Oleh : Misbahudin
Nadzar
adalah seperti sebuah itikad atau janji
yang akan dilakukan jika telah mencapai sesuatu yang diinginkan. Nadzar adalah hutang yg harus dibayar, jika
tidak bisa dibayar di dunia maka akab di bayar di akhirat dengan amalan kita. Lalu
bagaimanakah nadzar dengan sesuatu yang melanggar syariat?, haruskah
ditunaikan? Ataukah harus membatalkan nadzar tersebut?. Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
يوفون
بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا
_“Mereka
menepati nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” _(QS.
Al Insan, 7).
وما
أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه
_“Dan
apapun yang kalian nafkahkan, dan apapun yang kalian nadzarkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya”_ (QS. Al Baqarah, 270).
Diriwayatkan
dalam shoheh Bukhori dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
“من نذر أن
يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله فلا يعصه”
_“Siapa
yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka ia wajib mentaatinya, dan barang
siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka ia tidak boleh
bermaksiat kepadaNya (dengan melaksanakan nadzarnya itu).”_
Sabda
Nabi Shallallāhu ' 'alayhi wasallam:
ﻣَﻦْ
ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄِﻴﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠْﻴُﻄِﻌْﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺼِﻴَﻪُ ﻓَﻼَ
ﻳَﻌْﺼِﻪِ
’’Barangsiapa
yang bernadzar untuk menta'ati Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka hendaknya
menta'atinya dan barang siapa yang bernadzar untuk memaksiati Allāh maka janganlah
dia memaksiatiNya".
(HR.
Al-Bukhāri)
Bernadzar
untuk selain Allāh adalah termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang
dari Islam, seperti seseorang bernadzar apabila seseorang sembuh dari penyakit
maka akan menyembelih untuk arwah nenek moyang atau berpuasa untuk untuk para penunggu tempat
kramat.
Sumber
Inpirasi
Syekh
Shoih Ibnu Fauzan Ibnu Abdullah Al-Fauzan dalam kitabnya “Mulakhos fi Syarah
Kitab At-Tauhid”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar