Oleh :
Misbahudin
Sungguh RasuluLLah yang mulai, sang kekasih
Allah, sosok inspirator sepanjang masa sampai akhir zaman, merupakan sosok yang
sempurna, sebuah visualisasi yang real dari Al-Qur’an dalam alam nyata. Oleh karena itu RasuLLah menjadi sebuah
teladan dalam segala aspek kehidupan.
لَّقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.(QS. al
Ahzaab : 21).
Salah satu keteladannya adalah kepemimpinan
_(leadership)_ beliau adalah sosok pemimpin yang kedatagannya dirindukan dan
kepergiannya diratapi. Salah satu faktor yang harus kita ekplorasi dari kepemimpinan RasuluLLah _shallau ‘alahi
wasalam_ adalah bagaimana faktor-faktor yang menjadikan beliau bisa menjadi
pemimpin yang sejati dan memiliki sebuah kekuatan kepemimpinanyan sehingga
dapat memberikan pengaruh yang kuat sepajang masa?.
Sehingga salah satu penulis Barat, Michael Heart
dalam bukunya 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia menempatkan Nabi
Muhammad di posisi pertama.
Ibnu Taimiyyah dalam Ibnu Taimmiyyah
menjelaskan dalam kitabnya _siasah syariyyah_ , wajib bagi seorang pemimpin memiliki dua
kemampaun ini sebagai landasan utama dalam kepemimpinannya, dua hal tersebut
adalah pertama, Kekuatan dalam kepemimpinan mencakup dua aspek, ada kekutan
kepemimpinan diri _*(self leadership power)*_ yang memberikan sebuah pengaruh
kekuatan kepada diri sendiri, kedua adalah
kekuatan untuk mengatur orang lain _*( outside leadership power)*_.
*Self leadership Power*
Ibnu Taimiyyah menegaskan bahawa kepemimpin diri _(self leadership power)_ dihasilan dengan
mengasah kepribadian dengan kelembutan
hati dan kesabaran dalam kegala hal yang mewarnai dinamika kepemimpinanya. Sebagaimana
diriwayatkan dari Nabis shalaLLahu ‘alahi wasalm dalam sebuah hadits
« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ
نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya)
dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi
tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya
ketika marah. (HR. Bukhari Muslim)
*Maka karakter utama dari sebuah kekuatan
pemimpin diri adalah kekuatan untuk tetap berhati lembut ketika orang-orang
disekeling keras dan kasar dan berbudi pekerti yang mendamaikan ketika
orang-orang disekitar berhati panas dam emosi membakar. Tetap berjiwa yang
luhur _(sayyid)_ dan penuh dengan kesadaraan dan keseimbangan.*
Sebagaimana firman Allah _subhanahu wata’ala_
فَنَادَتْهُ
الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ
يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا
وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia
tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan
kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa
nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS. Ali
Imran : 39)
Nabi Muhammad _shalaLLahu ‘alahi wasalam_ bersabda tentang
cucunya Hasan, “
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ
يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Sesungguhnya anakku ini (yaitu cucu Beliau)
adalah sayyid (pemimpin). Mudah-mudahan Allâh akan mendamaikan dua kelompok
besar dari kaum Muslimin dengan sebabnya. (HR. Bukhari 2704)
Maka Nabi Muhammad menekankan akan hakikat
sesungguhnya dari sebuah kekuatan seorang manusia, yang menjadi parameter
kekuatan bukanlah kekuatan fisik, bukanlah otot yang meliuk-liuk atau bahkan
dapat membanting musuh dengan sangat mudahnya dan mengalahkan banyak orang
dalam sebuah pertarungan bebas, akan tetapi kekuatan yang sesungguhnya adalah
kekuatan untuk bisa menguasai dirinya tetap seimbang secara emosi ketika marah
dan tidak mengikuti hawa nafsunya ketika membara.
*Outside
Leadership Power*
*Adapun kekuatan seorang pemimpin untuk
mengatur dan mencengkram orang-orang di yang dipimpinnya dengan sebuah intruksi
yang yang jelas dan tidak samar _(absurd)_,
dengan sebuah inpirasi yang menyemangati, dan dengan sebuah keteladan
yang membersamai, bukan hanya sebuah intruksi perintah sambil _uncang-uncang_
kaki.*
Sebuah kekuatan Pemimpin untuk mempengaruhi
orang lain untuk mencangan target-target
dan berusaha mewujdukan dengan solidaritas dan sinergitas. Kekuatan pemimpian yang menyatukan yang dipimpian
menjadi sebuah *good team work_ untuk mencapai sebuah visi misi yang jelas yang
diuraikan dalam sebuah program-program dan rencana yang lebih spesifik.
Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa untuk
menggapai keuatan kepemimpinan yang bisa
mempengaruhi orang lain adalah dengan
cara,
*Pertama*, keberanian jiwanya dalam segala
hal untuk memenghadapi segala halangan dan rintangan dari sebuah tugas dan
kewajibannya.
*Kedua* adalah dengan sebuah *skill* ,
tentunya skill disni adalah skill kepemimpinan, skill untuk mengatur strategi
dan taktik bagaimana bisa mencapai
sebuah target yang dituju dan mengkordinasikan semua anggota tim agar tetap
solid satu hati.
Terakhir Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa
kekuatan kepemimpin harus dikuatkan oleh faktor-faktor yang lainnya yang
menjadikannya menjadi karakter yang lebih berkualitas daripada bawahannya dan
faktor kekuatan harta, untuk menjaga idealismenya agar tetap kokoh tidak luluh
lantah dan bertekuk lutut dibawah kepentingan para manusia yang berharta. Dan
menjual harga dirinya demi sebuah kesenangan sesaat dan semu.
وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ
عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu (QS. Al-Anfal : 60)
Dan dalam sebuah riwayat dari Imam Muslim
dari sahabat Nabi Abu Hurairah _radhiyaLLahu ‘anhu_ dia berkata, telah bersabda
RasuluLLah, “
اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ
مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا
يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ
فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ:
قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“*Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah* dan pada keduanya ada
kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu
dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah
sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah
engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan
begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa
saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu)
perbuatan syaitan.
#
Disarikan Dari Kajian Kitab Siasah Syariyyah Ibnu Taimiyyah_ Bareng :
Syekh
DR. Jeje Zaenudin, M.Ag_(Sekjen Ikatan Ulama Asia Tenggra dan waketum PERSIS)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar