Selasa, 16 Maret 2021

MEMBONGKAR SYUBHAT PARA PEMBANGKANG (1)

 

MEMBONGKAR SYUBHAT PARA PEMBANGKANG (1)

Oleh : Misbahudin

 

 

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

 

(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-Araf : 12)

 

 

Logika Kesombongan

 

Para pembangkang  kebenaran  tempoe dulu dan zaman modern ini.  mereka mempunyai sebuah titik persamaan, yaitu semangat mereka  untuk menyebarkan dan menumbuh suburkan syubhat-syubhat  atau keragu-raguan dalam  hati orang yang beriman agar keimanan mereka layu dan memudar.  Usaha keras mereka itu lahir karena  kerasnya hati mereka dan kesombongan yang sudah menyengkram hati dan fikiran mereka.

 

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)

 

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.  (QS. Al-Baqarah : 10)

 

Melontarkann sebuah syubhat pemikiran bisa menjadi sebuah keistimewaan bagi mereka, karena sudah mampu melontarkan sebuah wacana pemikiran yang membuat keimanan seseorang bergoyang,  mereka akan senantiasa mendapatkan inspirasi  dari keilmuan yang mereka perdalam yang dibakar dengan jiwa yang pongah dan sombong, sebagaimana iblis berlogika kepada Allah, bahwa tidak pantas dirinya bersujud kepada Adam, karena secara dzat Iblis lebih  lebih tinggi kelasnya dari pada adam yang diciptakan dari tanah sementara iblis dari api. Hal ini lahir dari sikap sombong yang sudah merasuk ke dalam dirinya sehingga memperngatuhi pikiran, ucapan dan tindaknnya.

 

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 34)




Syubhat-Syubhat  Yang Menggoyang Keimanan

 

Para pembangkang kebenaran mereka mempunyai anggapan bahwa Al-Qur’an  itu secara subtansial dan secara konseptual adalah produk karya Muhammad dengan menggunakan tata bahasa yang tinggi yang tidak mampu ditandingi oleh orang-orang cendika, ahli balaghah dan ahli retorika sekalipun. Jadi Al-Qur’an bukanlah sebuah wahyu yang diturunkan.  Muhammad menyandarkan ucapannya sebagai wahyu adalah untuk meraih kekuasaan dan simpati manusia agar mendapat pengakuan dari orang-orang, suku-suku dan kekuasaan.

 

Asumsi ini adalah asumsi dan pendapat yang batil, karena jika Nabi Muhammad  menginginkan kekuasaan dan pengaruh dengan menantang manusia dengan mukjizat Al-Qur’an. Maka tidaklah ada fungsi dan manfaatnya menyandarkan ucapannya kepada pihak yang lain (wahyu Allah).  Karena secara logika, menyandarkan kepada diri sendiri lebih memberikan pengaruh yang besar dan rasa takjub luar biasa yang dirasakan oleh manusia saat itu daripada menyandakan Al-Qur’an kepada Allah.  

 

Menyandarkan Al-Qur’an kepada diri sendiri selain lebih memberikan efek “wah!” ditambahkan lagi, tidak ada satupun dari ahli sastra arab saat itu mampu mneghadirkan menghadirkan karya yang semisal dengan Al-Qur’an.  Mendatangakan satu surat pun mereka tidak sanggup, apalagi mendatangkan  sesuatu yang menandingi Al-Qur’an

 

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

 

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)



أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (14)

 

Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)



Menyandar
kan ucapannya kepada wahyu Allah, tidak dapat dikatakan sebagai modus Nabi Muhammad  hendak menjadikan ucapannya itu lebih terhormat dan dirasa agung oleh orang yang mendengarkannya,  sehingga dengan demikian beliau dengan mudah mendapatkan  simpati dari manusia sekitarnya dan dapat mempengaruhi mereka untuk tuntuk patuh kepadanya.  Karena dalam ucapan Rasulullah ada ucapan yang disandarkan kepada Allah dan ada ucapan yang disandarkan kepada dirinya sendiri (hadits Nabawi), hal ini tidak menjadikan ucapan yang disandarkan kepada Rasulullah  berkurang keagungannya dan keharusan untuk patuh dan tunduk kepada apa yang diperintah dan apa yang dilarangnya.

 

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)

 

"Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)




Mereka mempunyai asumsi seperti itu, karena mereka mendapat sebuah realitas bukti di dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat, terkadang para pembesar dan para tokoh menempuh jalan kebohongan untuk  mencapai tujuan pengaruh dan kekuasaan, oleh karena itu, dalam benak mereka, Muhammad menempuh jalan dusta agar mendapatkan ambisinya. Asumi ini dibantah telak oleh para pakar sejarah yang mendalami perjalan hidup Nabi Muhammad.  Karena beliau sejak kecil sudah mendapatkan gelar “al-amin” sosok manusia yang dipercaya  dan amanah. Kejujuran beliau bukan hanya diakui oleh sahabat kerabatnya, tetapi diakui juga oleh musuh-musuhnya.

 

 

Peristiwa-Peristiwa Penguat Keimanan

 

Peristiwa pertama adalah kisah tentang tuduhan keji kepada ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha yang dilontarkan oleh kaum munafikin,  tentu saja tuduhan keji kepada istri tercintanya ini menyinggung kehormatan dan kemualiaan Rasulullah, sedangkan wahyu yang dinanti-nanti oleh Rasulullah tidak kunjung datang untuk memberi kepastian apakah istirnya itu sudah melakukan hal yang keji ataukan itu Cuma tuduhan keji saja. Wahyu pun  turun “terlambat”.

 

Rasulullah pun  mengerahkan segala ikhtiarnya untuk berdiskusi dan bermusyawarah dengan sahabat-sahabanya, kejadian ini pun berlarut-larut sampai satu bulan, membuat hati Rasulullah dan para sahabat bersedih karena kegaduhan dan kegalauan yang menyebar  dan merangsek masuk ke dalam relung-relung jiwa para sahabat pada saat itu.

 

Pada akhirnya Rasulullah berucap kepada ‘Aisyah, “telah sampai cerita begini dan begitu kepadaku, jikalau dirimu suci maka sungguh Allah akan menyucikanmu dari tuduhan itu, dan jika dirimu telah berbuat dosa, maka hendaklah bertaubat kepada Allah”.  Peristiwa ini terus berlanjut sampai wahyu pun turun untuk membersihkan ‘ Aisyah dari tuduhan keji itu.

 

Maka alasan apakah yang membuat Rasulullah untuk secepatnya membela dengan bersabda mengenai kesucian ‘Aisyah. jikalau Al-Qur’an itu adalah hasil produk ilmiah Rasulullah maka pasti beliau akan segera membela ‘Asiyah dengan ucapannya sendiri agar kehormatannya tetap terjaga, agar mulut-mulut pembuat dusta dengan cepat tersumpal dengan pembelaan Rasulullah. 

 

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47)

 

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS. Al-Haqqah : 44-47).

 

Peristiwa kedua, pengajuan udzur sekelompok  munafikin untuk tidak ikut berperang  tabuk dengan berbagai alasan, maka turunlah wahyu yang memberikan sebuah teguran kepada Rasulullah karena kekhilafannya dalam memutuskan perkara dengan tidak benar.

 

عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ

 

Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?”. (QS. At-Taubah : 43).

 

 

Jikalau Rasulullah bersabda sesuai dengan keinginannya, maka tentu beliau tidak membuat sebuah ungkapan yang menegur kesalahannya dalam mengambil keputusan, hal ini menandakan bahwa Rasulullah senantiasa mengikuti dan menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya walaupun isinya adalah teguran kepada Rasulullah sendiri.

 

Seperti contoh terguran yang lain  Ketika Rasulullah mengambil keputusan  mengambil tebusan dari para tawanan perang badar dan terguran mengenai sikap  beliau yang bermuka masam dan berpaling dari ummi maktum yang buta yang hendak mengambil pelajaran dari Rasulullah mengenai Islam. Dan mendahalukun  seruannya kepada para bangsawan kaum kafir Quraisy

 

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67) لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (68)

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil”. (QS. Al-Anfal : 67-68)

 

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

 

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,  karena telah datang seorang buta kepadanya, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya”. (QS. ‘Abasa : 1-10)

 

Reverensi

  1. Mabahis fil ‘ulumul Qur’an li syaikh mana’il qathan
  2. At-Tibyan fi ‘ulumul Qur’an li Syaikh Ali Ash-Shobuni

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar