah
sementara iblis dari api. Hal ini
lahir dari sikap sombong yang sudah merasuk ke dalam dirinya sehingga memperngatuhi
pikiran, ucapan dan tindaknnya.
وَإِذْ
قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ
أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah
kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah
: 34)
Syubhat-Syubhat Yang Menggoyang Keimanan
Para pembangkang kebenaran mereka mempunyai
anggapan bahwa Al-Qur’an itu secara
subtansial dan secara konseptual adalah
produk karya Muhammad dengan menggunakan tata bahasa yang tinggi yang tidak
mampu ditandingi oleh orang-orang cendika, ahli balaghah dan ahli retorika
sekalipun. Jadi Al-Qur’an bukanlah sebuah wahyu yang diturunkan. Muhammad menyandarkan ucapannya sebagai wahyu
adalah untuk meraih kekuasaan dan simpati manusia agar mendapat pengakuan dari orang-orang,
suku-suku dan kekuasaan.
Asumsi ini adalah asumsi dan pendapat yang
batil, karena jika Nabi Muhammad menginginkan
kekuasaan dan pengaruh dengan menantang manusia dengan mukjizat Al-Qur’an. Maka tidaklah
ada fungsi dan manfaatnya menyandarkan ucapannya kepada pihak yang lain (wahyu
Allah). Karena secara logika,
menyandarkan kepada diri sendiri lebih memberikan pengaruh yang besar dan rasa takjub luar biasa yang dirasakan oleh manusia saat
itu daripada menyandakan Al-Qur’an kepada Allah.
Menyandarkan Al-Qur’an kepada diri sendiri
selain lebih memberikan efek “wah!” ditambahkan lagi, tidak
ada satupun dari ahli sastra arab saat itu mampu mneghadirkan menghadirkan karya yang semisal dengan Al-Qur’an. Mendatangakan satu surat pun mereka tidak
sanggup, apalagi mendatangkan sesuatu yang menandingi Al-Qur’an
قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى
اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ
كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak
akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ
مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا
أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ (14)
Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah
membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah
sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang
kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang
benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu)
itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh,
dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah
diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)
Menyandarkan ucapannya kepada wahyu Allah,
tidak dapat dikatakan
sebagai modus Nabi Muhammad hendak
menjadikan ucapannya itu lebih terhormat dan dirasa agung oleh orang yang
mendengarkannya, sehingga dengan demikian beliau dengan mudah mendapatkan simpati dari manusia sekitarnya dan dapat
mempengaruhi mereka untuk tuntuk patuh kepadanya. Karena dalam ucapan Rasulullah ada ucapan
yang disandarkan kepada Allah dan ada ucapan yang disandarkan kepada dirinya
sendiri (hadits Nabawi), hal ini tidak menjadikan ucapan yang disandarkan
kepada Rasulullah berkurang keagungannya dan keharusan untuk patuh dan tunduk kepada apa yang diperintah
dan apa yang dilarangnya.
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ
فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ
مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ (22) وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)
"Jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika
kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya),
peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka
itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir”.
(Al-Baqarah: 23-24)
Mereka mempunyai asumsi seperti itu, karena mereka
mendapat sebuah realitas bukti di dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat, terkadang para pembesar dan para tokoh menempuh
jalan kebohongan untuk mencapai tujuan
pengaruh dan kekuasaan, oleh karena itu, dalam benak mereka, Muhammad menempuh
jalan dusta agar mendapatkan ambisinya. Asumi ini dibantah telak oleh para
pakar sejarah yang mendalami perjalan hidup Nabi Muhammad. Karena beliau sejak kecil sudah mendapatkan
gelar “al-amin” sosok manusia yang dipercaya
dan amanah. Kejujuran beliau bukan hanya diakui oleh sahabat kerabatnya,
tetapi diakui juga oleh musuh-musuhnya.
Peristiwa-Peristiwa Penguat Keimanan
Peristiwa pertama adalah kisah tentang
tuduhan keji kepada ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha yang dilontarkan oleh kaum munafikin, tentu saja tuduhan keji kepada istri tercintanya ini
menyinggung kehormatan dan kemualiaan Rasulullah, sedangkan wahyu yang
dinanti-nanti oleh Rasulullah tidak kunjung datang untuk memberi kepastian
apakah istirnya itu sudah melakukan hal yang keji ataukan itu Cuma tuduhan keji
saja. Wahyu pun turun “terlambat”.
Rasulullah pun mengerahkan segala ikhtiarnya untuk berdiskusi
dan bermusyawarah dengan sahabat-sahabanya, kejadian ini pun berlarut-larut
sampai satu bulan, membuat hati Rasulullah dan para sahabat bersedih karena
kegaduhan dan kegalauan yang menyebar dan merangsek masuk ke dalam relung-relung
jiwa para sahabat pada saat itu.
Pada akhirnya Rasulullah berucap kepada ‘Aisyah,
“telah sampai cerita begini dan begitu kepadaku, jikalau dirimu suci maka
sungguh Allah akan menyucikanmu dari tuduhan itu, dan jika dirimu telah berbuat
dosa, maka hendaklah bertaubat kepada Allah”.
Peristiwa ini terus berlanjut sampai wahyu pun turun untuk membersihkan ‘
Aisyah dari tuduhan keji itu.
Maka alasan apakah yang membuat Rasulullah
untuk secepatnya membela dengan bersabda mengenai kesucian ‘Aisyah. jikalau
Al-Qur’an itu adalah hasil produk ilmiah Rasulullah maka pasti beliau akan segera membela ‘Asiyah dengan ucapannya sendiri agar
kehormatannya tetap terjaga, agar mulut-mulut pembuat dusta dengan cepat
tersumpal dengan pembelaan Rasulullah.
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44)
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46)
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47)
“Seandainya
dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian
benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka
sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari
pemotongan urat nadi itu”. (QS. Al-Haqqah
: 44-47).
Peristiwa kedua, pengajuan udzur
sekelompok munafikin untuk tidak ikut
berperang tabuk dengan berbagai alasan,
maka turunlah wahyu yang memberikan sebuah teguran kepada Rasulullah karena
kekhilafannya dalam memutuskan perkara dengan tidak benar.
عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى
يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ
“Allah
memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak
pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar
(berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?”. (QS. At-Taubah : 43).
Jikalau Rasulullah
bersabda sesuai dengan keinginannya, maka tentu beliau tidak membuat sebuah
ungkapan yang menegur kesalahannya dalam mengambil keputusan, hal ini
menandakan bahwa Rasulullah senantiasa mengikuti dan menyampaikan wahyu yang
diturunkan kepadanya walaupun isinya adalah teguran kepada Rasulullah sendiri.
Seperti contoh terguran yang lain Ketika Rasulullah mengambil keputusan mengambil tebusan dari para tawanan perang
badar dan terguran mengenai sikap beliau
yang bermuka masam dan berpaling dari ummi maktum yang buta yang hendak
mengambil pelajaran dari Rasulullah mengenai Islam. Dan mendahalukun seruannya kepada para bangsawan kaum kafir
Quraisy
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى
يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ
الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67) لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ
لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (68)
“Tidak
patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah,
niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil”. (QS. Al-Anfal : 67-68)
عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا
يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى
(7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ
تَلَهَّى (10)
"Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi
Maktum). Dan tahukah
engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat
kepadanya? Adapun orang
yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri
(beriman). Dan adapun
orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya”. (QS. ‘Abasa : 1-10)
Reverensi
- Mabahis
fil ‘ulumul Qur’an li syaikh mana’il qathan
- At-Tibyan
fi ‘ulumul Qur’an li Syaikh Ali Ash-Shobuni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar