Minggu, 30 Juni 2019

*LEADERSHIP POWER*




Oleh : Misbahudin


Sungguh RasuluLLah yang mulai, sang kekasih Allah, sosok inspirator sepanjang masa sampai akhir zaman, merupakan sosok yang sempurna, sebuah visualisasi yang real dari Al-Qur’an dalam alam nyata.  Oleh karena itu RasuLLah menjadi sebuah teladan dalam segala aspek kehidupan.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.(QS. al Ahzaab : 21).


Salah satu keteladannya adalah kepemimpinan _(leadership)_ beliau adalah sosok pemimpin yang kedatagannya dirindukan dan kepergiannya diratapi. Salah satu faktor yang harus kita ekplorasi  dari kepemimpinan RasuluLLah _shallau ‘alahi wasalam_ adalah bagaimana faktor-faktor yang menjadikan beliau bisa menjadi pemimpin yang sejati dan memiliki sebuah kekuatan kepemimpinanyan sehingga dapat memberikan pengaruh yang kuat sepajang masa?.

Sehingga salah satu penulis Barat, Michael Heart dalam bukunya 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad  di posisi pertama.

Ibnu Taimiyyah dalam Ibnu Taimmiyyah menjelaskan dalam kitabnya _siasah syariyyah_ ,  wajib bagi seorang pemimpin memiliki dua kemampaun ini sebagai landasan utama dalam kepemimpinannya, dua hal tersebut adalah pertama, Kekuatan dalam kepemimpinan mencakup dua aspek, ada kekutan kepemimpinan diri _*(self leadership power)*_ yang memberikan sebuah pengaruh kekuatan kepada diri sendiri, kedua adalah  kekuatan untuk mengatur orang lain _*( outside leadership power)*_.

*Self leadership Power*

Ibnu Taimiyyah menegaskan  bahawa kepemimpin diri  _(self leadership power)_ dihasilan dengan mengasah kepribadian  dengan kelembutan hati dan kesabaran dalam kegala hal yang mewarnai dinamika kepemimpinanya.  Sebagaimana  diriwayatkan dari Nabis shalaLLahu ‘alahi wasalm dalam sebuah hadits

« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari Muslim)

*Maka karakter utama dari sebuah kekuatan pemimpin diri adalah kekuatan untuk tetap berhati lembut ketika orang-orang disekeling keras dan kasar dan berbudi pekerti yang mendamaikan ketika orang-orang disekitar berhati panas dam emosi membakar. Tetap berjiwa yang luhur _(sayyid)_ dan penuh dengan kesadaraan dan keseimbangan.*

Sebagaimana firman Allah _subhanahu wata’ala_

 فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS. Ali Imran : 39)

Nabi Muhammad _shalaLLahu ‘alahi wasalam_ bersabda tentang cucunya Hasan, “

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya anakku ini (yaitu cucu Beliau) adalah sayyid (pemimpin). Mudah-mudahan Allâh akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum Muslimin dengan sebabnya. (HR. Bukhari 2704)


Maka Nabi Muhammad menekankan akan hakikat sesungguhnya dari sebuah kekuatan seorang manusia, yang menjadi parameter kekuatan bukanlah kekuatan fisik, bukanlah otot yang meliuk-liuk atau bahkan dapat membanting musuh dengan sangat mudahnya dan mengalahkan banyak orang dalam sebuah pertarungan bebas, akan tetapi kekuatan yang sesungguhnya adalah kekuatan untuk bisa menguasai dirinya tetap seimbang secara emosi ketika marah dan tidak mengikuti hawa nafsunya ketika membara.

*Outside Leadership Power*

*Adapun kekuatan seorang pemimpin untuk mengatur dan mencengkram orang-orang di yang dipimpinnya dengan sebuah intruksi yang yang jelas dan tidak samar _(absurd)_,  dengan sebuah inpirasi yang menyemangati, dan dengan sebuah keteladan yang membersamai, bukan hanya sebuah intruksi perintah sambil _uncang-uncang_ kaki.*

Sebuah kekuatan Pemimpin untuk mempengaruhi orang lain untuk mencangan  target-target dan berusaha mewujdukan dengan solidaritas dan sinergitas. Kekuatan  pemimpian yang menyatukan yang dipimpian menjadi sebuah *good team work_ untuk mencapai sebuah visi misi yang jelas yang diuraikan dalam sebuah program-program dan rencana yang lebih spesifik.
 
Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa untuk menggapai keuatan kepemimpinan  yang bisa mempengaruhi orang lain adalah  dengan cara,


*Pertama*, keberanian jiwanya dalam segala hal untuk memenghadapi segala halangan dan rintangan dari sebuah tugas dan kewajibannya. 

*Kedua* adalah dengan sebuah *skill* , tentunya skill disni adalah skill kepemimpinan, skill untuk mengatur strategi dan taktik  bagaimana bisa mencapai sebuah target yang dituju dan mengkordinasikan semua anggota tim agar tetap solid satu hati.

Terakhir Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa kekuatan kepemimpin harus dikuatkan oleh faktor-faktor yang lainnya yang menjadikannya menjadi karakter yang lebih berkualitas daripada bawahannya dan faktor kekuatan harta, untuk menjaga idealismenya agar tetap kokoh tidak luluh lantah dan bertekuk lutut dibawah kepentingan para manusia yang berharta. Dan menjual harga dirinya demi sebuah kesenangan sesaat dan semu.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ


Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu (QS. Al-Anfal : 60)

Dan dalam sebuah riwayat dari Imam Muslim dari sahabat Nabi Abu Hurairah _radhiyaLLahu ‘anhu_ dia berkata, telah bersabda RasuluLLah, “

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ



“*Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah* dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

# Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_  Bareng :
 Syekh  DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(Sekjen Ikatan Ulama Asia Tenggra dan waketum PERSIS)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar