Minggu, 03 Januari 2021

ASAS-ASAS PERADABAN ISLAM

 

*KADERISASI ULAMA MIUMI-1 (KUM)*. Materi pertama dengan tema “Asas-Asa Peradaban Islam” yang disampaikan oleh DR. Tiar Anwar Bakhtiar, Beliau memberikan sebuah Starting point bahwa Islam adalah agama peradaban, terbukti dengan wahyu pertama yang diturunkan mengandung sebuah perintah dan stimulus untuk membangun sebuah peradaban, sebuah peradaban yang diawali dengan membaca dan membaca.

 

Membaca dalam artian luas,   menyerap semua atmosfir peradaban yang  berkemajuan, dengan mengekpolrasi semua ilmu untuk menjadi pilar-pilar dan pondasi terbanguan sebuah peradaban yang tinggi _(high Civilization)_.

 

Sebagaimana Allah sudah dengan sangat jelas memberikan kunci-kunci untuk membangun peradaban dunia yaitu dengan iman dan ilmu.

 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

 

Dan Baginda Rasulullah _shalallahu ‘alahi_ wasalam pun secara ekplisit memberikan sebuah  “clue” untuk membangun peradaban Islam yang _rahmatlil ‘alamien_, yaitu dengan cara mengharuskan umatnya untuk menuntut ilmu dari awal terlahir ke dunia sampai masuk liang kubur dan senantiasa mengupgrade wawasan terus secara continue dan menjadikan ilmu sebagai sebuah kebutuhan untuk menutrisi jiwa dan pikiran sehingga kualitas-kualitas personal itu akan membentuk sebuah peradaban yang luhur.

 

Mindset yang harus diinstalisasi dalam diri seorang muslim adalah pembelajaran itu sebuah kebutuhan dan harus dilakaksankan sepanjang hidup (long life education).

 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)


Peradaban suatu Negara akan  maju terebntuk dan terlahir  dari masyarakat yang berperadaban yang tinggi, dan masyarakat yang memiliki peradaban yang tinggi lahir dari keluarga-keluarga yang berperadaban, dan keluarga-keluarga  yang berperadaban lahir sosok bapak dan ibu yang mempunyai mindset berperadaban.

 

*Makna Peradaban*

 

Peradaban jika dilihat dari definisi para pakar, mereka  memberikan penjelasan yang berbeda-beda tetapi memiliki essensi yang sama .

 

Menurut Kuntjaraningrat dalam Pengatar Antropologi. Dia mengatakan bahwa Peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan Indah dari kebudayaan. Masyarakat yang telah maju dalam kebudayaan berarti memiliki peradaban.

 

Sedangkan Arnold J. Toynbee dalam The Distintegration of Civilization, mengatakan bahwa peradaban adalah  Kebudayaan yang telah telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

 

Oswald Spengler memberikan defines bahwa Peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf tinggi dan kompleks.

 

Samuel P. Huntington dalam  The Clash of Civilizations, mengatakan bahwa peradaban adalah  Identitas terluas dari budaya yang terindifikasi melalui unsur-unsur objektif umum seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasan, istitusi, maupun melalui identifikasi unsur subjektif.

 

Dari pemaparan para ahli di atas, maka  dapat kita simpulkan bahwa peradaban adalah budaya yang tinggi yang menghasilkan kehidupan yang berkualitas dan lebih komplek. Sebuah hidup dan kehidupan yang begitu luhur dan agung dari segi ilmu pengetahuan, karaketer, moral dan asfek-asfek kehidupan yang lainnya.

 

*Proses Manusia Membangun Sebuah Peradaban*

 

Manusia yang dilahirkan tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai bank data informasi wawasan dan analisisis kebenaran, mereka bak kertas putih yang siap untuk diwarnai, Sebagaimana firman Allah.

 

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." ( QS. An-Nahl : 78)

 

Tetapi, walaupun manusia dilahirkan  tanpa mengetahui apapun, tetapi Allah sudah menginstall dalam jiwa manusia sebuah fitrah, fitrah kebaikan dan fitrah dalam kebertuhanan, sebuah fitrah untuk mengagungkan sesuatu yang lebih dan agung yang ada di luar dirinya.

 

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS. Al-Araf : 172).

 

Fitrah adalah Islamic Concept of Human Nature, sebuah konsep Islam tentang Asal Mula Kejadian Manusia. Sejak lahir manusia telah membawa pokok kebaikan (innate goodness) yang akan menjadi modal  untuk menjalani peran peradabannya di muka bumi, yaitu menjadi khalifah.

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah : 30).



Manusia yang dilahirkan tidak tahu apa-apa, mereka  bergeliat tumbuh dan menyerap semua informasi dengan menggunakan pancaindra sebagai modal dari Allah  untuk mendapatkan ilmu seperti telingga, mata, dan yang paling berperan penting adalah  akal dan hati.  Semua elemen tadi bersatu padu untuk memberikan informasi kepada diri seseorang.

 

Maka ada sebuah ungkapan _“ You Are what you read”_, kamu adalah apa yang kamu baca, hasil belajar akan memberi wawasan baru sehingga akan membentuk sebuah mindset atau pola pikir dalam memandang hidup dan kehidupan sehingga melahirkan sebuah perpektif.

 

Dari mindset itu akan melahirkan dinamika pemikiran yang segar dan mencerahkan, sehingga berkonsekuensi logis terbentuk pola hidup dan kehidapan yang berbudaya, dan kehidupan manusia yang berbudaya akan terus tumbuh menjadi kehidupan yang lebih berkualitas dan terciptalah sebuah sebuah peradaban.

 

*Wujud Sebuah Peradaban*

 

Peradaban yang lahir dari embrio pemikiran manusia yang berkemajuan, pasti akan menghasilkan wujud-wujud sebuah peradaban, wujud peradaban yang akan menjadi sebuah parameter sebuah kemajuan peradaban.

 

Maka wujud dari peradaban yang berkemajuan dapat kita klasifikasikan  menjadi tiga bagian, yaitu sebuah wujud peradaban yang idiil, system sosial dan wujud peradaban yang kongkrit.

 

pertama, wujud idiil berupa gagasan, ide, hasil pemikiran seperti cerita, ungkapan, upacara, lagu-lagu rakyat, kearifan lokal, tradisi lisan, bahasa daerah, permainan rakyat, seni pertunjukan, kesenian tradisional, dan lain sebagainya.

 

kedua, sistem sosial berupa tata krama, gotong-royong, kesetiaan, kepahlawanan, keselarasan, demokrasi, dan sebagainya.

 

Ketiga, wujud budaya yang konkret seperti benda-benda, bangunan, kuliner (makanan dan minuman), pakaian, teknologi, obat-obatan, dan sebagainya. (Kuntjaraningrat, 1990: 199)

 

*RUH PERADABAN ISLAM*

 

1.      Kreativitas manusia Muslim dalam menciptakan kebudayaan yang luhur (peradaban) dalam rangka memakmurkan bumi dan menjawab tantangan alam dan kemanusiaan yang dasarnya adalah ketundukan dan kepasrahan pada aturan-aturan Allah Swt. (wahyu-Nya).

 

2.      Maka oase peradaban Islam pastilah bersumber dari dua pusaka Islam yang menjadi sebuah penerang bagi kehidupan menjadi sebuah way of life,  yang memawa manusia dari kegelapan hidup menuju kehidupan terang benerang  menyongsong peradaban yang luhur.  Sebuah peninggalan Rasulullah shalaLLahu ‘alahi wasalam yang jikalah manusia berpegang teguh kepada kedunya, maka niscaya manusia tidak akan tersesat selama-lamanya.

 

3.      Adapun oase Islam yang menjadi sumber inpirasi  Peradabannya  adalah

 

1.      Berlandaskan Al-Quran dan Sunnah

 

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (مالك و غيره)

 

“Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara, maka tidak akan sesat selama kalian memegangnya dengan erat, yaitu Al-Qur’an dan as-sunnah”

 

2.      Bahasa Arab sebagai Media Utama

 

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (الشعراء 192-195)

 

“ dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas “ (QS. Asy-Syu’ara : 195-192).

 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (النحل 103)

 

“ Dan Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam[1], sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang” (An-Nahl : 103).

 

 [1] Bahasa 'Ajam ialah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab.

 

3.      Berorientasi Spiritual yang Bertumpu pada Masjid

 

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الإعراف: 29)

 

“ Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[1] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)" (Al-‘Araf : 29).

 

[1] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.

 

4.      Memperhatikan Kebutuhan Jasadiah

 

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا (التوبة: 103)

 

 

“ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[1] dan mensucikan[2] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. At-Taubah : 103).

 

[1] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda

 

[2] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

 

  1. Membina Persaudaraan antar-Manusia

 

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ (التوبة: 3)

 

“ Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar[1] bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS. At-Taubah : 3).

 

[1] Berbeda Pendapat antara mufassirin (ahli tafsir) tentang yang dimaksud dengan haji akbar, ada yang mengatakan hari Nahar, ada yang mengatakan hari Arafah. yang dimaksud dengan haji akbar di sini adalah haji yang terjadi pada tahun ke-9 Hijrah.

 

Sketsa Rasulullah Dalam Mendesign Sebuah Peradaban

 

RasuluLLah shalaLLahu ‘alahi wasalam adalah sebuah visualisasi real dari Al-Qur’an, sosok manusia yang menginpirasi, sosok manusia yang menjadi teladan sejarah dari masa ke masa,  bak oase kehidupan yang surut dan kering di telan jaman.

 

Sosok manusia pilihan yang menjadi suri teladan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek kepemimpinan dan ahli strategi, wabil khusus ahli taktik dan strategi dalam menyebarkan ajaran Islam yang rahmatal lil alamin yang menjadi sebuah bangunan pondasi peradaban dunia.

 

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]

 

Maka dalam mendesign sebuah peradaban Islam yang meaflikasikan nilai-nilai keshalehan vertical dan keshalehan secara horizontal dan secara perlahan tetapi pasti dari keimanan yang kokoh melahirkan pola fikir yang produktif dan solutif menyambut perkembangannya jaman dengan segala problematikanya sehingga lambat laun lahirlah sebuah peradaban yang adiluhung, yaitu peradaban Islam.

 

Dalam mendesign peradaban Islam,  jika kita membuka lembaran sejarah, maka dapat kita klasifikasikan kepada dua priode, priode pembangunan peradaban di Mekah dan priode pembanguna berkelanjutan di kota madinah.

 

a.       Pembangunan Peradaban Islam di kota Mekah

 

 

Dalam pembangunan peradaban Islam di Mekah,  RasuluLLah menghabiskan  waktu seiktar 13 tahun lamanya, di mekah ini RasuluLLah lebih menekankan point-point dakwahnya kepada pembinaan aqidah, karena penanaman aqidah yang kuat adalah pondasi yang kokoh dalam cakarter building para Sahabat dan umat islam secara umum agar mereka menjadi pribadi yang baik dan kuat dalam menghadapi rintangan dan tangtangan dakwah yang menjadi sebuah keniscayaan.

 

Dakwah tauhid ini awal mula dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi karena secara kualitas dan kuantitas pemeluk Islam masih sedikit, dan seiring berjalannya waktu, perlehaan tetapi pasti, pemeluk Islam sudah semakin bertambah,  maka disinilah mulai dakwah dengan cara terang-terangan. 

 

 

Tantangan dan serangan kepada dakwah Islampun tidak terelakan lagi, serangan-serangan yang bersifat psikologis dan fisik sudah menjadi santapan sehari-hari, penderitaan mereka dalam mengemban keislaman tidak menjadikan mereka ciut dan lemah, tetapi justru membuat mereka menjadi lebih kuat.

 

 

b.      Pembangunan  peradaban Islam di Madinah

 

 

RasuluLLah menghabiskan waktu sekitar 10 tahun lamanya dalam membangunan peradaban Islam di madinah, sebuah peradaban Islam yang memasuki tarap yang lebih tinggi, karena RasuluLLah sudah membangun pondasi peradabannya di kota  Mekah.

 

 

Maka di kota Madinah ini, umat Islam sudah semakin kuat secara  kualitas dan semakin banyak secara kuantitas, di priode madinah ini RasuluLLah sudah mendesign peradaban ke ranah system kehidupan untuk mengatur umat Islam sehingga Islam pun bisa wujudkan dalam hidup dan kehidupannya secara kaffah.

 

 

Diawali dengan pembangunan Majjid sebagai basechampe peradaban yang disana RasuLLah mengajarkan Islam dan  membiacarakan segala hal dalam rangka mewujudkan  sebuah peradaban manusia yang berketuhanan.

 

Setelah membangun Masjid maka dilanjutkan dengan pembangunan hubungan masyrakat (muakhot) dan membanguan pasar sebagai penyokong ekonomi umat,  dan disinilah tonggak peradaban Islam menggurita.

 

 

Di pirode madinah ini, RasuluLLah mejadi  pemimpin  agama dan sekaligus menjadi pemimpin  Negara. Dan secara tidak langsung membangun sebuah system politik yang berketuhanan.  Oleh sebab itu, Pondasi Islam menjadi lebih kuat karena factor kekuasaan yang dimiliki oleh Rasulullah dan peran sahabat RasuluLLah sebagai TIM yang tidak perlu ditanyakan kualitas dan kapabilitasnya. 

 

Maka sejak disinilah, kekuatan Islam tidak dapat dibendung, ghirah semangat para sahabat dalam  menyiarkan Islam tidak dapat dipadamkan. Sehingga Islampun menguat, mengakar dan menggurita penyebarannya dan menjadi agama tauhid yang menjadi rahmat untuk semesta alam.

 

BY. Misbahudin

 

*KLIK untuk membaca selanjutnya!*

==============================

🌐 Blog : http://bit.ly/literasi-islam

🇫 FB : http://bit.ly/misbahudin123

📹 Youtube : http://bit.ly/misbahchannel

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar