*KADERISASI ULAMA MIUMI-1
(KUM)*. Materi pertama dengan tema “Asas-Asa Peradaban Islam” yang
disampaikan oleh DR. Tiar Anwar Bakhtiar, Beliau memberikan sebuah Starting
point bahwa Islam
adalah agama peradaban, terbukti dengan wahyu pertama yang diturunkan
mengandung sebuah perintah dan stimulus untuk membangun sebuah peradaban,
sebuah peradaban yang diawali dengan membaca dan membaca.
Membaca
dalam artian luas, menyerap semua
atmosfir peradaban yang berkemajuan,
dengan mengekpolrasi semua ilmu untuk menjadi pilar-pilar dan pondasi
terbanguan sebuah peradaban yang tinggi _(high Civilization)_.
Sebagaimana
Allah sudah dengan sangat jelas memberikan kunci-kunci untuk membangun
peradaban dunia yaitu dengan iman dan ilmu.
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“
(Al Mujadilah : 11).
Dan Baginda
Rasulullah _shalallahu ‘alahi_ wasalam pun secara ekplisit memberikan
sebuah “clue” untuk membangun peradaban
Islam yang _rahmatlil ‘alamien_, yaitu dengan cara mengharuskan umatnya untuk
menuntut ilmu dari awal terlahir ke dunia sampai masuk liang kubur dan senantiasa
mengupgrade wawasan terus secara continue dan menjadikan ilmu sebagai sebuah
kebutuhan untuk menutrisi jiwa dan pikiran sehingga kualitas-kualitas personal
itu akan membentuk sebuah peradaban yang luhur.
Mindset yang
harus diinstalisasi dalam diri seorang muslim adalah pembelajaran itu sebuah
kebutuhan dan harus dilakaksankan sepanjang hidup (long life education).
طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu
Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih
wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Peradaban suatu Negara akan maju
terebntuk dan terlahir dari masyarakat
yang berperadaban yang tinggi, dan masyarakat yang memiliki peradaban yang
tinggi lahir dari keluarga-keluarga yang berperadaban, dan
keluarga-keluarga yang berperadaban
lahir sosok bapak dan ibu yang mempunyai mindset berperadaban.
*Makna
Peradaban*
Peradaban
jika dilihat dari definisi para pakar, mereka memberikan penjelasan yang berbeda-beda tetapi
memiliki essensi yang sama .
Menurut
Kuntjaraningrat dalam Pengatar Antropologi. Dia mengatakan bahwa Peradaban
adalah bagian-bagian yang halus dan Indah dari kebudayaan. Masyarakat yang
telah maju dalam kebudayaan berarti memiliki peradaban.
Sedangkan
Arnold J. Toynbee dalam The Distintegration of Civilization, mengatakan
bahwa peradaban adalah Kebudayaan
yang telah telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
Oswald
Spengler memberikan defines bahwa Peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai
taraf tinggi dan kompleks.
Samuel P.
Huntington dalam The Clash of
Civilizations, mengatakan bahwa peradaban adalah Identitas terluas dari budaya yang
terindifikasi melalui unsur-unsur objektif umum seperti bahasa, sejarah, agama,
kebiasan, istitusi, maupun melalui identifikasi unsur subjektif.
Dari
pemaparan para ahli di atas, maka dapat
kita simpulkan bahwa peradaban adalah budaya yang tinggi yang menghasilkan
kehidupan yang berkualitas dan lebih komplek. Sebuah hidup dan kehidupan yang
begitu luhur dan agung dari segi ilmu pengetahuan, karaketer, moral dan
asfek-asfek kehidupan yang lainnya.
*Proses
Manusia Membangun Sebuah Peradaban*
Manusia yang
dilahirkan tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai bank data informasi wawasan dan
analisisis kebenaran, mereka bak kertas putih yang siap untuk diwarnai, Sebagaimana
firman Allah.
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." ( QS. An-Nahl : 78)
Tetapi,
walaupun manusia dilahirkan tanpa
mengetahui apapun, tetapi Allah sudah menginstall dalam jiwa manusia sebuah
fitrah, fitrah kebaikan dan fitrah dalam kebertuhanan, sebuah fitrah untuk
mengagungkan sesuatu yang lebih dan agung yang ada di luar dirinya.
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS. Al-Araf :
172).
Fitrah
adalah Islamic Concept of Human Nature, sebuah konsep Islam tentang Asal
Mula Kejadian Manusia. Sejak lahir manusia telah membawa pokok kebaikan (innate
goodness) yang akan menjadi modal untuk
menjalani peran peradabannya di muka bumi, yaitu menjadi khalifah.
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS.
Al-Baqarah : 30).
Manusia yang
dilahirkan tidak tahu apa-apa, mereka bergeliat tumbuh dan menyerap semua informasi
dengan menggunakan pancaindra sebagai modal dari Allah untuk mendapatkan ilmu seperti telingga, mata,
dan yang paling berperan penting adalah akal dan hati.
Semua elemen tadi bersatu padu untuk memberikan informasi kepada diri
seseorang.
Maka ada
sebuah ungkapan _“ You Are what you read”_, kamu adalah apa yang kamu
baca, hasil belajar akan memberi wawasan baru sehingga akan membentuk sebuah
mindset atau pola pikir dalam memandang hidup dan kehidupan sehingga melahirkan
sebuah perpektif.
Dari mindset
itu akan melahirkan dinamika pemikiran yang segar dan mencerahkan, sehingga
berkonsekuensi logis terbentuk pola hidup dan kehidapan yang berbudaya, dan
kehidupan manusia yang berbudaya akan terus tumbuh menjadi kehidupan yang lebih
berkualitas dan terciptalah sebuah sebuah peradaban.
*Wujud Sebuah
Peradaban*
Peradaban
yang lahir dari embrio pemikiran manusia yang berkemajuan, pasti akan
menghasilkan wujud-wujud sebuah peradaban, wujud peradaban yang akan menjadi
sebuah parameter sebuah kemajuan peradaban.
Maka wujud
dari peradaban yang berkemajuan dapat kita klasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu sebuah wujud
peradaban yang idiil, system sosial dan wujud peradaban yang kongkrit.
pertama, wujud idiil
berupa gagasan, ide, hasil pemikiran seperti cerita, ungkapan, upacara,
lagu-lagu rakyat, kearifan lokal, tradisi lisan, bahasa daerah, permainan
rakyat, seni pertunjukan, kesenian tradisional, dan lain sebagainya.
kedua, sistem
sosial berupa tata krama, gotong-royong, kesetiaan, kepahlawanan, keselarasan,
demokrasi, dan sebagainya.
Ketiga, wujud budaya
yang konkret seperti benda-benda, bangunan, kuliner
(makanan dan minuman), pakaian, teknologi, obat-obatan, dan sebagainya.
(Kuntjaraningrat, 1990: 199)
*RUH
PERADABAN ISLAM*
1. Kreativitas
manusia Muslim dalam menciptakan kebudayaan yang luhur (peradaban) dalam rangka
memakmurkan bumi dan menjawab tantangan alam dan kemanusiaan yang dasarnya
adalah ketundukan dan kepasrahan pada aturan-aturan Allah Swt. (wahyu-Nya).
2. Maka oase
peradaban Islam pastilah bersumber dari dua pusaka Islam yang menjadi sebuah
penerang bagi kehidupan menjadi sebuah way of life, yang memawa manusia dari kegelapan hidup
menuju kehidupan terang benerang
menyongsong peradaban yang luhur.
Sebuah peninggalan Rasulullah shalaLLahu ‘alahi wasalam yang jikalah
manusia berpegang teguh kepada kedunya, maka niscaya manusia tidak akan
tersesat selama-lamanya.
3. Adapun oase
Islam yang menjadi sumber inpirasi Peradabannya adalah
1. Berlandaskan
Al-Quran dan Sunnah
تَرَكْتُ
فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (مالك و غيره)
“Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara, maka tidak
akan sesat selama kalian memegangnya dengan erat, yaitu Al-Qur’an dan
as-sunnah”
2. Bahasa Arab
sebagai Media Utama
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (الشعراء 192-195)
“ dan Sesungguhnya Al
Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh
Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang
di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas “
(QS. Asy-Syu’ara : 195-192).
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ
يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ
أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (النحل 103)
“ Dan Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:
"Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya
(Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad
belajar kepadanya bahasa 'Ajam[1], sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab
yang terang” (An-Nahl : 103).
[1] Bahasa 'Ajam ialah
bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik,
karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu
sedikit-sedikit bahasa Arab.
3. Berorientasi
Spiritual yang Bertumpu pada Masjid
قُلْ
أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الإعراف: 29)
“ Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan".
dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[1] di Setiap sembahyang dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia
telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali
kepadaNya)" (Al-‘Araf : 29).
[1] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan
pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.
4. Memperhatikan
Kebutuhan Jasadiah
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا (التوبة: 103)
“ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan[1] dan mensucikan[2] mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. At-Taubah : 103).
[1] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan
cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[2] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam
hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
- Membina
Persaudaraan antar-Manusia
وَأَذَانٌ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ
اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ (التوبة: 3)
“
Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia
pada hari haji akbar[1] bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri
dari orang-orang musyrikin. kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka
bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa
Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada
orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS. At-Taubah
: 3).
[1]
Berbeda Pendapat antara mufassirin (ahli tafsir) tentang yang dimaksud dengan
haji akbar, ada yang mengatakan hari Nahar, ada yang mengatakan hari Arafah.
yang dimaksud dengan haji akbar di sini adalah haji yang terjadi pada tahun
ke-9 Hijrah.
Sketsa Rasulullah Dalam Mendesign Sebuah
Peradaban
RasuluLLah
shalaLLahu ‘alahi wasalam adalah sebuah visualisasi real dari Al-Qur’an, sosok
manusia yang menginpirasi, sosok manusia yang menjadi teladan sejarah dari masa
ke masa, bak oase kehidupan yang surut
dan kering di telan jaman.
Sosok
manusia pilihan yang menjadi suri teladan dalam berbagai aspek kehidupan,
termasuk aspek kepemimpinan dan ahli strategi, wabil khusus ahli taktik dan
strategi dalam menyebarkan ajaran Islam yang rahmatal lil alamin yang menjadi
sebuah bangunan pondasi peradaban dunia.
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]
Maka dalam
mendesign sebuah peradaban Islam yang meaflikasikan nilai-nilai keshalehan
vertical dan keshalehan secara horizontal dan secara perlahan tetapi pasti dari
keimanan yang kokoh melahirkan pola fikir yang produktif dan solutif menyambut
perkembangannya jaman dengan segala problematikanya sehingga lambat laun
lahirlah sebuah peradaban yang adiluhung, yaitu peradaban Islam.
Dalam
mendesign peradaban Islam, jika kita
membuka lembaran sejarah, maka dapat kita klasifikasikan kepada dua priode,
priode pembangunan peradaban di Mekah dan priode pembanguna berkelanjutan di
kota madinah.
a. Pembangunan
Peradaban Islam di kota Mekah
Dalam pembangunan peradaban Islam di
Mekah, RasuluLLah menghabiskan waktu seiktar 13 tahun lamanya, di mekah ini
RasuluLLah lebih menekankan point-point dakwahnya kepada pembinaan aqidah,
karena penanaman aqidah yang kuat adalah pondasi yang kokoh dalam cakarter
building para Sahabat dan umat islam secara umum agar mereka menjadi pribadi
yang baik dan kuat dalam menghadapi rintangan dan tangtangan dakwah yang
menjadi sebuah keniscayaan.
Dakwah tauhid ini awal mula dilakukan dengan
cara sembunyi-sembunyi karena secara kualitas dan kuantitas pemeluk Islam masih
sedikit, dan seiring berjalannya waktu, perlehaan tetapi pasti, pemeluk Islam
sudah semakin bertambah, maka disinilah
mulai dakwah dengan cara terang-terangan.
Tantangan dan serangan kepada dakwah Islampun
tidak terelakan lagi, serangan-serangan yang bersifat psikologis dan fisik
sudah menjadi santapan sehari-hari, penderitaan mereka dalam mengemban
keislaman tidak menjadikan mereka ciut dan lemah, tetapi justru membuat mereka
menjadi lebih kuat.
b. Pembangunan peradaban Islam di Madinah
RasuluLLah menghabiskan waktu sekitar 10
tahun lamanya dalam membangunan peradaban Islam di madinah, sebuah peradaban
Islam yang memasuki tarap yang lebih tinggi, karena RasuluLLah sudah membangun pondasi
peradabannya di kota Mekah.
Maka di kota Madinah ini, umat Islam sudah
semakin kuat secara kualitas dan semakin
banyak secara kuantitas, di priode madinah ini RasuluLLah sudah mendesign
peradaban ke ranah system kehidupan untuk mengatur umat Islam sehingga Islam
pun bisa wujudkan dalam hidup dan kehidupannya secara kaffah.
Diawali dengan pembangunan Majjid sebagai
basechampe peradaban yang disana RasuLLah mengajarkan Islam dan membiacarakan segala hal dalam rangka
mewujudkan sebuah peradaban manusia yang
berketuhanan.
Setelah membangun Masjid maka dilanjutkan
dengan pembangunan hubungan masyrakat (muakhot) dan membanguan pasar sebagai
penyokong ekonomi umat, dan disinilah
tonggak peradaban Islam menggurita.
Di pirode madinah ini, RasuluLLah mejadi pemimpin
agama dan sekaligus menjadi pemimpin
Negara. Dan secara tidak langsung membangun sebuah system politik yang
berketuhanan. Oleh sebab itu, Pondasi
Islam menjadi lebih kuat karena factor kekuasaan yang dimiliki oleh Rasulullah
dan peran sahabat RasuluLLah sebagai TIM yang tidak perlu ditanyakan kualitas
dan kapabilitasnya.
Maka sejak disinilah, kekuatan Islam tidak
dapat dibendung, ghirah semangat para sahabat dalam menyiarkan Islam tidak dapat dipadamkan.
Sehingga Islampun menguat, mengakar dan menggurita penyebarannya dan menjadi
agama tauhid yang menjadi rahmat untuk semesta alam.
BY. Misbahudin
*KLIK untuk
membaca selanjutnya!*
==============================
🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam
🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123
📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar